Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 76



George memilih menunggu Gabby di dalam mobil. Mungkin wanita itu sedang ke toilet karena ingin membuang hajat, atau mungkin kembali ke ruang rawat mengambil barang yang bisa jadi tertinggal.


“Kemana perginya wanita itu?” gumam George. Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah sepuluh menit, namun tak ada batang hidung Gabby yang terlihat.


Mata George terus melihat ke arah luar, menyapu dari satu sisi ke sisi lainnya. Hingga ia melihat sebuah mobil yang mencurigakan terparkir tak jauh dari mobilnya berada.


George tak langsung keluar, ia memastikan terlebih dahulu siapa yang ada di dalam kendaraan itu. Ia mengingat mobil itu. “Bukankah itu mobil yang setiap hari mengikutiku?”


George memukul setir kemudi, ia yakin jika tengah di mata-matai oleh seseorang. Ia hendak keluar untuk menghampiri mobil yang mencurigakan baginya itu.


Namun, saat ia sudah memegang door lock. Pintu di sampingnya terbuka. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar, sebab orang yang ia tunggu sudah masuk ke dalam mobil dengan menenteng sebuah papperbag kecil. Pandangan mata yang tadinya mengarah ke luar, kini teralihkan pada sosok wanita cantik yang duduk di sampingnya.


“Kau darimana saja? Kenapa tak bilang padaku jika ingin membeli sesuatu? Aku kan bisa mengantarkanmu,” cecar George. “Apa yang kau beli?” Belum juga Gabby menjawab rentetan pertanyaan darinya, ia sudah menanyakan dengan menunjuk sesuatu yang berada di pangkuan Gabby.


“Ternyata kau itu cerewet ya!” Bukannya menjawab, Gabby malah sedikit menghina.


Gabby merasa aneh jika George terlihat khawatir dengannya, apa lagi banyak bicara seperti itu. Lebih baik ia menghadapi George yang dingin dan kasar padanya daripada saat ini. Karena ia bingung harus memperlakukan George seperti apa.


“Siapa yang cerewet? Aku hanya bertanya,” kilah George. Pandangan matanya masih penasaran dengan sesuatu yang Gabby beli. “Kau membeli obat?” Ia tahu dari logo yang ada di papperbag itu, logo rumah sakit. Ia langsung menduga bahwa di dalamnya berisi obat-obatan.


Gabby menghembuskan nafasnya. Ia tak menjawab, matanya beralih melihat tangan George yang berada di atas stir mobil. Darah sudah mulai mengering.


“Tanganmu!” Ia menunjuk luka George.


George melihat arah jari Gabby. “Biarkan saja, hanya luka kecil.”


Gabby menghirup oksigen sejenak. Lalu ia meraih tangan George yang terluka.


Gabby berdecak, ia tak menanggapi. Hanya putaran bola matanya yang menjawab godaan itu. Ia mengeluarkan antiseptik dan kapas untuk membersihkan luka. Membuka botol berisi cairan itu dan menuangkannya untuk membasahi kapas. Dengan perlahan, Gabby mengusap darah yang sudah kering.


George tentu saja menerimanya. Ia memandangi Gabby yang terlihat sangat telaten. Tangannya kini mulai diperban oleh Gabby. Itu sangat berlebihan baginya, luka sekecil itu harus diperban. Namun ia membiarkannya, ia tak berkomentar.


“Ternyata kau sangat perhatian denganku, kenapa kau tak menerima lamaranku saja?” cicit George ketika Gabby selesai mengutak atik lukanya.


Gabby berdecih, “siapa yang memperhatikanmu? Aku hanya membalas perbuatanmu ketika di Bali!” kilahnya menggunakan alasan saat George membelikannya obat untuk luka beberapa saat lalu.


“Oh ya? Tapi kau terlihat sangat telaten mengobati lukaku. Sedangkan saat itu, aku menyuruhmu membersihkannya sendiri.” George masih saja belum puas, ia terus menggoda Gabby.


“He! Kau pikir aku ini tak memiliki hati nurani? Melihat orang lain terluka, hanya membiarkannya saja tanpa berbuat sesuatu!” Gabby berdalih, ia memasang wajah galaknya.


Gabby sungguh tak mengerti mengapa ia bisa memiliki pikiran untuk ke apotik membeli obat luka luar. Saat ia melihat luka George, rasanya ingin mengobati. Ah! Gabby merutuki dirinya, kini ia menjadi bahan godaan George.


...........


Baaf lahir bathin ya semuanya 🙏🏻


Kemarin ga up, soalnya sibuk lebaran dari pagi sampe malem jadinya ga sempet buat nulis. Maaf ya, jika aku punya banyak salah sama kalian.


Ini aku sempetin update meskipun sedikit. Hari ini masih mau lebaran juga ke tempat nenek.


Selamat makan ketupat, opor, rendang, dan makan-makanan enak lainnya, ya.


Nanti kalo sempet buat ngetik lagi, aku up lagi. Kalau ga sempet, maaf ya 🙏🏻