Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 126



Matahari mulai merangkak keluar menyinari seluruh Kota Helsinki. Orang-orang melajukan kendaraan silih berganti melewati jalanan kota itu untuk menjalankan aktifitas mereka masing-masing. Bekerja, sekolah, atau hanya sekedar berwisata menikmati keindahan bangunan khas negara Eropa itu.


Di depan gedung pencakar langit, seorang wanita cantik dengan dress maroon selutut dibalut dengan blazer berwarna navy nampak keluar dari sebuah mobil mewah. Diikuti dengan seorang pria dengan tubuh yang kekar dan wajah rupawan keluar dari mobil itu dan mendekati sang wanita.


“Aku ada rapat penting hari ini. Jadi aku tak bisa menemanimu di kantormu. Jika merindukanku, langsung datang saja ke kantorku.” Pria itu menunjuk gedung yang lebih besar di seberang jalan—kantornya.


Wanita itu mengangguk. “Iya, kau orang sibuk, bukan seperti aku. Memiliki perusahaan tapi suamiku tak memperbolehkan aku lelah mengurusinya,” sindirnya.


“Demi kesehatan bayi kita.” Tangan kekar Davis mengelus perut yang masih rata milik Diora. “Aku akan memberikan tugas pada George untuk mengurus perusahaanmu, agar dia bisa mendekati Gabby juga di sini. Aku ingin membantunya untuk mendapatkan Gabby. Kau tak masalah, kan?”


Semenjak Diora memiliki perusahaan yang bergerak dibidang arsitektur, hampir tiga minggu yang lalu. Gabby membantu sahabatnya itu untuk mengelola perusahaan. Meskipun keduanya masih berstatus mahasiswa.


Diora mengangguk, ia setuju untuk mendekatkan George dan Gabby. Ia sangat senang melihat tingkah kedua orang itu jika sedang bersama.


Davis meninggalkan mobilnya di gedung kantor Diora, ia memilih menyeberang jalan karena lebih cepat.


Diora pun mengayunkan kakinya menuju ruangannya. Di sana, ia sudah mendapatkan sambutan dari sekretarisnya—Lyana.


“Selamat pagi, nona.” Lyana menyapa dengan mengulas senyumnya.


“Pagi.” Diora pun membalas senyuman itu. “Apa Gabby sudah datang?” tanyanya.


“Tumben, biasanya dia paling rajin datang pagi.”


“Nona, tadi ada seseorang yang menitipkan sesuatu untuk anda.”


“Dari?”


“Katanya, nona Gabby yang menitipkannya untuk nona.”


Lyana mengeluarkan dua amplop yang ia terima pagi sekali dari Jo—tangan kanan Marvel yang sudah diberhentikan oleh Marvel karena Marvel benar-benar berhenti dari bisnis gelap, sehingga Marvel sudah tak membutuhkan anak buah lagi. Mengirit, karena dia akan menjadi miskin. Gabby sengaja menitipkan surat itu pada Jo sebelum pergi dari Kota Helsinki.


Diora mengambilnya dan masuk ke ruangannya untuk membacanya. Dari amplop pertama, ia sudah tahu jika itu adalah surat pengunduran diri, karena jelas tertulis di depan amplop itu.


“Mengundurkan diri? Kenapa dia tiba-tiba ingin berhenti? Apa aku berbuat kesalahan?” gumamnya. Lalu beralih membuka amplop kedua yang ia belum tahu isinya.


Diora pun membaca surat itu dengan mengeluarkan suaranya.


“Hi Diora, terima kasih sudah menjadi sahabatku selama ini. Aku senang bisa menjagamu, aku senang memiliki saudara. Kini, kau sudah ada yang menjaga dan kau juga sudah menemukan orang tua lengkapmu. Hiduplah bahagia dengan suami dan orang tuamu. Ku rasa, aku sudah tak dibutuhkan lagi. Karena kau sudah memiliki seseorang yang sempurna yang bisa menjagamu dua puluh empat jam. Jika kau sudah membaca suratku ini, artinya aku sudah tak di kota ini. Jangan bertanya aku kemana, aku hanya sedang menikmati kehidupanku saat ini. Oiya, terima kasih untuk pesta ulang tahunku semalam. Terima kasih juga kau sudah memberikanku kejutan yang sangat tak terlupakan. Ciuman pertamaku yang diambil tanpa izin oleh seorang pria. Semoga anak-anakmu lahir dengan sehat dan lucu. Maaf, aku tak bisa membantumu mengelola perusahaanmu. Dan aku juga minta maaf tak bisa menyelesaikan project untuk tugas akhir kuliah kita. Semoga kau selalu dilimpahkan kebahagiaan. Sekian, tolong jangan mengatakan pada siapapun tentang kepergianku. Aku hanya ingin semua orang yang aku sayangi hidup bahagia dan aku juga akan mencari kebahagiaanku sendiri.”