Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 44



“Jaga matamu, aku malas ribut dengan wanitamu jika nantinya kau sungguh jatuh cinta padaku!” sentak Gabby dengan tatapan tajamnya menusuk kedua mata yang masih memandangnya.


“Cih! Percaya diri sekali kau jika aku akan jatuh cinta denganmu hanya karena memandangmu!” sahut George tak mau kalah berdebat dengan wanita angkuh satu itu.


“Oh ya? Kita buktikan saja nanti, dan disaat itu terjadi, kau harus mengingat baik-baik bahwa kau adalah orang yang paling aku benci di dunia ini!” tegas Gabby.


“Aku akan mengingat baik-baik apa yang kau ucapkan itu!”


“Bagus!”


“Kalian ini sesungguhnya ada cinta yang tersirat jika ku lihat dari cara memandang satu sama lain, hanya saja kalian berdua sangat angkuh untuk mengakuinya,” celetuk Sophie. Ia langsung menutup mulutnya setelah mengatakan hal itu. Entah keberanian darimana dirinya mengangkat suara pada singa betina dan singa jantan itu. Karena ia sangat gemas dengan kelakuan George dan Gabby hingga mulutnya tanpa sadar mengatakan apa yang ia nilai.


“Jaga bicaramu!” sentak George dan Gabby bersamaan. Keduanya saling memberikan tatapan tajam pada Sophie.


Sophie menundukkan kepalanya, nyalinya tak cukup banyak untuk menghadapi dua manusia dengan sorot mata yang sama-sama ingin menelan dirinya hidup-hidup.


Mendapati suasana meja makan yang memanas, Diora menendang kaki suaminya yang berada di hadapannya untuk membantu melerai pertikaian itu, karena ia tahu jika Gabby tak akan mudah redup emosinya ketika sudah tersulut. Namun ternyata, bukan kaki Davis yang ditendang oleh Diora, melainkan kaki George yang kakinya berdekatan dengan Davis.


“Ku patahkan kakimu jika kau menendangku sekali lagi,” ancam George pada Gabby.


“Siapa yang menendangmu? Kau benar-benar ingin mengajakku ribut, ya? Lebih baik kita baku hantam saja daripada kau menuduhku yang tidak-tidak!” Gabby menggulung lengan kemejanya yang berukuran besar, siap untuk baku hantam dengan George.


“Diam! Ku seret kalian ke gereja dan ku nikahkan kalian sekarang juga jika masih ribut!” Davis yang sudah mulai lapar dan jengah dengan perdebatan sepasang insan yang tak pernah akur itu pun melayangkan ancaman yang tak pernah main-main.


Srak!


Gabby tak menanggapi bisikan Diora, ia menarik piring dengan kasar hingga menimbulkan bunyi. Ia pun hendak mengambil makanan, namun terhenti ketika seseorang menegurnya.


“Kau datang terakhir main ambil makanan duluan, antri!” bentak George, orang yang membuat Gabby mengurungkan niatnya untuk makan.


Tuk!


Gabby meletakkan piringnya kembali dan menelungkupkannya seperti semula.


Srak!


Bunyi kursi bergeser terdengar keras karena Gabby sengaja berdiri dan mendorong kursinya ke belakang.


“Kalian lanjutkan saja makannya, aku sudah tak napsu makan di sini jika ada pria bermulut sampah itu.” Gabby menunjuk George dengan telunjuknya. “Permisi,” pamitnya. Ia pun pergi meninggalkan empat orang yang menatap tanpa berani membuka suara. Gabby berencana akan memesan room service saja untuk sarapan. Dia juga manusia biasa yang butuh asupan nutrisi, apa lagi dirinya tak ingin kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi ketika ia tak makan satu hari penuh membuatnya hingga pingsan.


“Gara-gara kau, Gabby jadi marah dan tak mau makan bersama! Lagi pula yang menendangmu itu aku bukan dia, salahmu sendiri kakimu berdekatan dengan kaki suamiku!” Diora menyalahkan George sebagai penyebab kekacauan makan bersama yang dia harapkan. Alasannya sangat ingin makan bersama karena ingin merayakan kesembuhan fobianya, kini hancur sudah.


George tak menanggapi, dia hanya mengedikkan bahunya acuh, namun matanya masih menatap punggung Gabby yang terus menjauh. Satu yang ia tangkap, jika Gabby orang yang tak bisa disinggung sedikitpun.


Termasuk saat ini, Gabby yang tersinggung dengan tuduhan George serta nada bicara George yang membentak dirinya ketika mengingatkan untuk antri mengambil makanan, hingga berujung ia tak memperdulikan jika keempat orang itu sudah menunggunya lama hanya untuk makan bersama. Karena ia sudah sangat malas berada di dekat George yang berujung pertikaian tanpa akhir. Padahal menegur bisa dengan cara yang halus tanpa membentak.