Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 160



Marvel mengalihkan pandangannya untuk melihat pria yang duduk di sampingnya. Keduanya saling menatap datar tanpa ekspresi. Tak tahu mengapa dada Marvel terasa bergemuruh, dia merasa ada sesuatu hal yang buruk akan dia dengar.


“Apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Marvel. Sebisa mungkin ia biasa saja tak menunjukkan kekhawatirannya jika memang benar akan ada hal buruk tentang Gabby yang akan dia dengar.


“Bisa kau lepaskan Gabby untukku?” pinta George. Ia ingin bertanggung jawab atas perbuatannya.


Marvel menatap sinis pria kaku itu. “Tidak, aku sudah berjuang demi mendapatkannya. Setelah aku mendapatkan cintaku, kau memintanya begitu saja tanpa perjuangan?” Enak saja!


“Marvel, dengarkan dulu alasannya,” perintah Lord.


Marvel merasa ada yang tak beres di sana. Lord dan George seolah sedang bersekongkol untuk memisahkan dirinya dengan Gabby. Tapi ia juga penasaran dengan alasan pria kaku itu. “Memangnya apa alasanmu memintaku untuk melepaskan Gabby, cintaku!” Ia menekankan pada kata terakhirnya, mempertegas bahwa Gabby adalah dunianya.


George lalu menceritakan semuanya, ia menceritakan kondisi Gabby saat ini yang mengurung diri di dalam kamar selama satu minggu penuh, tak mau makan, ia juga menceritakan jika Gabby terkadang mengamuk membanting barang-barang dan berteriak histeris. Ia juga mengatakan penyebab Gabby seperti itu. George mengatakan semuanya, termasuk dirinya yang sudah bersetubuh dengan Gabby.


Srak!


Bunyi gesekan kaki kursi dengan lantai semen itu menunjukkan betapa kesalnya Marvel saat ini. Ia berdiri dari kursi kayu itu.


Bugh!


Marvel menendang George tepat di dada pria itu hingga George jatuh tersungkur ke belakang. “Brengsek!”


Nafas Marvel terengah-engah setelah menghajar George dengan membabi buta, dadanya naik turun seirama dengan emosinya yang memuncak. “Apa kau tak bisa bersaing secara jantan? Kenapa harus menggunakan cara licik seperti itu? Ha!” Ia menginjak dadak George yang masih terkulai di lantai itu.


George tak membalas, ia memang salah. Jadi, tak ada hak untuknya membalas Marvel. Ia mengusap sudut bibirnya. “Aku terpaksa melakukannya. Biarkan aku mempertanggungjawabkan perbuatanku itu,” pintanya.


Masih menatap tajam pria di bawah kakinya itu. Ia sungguh ingin meludahi wajah George saat ini juga. Tangannya terkepal erat, ia sangat ingin membunuh George. Tapi dia sudah tak berkuasa lagi. Ia berada di tempat yang bukan daerahnya.


“Aku akan menyerahkan semua keputusannya pada Gabby. Biarkan dia yang memilih, antara aku atau kau.” Marvel mengangkat kakinya dari dada George. Ia berbalik menatap Lord yang hanya menonton pertikaiannya dengan George. “Izinkan aku bertemu dengan anakmu,” pintanya dengan tegas.


Lord mengajak Marvel ke kamar Gabby. George dan Davis juga ikut bersama mereka.


George berjalan dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat tendangan dan injakan Marvel.


Sampai di dalam kamar Gabby, Marvel menitikan air matanya saat melihat wanita yang ia cintai diikat kaki dan tangannya. Ia kembali menatap tiga pria yang berada di belakangnya. “Apa kalian yang mengikatnya? Kenapa kalian tega sekali!” berangnya dengan mata yang mendelik.


“Tak ada pilihan lain, kami takut dia akan menyakiti diri sendiri jika tak diikat,” ujar George.


“Keparat!” Marvel lagi-lagi melayangkan tinjunya pada George. “Gara-gara kau, dia menjadi seperti itu! Dan kau juga tega mengikatnya! Kau pikir dia gila? Ha!” Ia sungguh tak terima wanitanya diperlakukan seperti seseorang yang mengidap penyakit kejiwaan.