Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 131



George memberikan perintah pada Lord untuk mengerahkan Cosa Nostra mencari Gabby. Setelah mendengar jika Gabby pernah berbuat nekat hingga menyelam tanpa bantuan oksigen karena dirinya, Lord langsung merasa bersalah. Pak tua itu tak langsung kembali ke kamarnya untuk menemui istrinya. Ia memilih ikut bersama George untuk mencari Gabby.


Lord sama khawatirnya dengan George yang takut jika kejadian yang baru saja diceritakan oleh George akan terulang lagi.


George mengajak Lord untuk ke apartemennya. Bahkan Lord sampai lupa tak berpamitan dengan Natalie karena ingin segera menemukan Gabby.


“Aku akan mencoba melihat CCTV di sekitar apatemennya, mungkin kita akan menemukan jejaknya,” ujar George saat dia sudah siap dengan komputer canggihnya.


George mengutak atik komputernya. Matanya sangat fokus. Sedangkan Lord berdiri di belakang pria kaku itu, melihat ke arah monitor.


“Shit! Tak ada rekaman CCTV setelah Gabby masuk ke apartemennya.” George frustasi. “Sepertinya, ada orang yang membantunya pergi. Atau, anakmu memiliki bakat untuk meretas?”


“Tidak, aku tak pernah mengajarinya untuk meretas. Coba kau cari lagi di CCTV sepanjang jalan.”


George mengutak atik komputernya lagi, hampir seluruh CCTV di Kota Helsinki ia retas untuk sekedar melihat rekamannya. Bahkan, kedua pria itu sampai lupa jika waktu sudah bergulir hingga dini hari. Tetap saja tak mendapatkan petunjuk.


“Aku yakin, pasti ada orang yang membantunya,” ujar George.


George dan Lord saling berpandangan seolah ada nama yang sama terlintas di benak mereka. “Marvel.” Keduanya berucap bersamaan.


“Marvel memiliki Max, dia adalah anak dari hacker kepercayaan orang tua Marvel. Kemampuan orang tuanya menurun kepadanya,” jelas Lord.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka berdua pergi ke kediaman Marvel. Seolah tak ingin menunggu matahari terbit.


“Kita ke gudangnya, mungkin dia di sana,” cetus Lord.


George mengangguk, mereka kembali membelah jalanan Kota Helsinki menuju sebuah desa yang sangat jauh dari kota, di mana gudang narkoba milik Marvel berada. Lord mengetahuinya, karena ia sudah lama mengenal Marvel.


“Sepi, sepertinya tak ada orang,” ujar George setelah mengamati kondisi satu-satunya bangunan yang terlihat seperti tempat peternakan sapi itu. Bahkan ada sapi juga di sana.


Lord dan George mengacak-acak rambut mereka bersamaan.


“Mungkin, Marvel membawanya pergi?” tebak George.


“Aku akan mencoba menghubunginya.” Lord mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi nomor Marvel. Berulang kali ia mencoba menelfon nomor itu, tapi tetap tak tersambung. “Nomornya tak aktif, aku akan mencoba menghubungi Gabby.”


“Sampai mati pun kau tak akan bisa menghubungi nomor anakmu itu, dia mengganti ponsel beserta nomornya.”


Lord dan George kembali lagi ke mobil milik George. Mereka belum istirahat sama sekali. Lord terlihat gelisah.


“Kenapa kau tak bisa diam!” seru George.


“Bagaimana aku bisa diam? Jika Gabby benar pergi dengan Marvel, akan gawat urusannya. Kau tahu? Marvel itu bandar dari segala bandar. Dia mafianya, semua bandar ada di bawah perintahnya. Termasuk Sanchez yang Davis jebloskan ke penjara itu. Gabby akan terlibat dalam masalah jika dia pergi bersama Marvel. Satu saja Sanchez mengatakan nama sindikat yang terlibat dengannya, maka akan terusut. Dan aku tak ingin Gabby ikut tertarik ke dalam masalah Marvel.”