
“Kau bisa mengingat ketika aku membelikan obat untuk lukamu, membawamu ke rumah sakit untuk mengobati luka kakimu, menepati janjiku untuk melamar dan menikahimu.” George menyebutkan hal-hal yang dia anggap sebagai nilai plusnya.
Gabby mengulum senyum, ingin menertawakan George yang begitu percaya diri menyebutkan hal-hal itu. “Lebih banyak mana dengan keburukanmu?”
“Aku hanya sempat menganggap janji dengan anak kecil itu angin lalu saja, masih banyak kebaikanku,” elak George.
Gabby mengejek George dengan menertawakan pria itu dengan keras. “Apa aku harus menyebutkan keburukanmu juga?” tanyanya. “Oh sepertinya memang harus, agar kau sadar. Lebih banyak burukmu daripada baikmu,” lanjutnya.
Gabby mulai menyebutkan semua hal-hal buruk George. Mulai dari George yang melupakan janjinya, mencarinya ketika sudah patah hati, melamarnya tapi tak tahu di mana posisi Gabby sesungguhnya di hati George, menculiknya dengan paksa, sengaja menjatuhkannya ketika di dalam pesawat, sengaja membuatnya terjatuh dari motor, bersikap dingin dengannya, tak mengenali dirinya ketika bertemu kembali.
“Dan, yang paling aku garis bawahi adalah, kau memintaku agar tak jatuh cinta padamu!” ujar Gabby. “Bukankah lebih banyak buruknya daripada baiknya?”
“Oke, aku minta maaf jika pernah memperlakukanmu dengan buruk. Semua itu aku lakukan karena tak ingin ada wanita yang mencintaiku lagi, karena aku sudah memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius dengan gadis kecil yang aku janjikan saat di danau, dan ternyata itu kau. Aku tak mengenalimu karena kau tumbuh menjadi wanita yang cantik, sangat berbeda denganmu ketika kecil.” George mencoba menjelaskan semuanya.
“Lalu, kau ingin menjelaskan apa tentang anggapan janji hanyalah angin lalu?” Gabby sungguh belum puas dengan penjelasan George.
Gabby ingin meyakinkan dirinya siapa yang akan dia pilih. Apakah Marvel yang jelas mencintainya, hanya saja berkecimpung dibisnis gelap. Atau George, orang yang ia nantikan dan bernasib sama dengannya. Nasib keluarganya, yang sama-sama jauh dari keharmonisan.
Berhubungan? Dalam benak Gabby, berhubungan adalah sesuatu yang mempertemukan kedua benda vital yang akan menghasilkan desahan kenikmatan.
Jadi kau sudah melakukan hal itu dengan mantanmu? Ah sial! Gabby ingin sekali menanyakan hal itu, namun mulutnya terkunci rapat. Hanya kobaran api yang memanaskan hatinya saat ini.
Berkali-kali Gabby mencoba menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya untuk menetralisir perasaannya.
“Sudahlah, aku lelah. Aku ingin tidur, jika tak ada lagi yang ingin kau sampaikan padaku, pergilah,” usir Gabby. Ia tak kuat mendengar alasan-alasan George nantinya. Meskipun semua yang diucapkan adalah kejujuran, namun hatinya tetap saja terasa sakit. Walaupun mulut berkata benci, tapi sesuatu di lubuk hatinya terus menolaknya.
“Ada satu lagi yang ingin aku jelaskan padamu.”
Gabby menaikkan sedikit dagunya seolah berkata apa pada George. Ia enggan membuka suaranya.
“Aku melarangmu untuk jatuh cinta padaku, karena aku hanya menginginkan gadis kecilku yang mencintaiku, bukan wanita lain. Aku hanya mencoba membentengi diriku agar tak menaruh rasa pada wanita lain. Karena gadis kecilku adalah kau, jadi mulai sekarang aku menarik kata-kataku itu, dan kau boleh jatuh cinta padaku.” George berharap, dengan penjelasannya itu, Gabby akan mulai melupakan keburukannya.
Apa aku yang harus jatuh cinta padamu? Lalu bagaimana dengan kau? Uhh! Lidahnya serasa kelu untuk mengucapkannya. Berasa ia begitu haus akan cinta jika mengutarakannya, dan berakhirlah hanya gumaman di dalam hatinya.