Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 128



George tak memperdulikan Diora yang histeris, ia justru khawatir dengan keadaan Gabby. Jika wanita itu sampai memutuskan untuk pergi, berarti ia sudah sangat lelah menghadapi kehidupannya di sini. Ia khawatir jika terjadi hal buruk dengan wanita yang diam-diam sudah bersemayam di dalam hatinya itu.


“Lord! Semua salahmu!” gumam George penuh penekanan. Ia teringat sudah tiga kali melihat Gabby menangis karena pak tua itu.


Saat Gabby menangis karena dikecewakan oleh orang yang ia sayang, yang ia kira tak akan pernah mengecewakannya seperti George. Namun, ternyata salah. Justru orang-orang terdekatnyalah yang membuatnya sangat sedih dan kecewa. Yang membuatnya seolah terasingkan. Ya, awalnya Gabby merasa tak membutuhkan seorang pria dan merasa cukup dengan Papa serta sahabatnya—Diora, ia sudah beranggapan tak akan dikecewakan atau tersakiti oleh mereka, karena mereka adalah keluarganya. Tapi tidak, ternyata dia salah. Justru lukanya lebih besar daripada dikecewakan akan janji George yang terlupakan.


George mengeluarkan ponselnya, ia mengecek GPS dari alat pelacak yang sudah ia pasang pada ponsel baru Gabby yang kemarin ia belikan.


“Dia masih di apartemen?” George mengernyit heran. Namun ia melangkah keluar meninggalkan ruangan Diora. Ia ingin memastikan apakah Gabby sungguh masih di sana atau tidak.


Mobilnya melaju dengan kencang tak memperdulikan keselamatannya ataupun pengendara lain. Ia hanya ingin mencari Gabby dan menghiburnya agar tak menangis seperti biasanya, dan juga tak melakukan hal nekat menceburkan dirinya ke laut lagi.


Berkali-kali George membunyikan bel apartemen itu, tapi tak juga dibuka. Ia pun mendobrak paksa pintu itu, bahkan tubuhnya yang sakit karena menghantam pintu kayu kokoh itu pun tak ia perdulikan.


Gelap, apartemen itu seolah tak ada penghuninya.


“Apa dia sungguh pergi?” George mengacak-acak rambutnya.


Ia menghidupkan lampu dan segera mencari disetiap sudut ruangan, kecuali ruangan rahasia milik Gabby yang tersembunyi.


George melihat papperbag yang ia berikan pada Gabby, tergeletak di atas meja. Ia membuka papperbag itu dan mengambil box ponsel hadiahnya. Ia membukanya.


George meletakkan kembali kardus itu ke tempat semula. Ia tak ingin membawanya, sebab untuk berjaga-jaga jika Gabby kembali dan mungkin mengambil barang itu. Hanya itu yang mempermudahkannya untuk bertemu Gabby.


“Lord! Aku harus memberikannya pelajaran karena sudah membuat Gabby menangis!”


George sangat geram saat wajah Gabby yang berurai air mata terlintas diingatannya. Bahkan ia yakin jika saat ini Gabby sedang bersedih juga, namun tak tahu di mana wanita itu berada.


George kembali melajukan mobilnya menuju kartel Lord. Membanting pintu mobilnya sangat keras saat dirinya sampai di tujuannya.


Dadanya sudah naik turun karena wajah Gabby yang tengah menangis terus saja terbayang dibenaknya.


“Di mana Lord?” tanyanya pada anak buah Cosa Nostra.


“Rooftop, tuan.”


George tak menanggapinya lagi, bahkan berkata terima kasih pun tidak. Ia langsung menuju bagian tertinggi bangunan itu.


Rahangnya semakin mengeras, tangannya terkepal erat, bahkan nafasnya semakin memburu saat dirinya melihat Lord tengah bermesraan dengan Natalie di sana. Sedang menikmati udara segar dengan pepohonan tinggi yang menari seirama dengan hembusan angin. Ia sungguh emosi melihat Lord yang bahagia tanpa beban.


“Bisa kau tinggalkan aku berdua dengan Lord?” Suaranya menggelegar meminta agar Natalie pergi dari sana.