
“Kenapa lama sekali? Apa sekarang kemampuan Max sudah menurun?” protes Marvel saat Jo tak juga memberikan laporan atas perintah yang diberikan olehnya.
“Tunggu sebentar, tuan.” Jo memiringkan duduknya, seolah menutupi ponselnya agar Marvel tak dapat melihat isi percakapan dirinya dengan Max.
“Jo! Apa kau sedang menutupi sesuatu dariku?” Marvel yang merasa aneh dengan Jo pun memicingkan matanya.
Jo mengatupkan mulutnya, menelan salivanya untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang kering. Apa gayaku terlalu mudah terbaca? Mengapa Tuan Marvel bisa mengetahuinya? gumamnya.
“Jo!” seru Marvel sekali lagi saat ucapannya tak juga ditanggapi.
Jo segera menghentikan aktifitasnya yang tengah berkutat dengan ponsel, ia menyimpan benda pipih itu ke dalam saku jasnya. Merubah posisi duduknya menghadap ke depan lagi.
Jo berdehem sejenak. “Ya, tuan?” Ia mencoba biasa saja meskipun memang ada sesuatu yang ditutupi agar tuannya tak cemas.
“Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?” tanya Marvel penuh penekanan disetiap katanya. Nada penuh intimidasi itu membuat Jo tak ingin melihat mata tuannya. Sudah dipastikan sedang menajam.
Jo menggeleng. “Tidak ada, tuan,” jawabnya secepat mungkin.
Marvel berdecak, sungguh terlihat kebohongan anak buah sekaligus tangan kanannya itu. “Kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bohongi?” kelakarnya.
“Iya, tuan,” celetuk Jo begitu saja.
Membuat Marvel membulatkan matanya tak percaya dengan jawaban Jo. “Maksudmu, aku seperti bayi yang sukanya menangis? Oek ... oek ... oek ....” Ia menangis menirukan seorang bayi dengan jempol kanannya yang ia hisap layaknya seorang bocah itu.
Jo tak kuasa menahan tawanya, ia pun terbahak-bahak melihat tuannya yang bertingkah kekanakan itu.
“Kenapa kau tertawa?” heran Marvel yang tak sadar jika dirinya begitu menggemaskan saat menirukan bayi menangis.
“Karena kau sangat lucu, tuan,” seloroh Jo. Tangannya memegang perut yang mulai kram karena terlalu banyak tertawa.
“Apanya yang lucu? Jelas-jelas aku sedang serius, bukannya sedang melawak,” protes Marvel.
“Tapi memang lucu, tuan. Coba saja diulangi, aku akan merekamnnya agar tuan bisa melihat. Pasti tuan akan tertawa juga seperti aku.” Jo masih saja tak bisa menghentikan tawanya.
“Jika aku lucu, pasti aku tak berbisnis gelap seperti sekarang, aku sudah menjadi stand up comedian yang terkenal,” timpal Marvel.
“Jo!” seru Marvel. “Berhenti tertawa!” sentaknya.
Jo yang mendapati tuannya sudah sangat marah langsung kembali seperti semula.
“Kenapa kita malah mengobrol hal tak berguna! Aku ini sedang cemas karena Gabby!” berang Marvel setelah sadar jika belum mendapatkan kepastian di mana Gabby berada. “Berikan ponselmu!” Ia menjulurkan tangan kanannya dengan posisi menengadah.
Jo nampak menimbang-nimbang terlebih dahulu, namun tangannya sudah masuk ke dalam saku menyentuh benda pipih di dalam sana.
“Jo!” seru Marvel yang sudah tak sabar.
Jo mengeluarkan ponselnya, melihat sejenak notifikasi. Berharap Max memberikan kabar baik.
Namun, Marvel sudah terlebih dahulu merebut ponsel android keluaran perusahaan asal Korea Selatan itu.
“Apa paswordnya?” tanya Marvel saat tak bisa langsung membuka ponsel Jo.
“Apa paswordnya.”
“Jo! Aku bertanya padamu apa pasword ponselmu ini. Kenapa kau malah balik bertanya denganku?” kesal Marvel.
“Apa paswordnya, tuan,” ulang Jo.
“Jo! Mana ku tahu paswordnya, ini kan ponselmu! Kenapa kau malah bertanya lagi padaku? Jika aku bertanya padamu dan kau balik bertanya lagi padaku, lalu aku harus bertanya lagi pada siapa? Rumput yang bergoyang?” Marvel sungguh dibuat pusing dengan Jo.
“Aku tak bertanya padamu, tuan. Aku memberitahu pasword ponselku padamu. Paswordnya adalah apa paswordnya tanpa menggunakan spasi.” Jo menjelaskan dengan pelan agar tuannya mengerti maksudnya.
“Bilang dong dari tadi, aku kan tak harus pusing dengan jawabanmu itu.” Marvel pun mulai mengetikkan sesuai apa yang diucapkan Jo.
Kau saja yang kurang pintar menangkap maksudku, tuan. Jo hanya bisa mencibir dalam hatinya.
“Bisa!” Marvel mengangkat kedua sudut bibirnya ketika berhasil membuka benda pipih itu.
Sedangkan Jo sedang berdoa agar Max segera memberikan kabar baik.