Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 87



“Hanya Mark, tuan. Jack masih bersih,” jawab Jo.


“Oke, kurung Mark selama dua minggu, dan jangan biarkan dia memakai barang itu. Biarkan Jack mengurus Mark sampai hukuman mereka selesai,” titah Tuan Marvel.


Mark langsung menundukkan kepalanya lemas. Ia harus merasakan sakaw yang sangat menyiksanya. Ingin menolak dan meminta hukuman lainnya, tapi apalah daya. Ia hanya seorang anak buah yang harus menurut dengan tuannya.


“Baik, tuan.” Jo menganggukkan kepalanya. Ia langsung menjalankan tugasnya.


“Jo, langsung kembali ke ruanganku setelah selasai!” titah Tuan Marvel sebelum meninggalkan gudang.


...........


Kursi kerja yang sangat nyaman itu berputar terus menerus. Meskipun nyaman, tapi tak membuat pria yang tengah duduk di sana menjadi nyaman. Ia masih saja berusaha menelfon nomor wanita yang ia cintai berulang kali. Padahal sudah jelas tak tersambung. Artinya, ponselnya mati.


Klek!


Pintu terbuka, Jo baru saja datang dari ruang bawah tanah tempat hukuman Mark dan Jack.


Belum sempat Jo mengucapkan sepatah kata ataupun menghempaskan tubuhnya di sofa, Tuan Marvel sudah menyambar jaket kulit. Artinya, tuannya ingin keluar.


“Anda ingin kemana, tuan?” tanya Jo.


“Apartemen George! Aku tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk dengan Gabby.” Marvel sudah menggebu-gebu. Namun, Jo menghalangi agar tuannya tak keluar.


“Tenanglah, tuan. Tidak akan terjadi sesuatu dengan Nona Gabby. Tuan bisa meminta Max untuk meretas cctv Tuan George untuk memastikan keadaan Nona Gabby. Tuan tidak boleh gegabah.” Jo mencoba memberikan ide, agar tuannya tak menemui George. Ia takut akan terjadi pertengkaran yang hebat nantinya. Ia juga takut jika Nona Gabby akan memilih George daripada Marvel. Ia tak ingin tuannya sakit hati.


“Baiklah, berikan perintah pada Max sekarang juga! Lima menit waktu dariku,” titah Marvel. Ia kembali duduk di tempatnya semula untuk menunggu.


Jo segera keluar lagi untuk melaksanakan tugasnya yang kesekian kalinya.


...........


“Ini, tuan.” Jo meletakkan MacBook ke atas meja.


Memperlihatkan video dimana Gabby tengah tertidur pulas di sofa.


“Pria itu tak ada di dalam selimut yang Gabby pakai, kan?” Marvel ingin memastikan dengan bertanya pada Jo.


“Tidak, tuan.”


Marvel dapat bernafas lega. “Lalu, di mana dia?”


“Tidur di lantai, tuan.” Jo menunjuk sebuah kaki yang terlihat di balik meja ruang tamu di sana. Tersadar dengan jawabannya. Ia langsung menarik tangan dan memukul mulutnya sendiri. Ia merutuki dirinya yang terlalu cepat menjawab tanpa berpikir apa akibatnya.


“Jo! Ayo kita ke sana!” Marvel bangkit dari singgahsananya. Ia sudah tak bisa sabar.


Jo langsung memutar otaknya untuk berpikir agar tuannya tak akan ke apartemen George.


“Tuan, bukankah lebih baik tuan tetap di sini? Jika tuan menemui mereka, maka mereka akan tahu jika tuan memata-matai mereka. Dan tuan tahu sendiri jika Nona Gabby tak suka dimata-matai.”


Ucapan Jo berhasil menghentikan langkah kaki Marvel yang sudah siap di depan pintu untuk segera keluar. Marvel berbalik ke arah Jo.


“Kau benar, Jo. Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka?” Rasa khawatir Marvel begitu berlebihan.


“Tenanglah, tuan. Tuan harus percaya dengan Nona Gabby. Dia wanita yang bisa menjaga dirinya, jika pria itu membahayakan, pasti Nona Gabby tak akan mau menginap di sana.”


Marvel menghempaskan dirinya di sofa. Alas kakinya menghentak-hentak lantai. “Aku percaya dengannya, tapi pria itu sulit untuk dipercaya.” Bibir bawahnya menjadi sasaran gigitan atas kekhawatirannya.


Jo menghela nafasnya, ia beranjak menuju laci meja. Mengambil sesuatu di sana beserta air minum.


“Minumlah, tuan. Kau harus istirahat. Hari ini tuan ada janji dengan Nona Gabby untuk berkonsultasi terkait rehabilitasi tuan. Tuan bisa menanyakan kepada Nona Gabby mengapa bisa menginap di sana.” Jo berucap seraya memberikan yang ada di tangannya kepada tuannya.


Marvel menerima obat penenangnya, dan segera meminumnya.


Jo meraih gelas yang sudah habis. “Tuan tak perlu khawatir. Jika tuan membuktikan kepada Nona Gabby, kesungguhan tuan untuk berhenti. Pasti Nona Gabby akan memilih tuan.” Ia mencoba menenangkan dan meyakinkan.


“Kau benar, Jo. Aku akan membuktikan pada Gabby, jika aku sungguh-sungguh ingin berubah untuknya.” Tekad Marvel begitu yakin.