
Di luar sana, sang surya telah bersinar tepat berada di tengah. Artinya hari sudah sangat siang.
Seharusnya, semua insan sudah bergelut dengan aktifitasnya masing-masing sedari matahari terbit. Ada yang bekerja, ada juga yang melanjutkan wisatanya.
Namun tidak dengan dua orang yang berada di dalam kamar villa nomor seratus satu itu.
Kedua orang itu seolah menikmati tidur mereka yang tak sengaja bersama. Tak sadar jika mereka saling menghangatkan satu sama lain.
Hingga bunyi ponsel menggema di ruangan itu mengusik keduanya.
“What the hell! Apa yang kau lakukan di kamarku?” bentak Gabby.
Saat mata wanita itu terbuka, langsung mendapati dirinya yang begitu dekat bahkan tak berjarak dengan George, kedua tangan mereka masih saling melingkar pada tubuh satu sama lain. Reflek, dia langsung mendorong tubuh kekar George untuk menjauh. Ia pun bangkit dan duduk menatap tajam pria yang seolah biasa saja dengan kejadian ini.
Beruntung pakaian Gabby masih lengkap, jelas terlihat karena mereka tak menggunakan selimut sebagai penghalang dingin agar tak menelusup kulit.
George duduk dan membalas tatapan tajam Gabby dengan lebih tajam lagi. “Kamarmu? Apa matamu buta? Jelas-jelas ini kamarku!”
Gabby mengedarkan pandangan matanya. Ini benar kamarnya, sial! Kenapa aku bisa tidur begitu saja di sini.
Ada sedikit rasa malu pada diri Gabby karena ia sudah salah menuding. Tapi bukan Gabby namanya jika mengalah begitu saja dengan pria sedingin George.
“Semua ini salahmu! Kau yang membuatku kelelahan. Jadi, jangan salahkan aku jika ketiduran di kamarmu!” elak Gabby.
“Oh ya? Bukan kau sengaja tidur di sampingku untuk mencari-cari kesempatan dengan pria tampan sepertiku?” Cih! Ingin sekali Gabby meludah mendengarnya.
Duar!
Suara petir terdengar jelas di ruangan itu. Aku hanya bercanda dewa, jangan kutuk aku sungguhan. Gabby sudah sedikit khawatir jika akan mendapatkan kesialan karena ucapannya yang tak disaring itu.
“Halo?” George mengangkat panggilan telefon.
Ternyata bunyi ponsel pria dingin itu! Gabby mengelus dadanya lega. Ia fikir semesta sungguh marah padanya.
Setelah menyelesaikan panggilannya dengan Davis yang memberitahukan bahwa Diora sudah siuman dan mengajak untuk jalan-jalan, George melanjutkan lagi perdebatannya dengan Gabby.
George dan Gabby saling duduk bersila berhadapan dengan keangkuhan mereka masing-masing.
“Kau bilang tidur denganku kesialan?”
“Ya! Memang sial, apa lagi bertemu denganmu itu adalah kesialan yang sangat aku sesali seumur hidupku!”
George menyunggingkan senyum sinisnya. “Jika kau merasa sial, kenapa kau begitu menikmati dan tidur sangat nyenyak hingga terik matahari?” Ia memperlihatkan jam pada layar ponselnya ke arah Gabby. “Lihat, jam berapa sekarang!”
Dua belas lebih tiga puluh menit. What? Bagaimana bisa aku tidur senyenyak itu tanpa meminum obat tidurku? Heran Gabby. Padahal dirinya harus mengkonsumsi pil itu tiap kali ingin berselancar ke alam mimpi.
“Heh! Kau juga menikmatinya kan? Buktinya kau pun tak terbangun!” balas Gabby membalikkan keadaan. Enak saja hanya dirinya yang dianggap menikmati moment semalam.
Tak bisa mengelak, George memang menikmatinya. Apa lagi ia yang merasakan betapa nyamannya tidur seperti semalam, bahkan ia yang sengaja melingkarkan tangan mereka satu sama lain karena dorongan nalurinya yang entah darimana asalnya.