
George membiarkan Gabby di ruang tamu. Ia tanpa permisi langsung membuka satu persatu pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Hingga ia menemukan kamar Gabby.
“Seleranya lumayan juga,” puji George setelah masuk ke dalam kamar dan melihat desain elegant milik Gabby. Ia merasa pernah melihat desain yang ada di hadapannya ini, namun lupa tepatnya dimana.
Gabby menjadikan kamarnya sebagai salah satu konten di youtubenya. Sudah satu tahun lamanya, mungkin sudah tertimbun terlalu jauh postingannya.
Mungkin George adalah salah satu subscriber channel youtube Gabby, atau mungkin secara tak sengaja pria itu pernah menonton video yang muncul di beranda aplikasi berlogo warna merah dan putih itu. Entahlah, bisa juga pria itu adalah salah satu fans ‘GARCHI’.
George segera mengambil koper milik Gabby. Ia memasukkan pakaian yang ada di almari secara asal, bahkan ia pun memasukkan dalaman milik Gabby tanpa merasa risi sedikitpun.
Setelah selesai dengan urusan pakaian, George beralih membuka setiap laci yang ada disana. Ia mencari paspor milik Gabby. Dan akhirnya ketemu, ia mendapatkan buku kecil itu di laci yang menyatu dengan ranjang.
George mengedarkan matanya, menyapu setiap sudut ruangan. Mengamati dengan seksama, menurutnya ada yang kurang dari kamar seorang wanita.
“Biasanya kamar wanita banyak foto, dasar wanita aneh dan tak biasa.” Entah George sedang memuji atau menghina Gabby setelah ia menyadari bahwa tak melihat ada foto satupun yang berada di ruangan berukuran empat puluh meter persegi itu.
Setelah selesai dengan urusannya di dalam kamar Gabby, George langsung keluar dan menutup kembali ruangan itu. Matanya menatap ke arah Gabby yang tergeletak dan tak bergerak itu.
“Kau pasti sangat anggun jika bisa diam dan menurut seperti ini,” seloroh George seraya mengayunkan kakinya menuju Gabby.
Gabby terus meronta sepanjang perjalanan, sambil mengeluarkan suara-suara yang tak jelas.
Semua mata menatap ke arah mereka. Ada yang menatap kagum dengan tubuh George, ada yang menatap iri ingin digendong oleh pria tampan juga, dan ada yang menatap dengan tatapan iba karena seorang wanita diperlakukan seperti barang.
“Jaga pandangan mata kalian! Jika masih ingin bisa melihat!” ancam George dengan tegas disepanjang jalan. Mata tajamnya tak menoleh ke kanan ataupun ke kiri, terus lurus ke depan. Namun mampu membuat semua yang mendengarnya merasa terintimidasi.
Ancaman itu berhasil membuat semua orang tak berani lagi melihat ke arahnya.
Gabby merasa terusik ketentraman batinnya oleh ketegasan George. Ditambah baru pertama kali ini ada pria yang berani melawan dirinya yang galak dan arogan, bahkan bisa mengalahkannya.
Sial! Jangan sampai aku jatuh cinta dengannya lagi! Kau harus ingat Gabby, pria ini adalah orang yang paling kau benci di dunia ini! Gabby mengingatkan dirinya, menegaskan agar tak terbuai dengan George.
George meletakkan tubuh Gabby dengan hati-hati dan memakaikan seat belt agar wanita itu tak kabur. Ia lalu memasukkan koper milik Gabby ke dalam bagasi.
George membuka kembali pintu mobil dimana Gabby berada. Ia menyuntikkan bius agar wanita itu tertidur sepanjang perjalanan dan tak menganggu dirinya. “Maaf, aku terpaksa melakukannya, jika saja kau itu wanita penurut, maka aku tak akan melakukan ini padamu.”