
Gabby membersihkan dirinya terlebih dahulu, sebelum ia pergi lagi. Ia memang berencana untuk ke rumah sakit tempat Diora dirawat, untuk mengambil motornya. Namun, karena Papanya menelfonnya untuk ke sana yang entah urusan penting apa yang akan disampaikan. Membuatnya menambah tujuannya.
Gabby terkejut saat membuka pintu, ada seorang pria tampan yang hendak memencet bel unitnya. “Kenapa kau di sini?” tanyanya.
Marvel, dialah yang datang. Ia sangat merindukan Gabby dan buru-buru datang setelah mendapat laporan jika Gabby sudah kembali. Sekaligus ia ingin mengingatkan tengang penyembuhannya.
“Kenapa nomormu tak bisa dihubungi?” tanya Marvel.
“Ponselku mati,” jawab Gabby. Tangannya memegang handle pintu, ia keluar dan menutupnya.
“Kau ingin keluar?” Marvel mengamati penampilan Gabby dari atas hingga bawah. Seperti biasanya, tomboi. Dan itu tak menjadi masalah untuknya.
“Ya.” Kaki Gabby mulai mengayun menuju lift.
“Kemana?” Marvel ikut mensejajarkan langkah wanita berkaki jenjang itu.
“Rumah sakit, Papaku memintaku untuk ke sana.” Tangannya mengulur memencet tombol dengan arah panah ke bawah.
Ting!
“Boleh aku ikut?” Marvel bertanya, tepat saat pintu berbahan kaca itu terbuka.
Gabby masuk ke dalam, begitu juga dengan Marvel.
“Kau membawa mobil?” Wanita itu menoleh ke lawan bicaranya, saat mengajukan pertanyaan itu.
“Ya.”
Gabby tersenyum, boleh juga jika Marvel ikut. Ia tak perlu berlama-lama menunggu taksi untuk sampai ke sana. “Oke, kita menggunakan mobilmu, karena motorku tertinggal di sana.”
...........
Matahari sudah mulai terik, Lord memang meminta Gabby datang di siang hari.
Gabby dan Marvel sampai di tujuan. Pria itu mengekor di belakang Gabby.
Klek!
Pintu ruang rawat Diora dibuka oleh Gabby. Ia yang penasaran dengan apa yang hendak disampaikan oleh Papanya, pun langsung masuk ke dalam.
Semua mata tertuju padanya.
“Kenapa kau bersama Marvel?” tanya Lord. Sesungguhnya ia takut jika Gabby begitu dekat dan lebih memilih Marvel dibandingkan dengan George. Ia sangat ingin pria bermulut sampah itu yang menjadi menantunya. Karena beberapa pertimbangan.
“Memangnya kenapa? Apa tak boleh? Bukankah dia sudah seperti anggota keluarga kita?” Gabby mencoba memasang wajah sebiasa mungkin. Ia tak ingin memperlihatkan betapa irinya dia saat ini dengan Diora yang mendapatkan perhatian lebih dari sang Papa.
“Wanita itu siapa?” bisik Marvel, ia menunjuk Natalie dengan dagunya.
Gabby menjawab dengan kedikan bahu, ia tak ingin mengatakan sebelum Papanya memberitahu padanya. Meskipun ia sudah tahu.
“Hal penting apa yang ingin Papa katakan padaku?” Gabby langsung menanyakan pada intinya. Ia ingin segera pergi dari sana, demi kesahatan hatinya.
Lord melingkarkan tangannya di pundak Natalie. Menatap wanita paruh baya yang terlihat cantik meski ada ruam di kulitnya itu.
Tatapan itu penuh cinta, membuat Gabby menghela nafasnya kasar. Sakit? Tentu saja, ia membayangkan Mamanya sedang berada di posisinya saat ini.
Lord beralih melihat Gabby, namun tak melepas rangkulannya itu.
“Perkenalkan, dia Natalie, Mama Diora. Tak perlu aku menjelaskan siapa dirinya, kau pasti sudah tahu.” Gabby menjawab dengan anggukan.
“Lalu?”
“Aku dan dia akan menikah, besok lusa di tempat yang sama dengan Diora mengucapkan janji sucinya dengan Davis.”
Disaat itu, Diora mengulum senyumnya. Mengingat hal memalukan yang pernah ia lakukan ketika menikah.
Sedangkan Gabby, ia sesungguhnya terkejut. Meskipun tahu akhirnya Papanya akan menikahi Mama Diora, tapi ia tak menyangka akan secepat itu.
“Sudah?” Gabby tetap mencoba biasa saja, dan tetap ketus.
Lord mengangguk. “Hm ... aku hanya ingin memberitahumu itu karena kau dan Diora sama-sama anakku,” ujarnya menatap penuh kasih wanita muda yang terbaring di kasur pasien.
Tatapan itu sangat berbeda jika dibandingkan ketika menatap Gabby. Ia mencengkeram ujung sofa dengan erat, rahangnya mulai mengeras. Menahan sesuatu yang memaksa untuk menghujam hatinya.
Apa Papa tak meminta izinku? Oh iya, aku lupa! Izinku tak ada artinya. gumam Gabby dalam hati. Helaan nafas lagi-lagi ia lakukan untuk menetralisir.
“Ternyata kita adalah saudara, Gab.” Diora begitu senang. Ia ingin menghambur memeluk sahabatnya sekaligus adiknya itu, namun dicegah oleh Davis.
“Sudah tahu!” sahut Gabby dengan senyum getirnya.
Marvel, pria itu hanya diam dan mengamati gerak gerik Gabby. Tanpa bertanya, ia tahu jika Gabby sedang menyembunyikan sesuatu. Bahkan, ia mengesampingkan untuk mengingatkan Gabby tentang penyembuhannya. Padahal, sebelum berangkat, ia sangat antusias. Tapi ini bukanlah saat yang tepat, mungkin nanti setelah dari tempat yang sepertinya tak nyaman untuk Gabby itu.
“Jika sudah tak ada yang ingin disampaikan lagi, aku pergi,” pamit Gabby. Ia mengajak Marvel berdiri. Dirinya tak ingin berlama-lama di sana yang akan mengakibatkan air matanya keluar lagi.
“Apa anakmu tak suka denganku? Ia sepertinya tak senang melihatku?” tanya Natalie saat kedua orang yang berpamitan tadi sudah keluar.
“Tidak, dia memang seperti itu orangnya.” Lord meyakinkan Natalie. Memberikan senyuman menenangkan untuk wanita itu.