
Marvel sudah berada di gedung apartemen di mana George tinggal, sejak ia menelfon Gabby. Ia mengikuti kepergian Gabby ke rumah sakit dan kembali lagi ke gedung dengan ketinggian dua puluh lantai itu.
Marvel sengaja tak langsung turun menghampiri Gabby. Ia kira, setelah dari rumah sakit, Gabby akan langsung pulang. Ternyata tidak.
Hatinya sudah sangat terbakar, hingga ia memberanikan diri untuk keluar mobil menghampiri Gabby dan George. Masa bodoh jika Gabby tahu dirinya memata-matai. Hatinya sudah tak bisa dikendalikan.
“Apa rumah sakit yang kau maksud pindah ke apartemen?” tanya Marvel dengan nafas yang memburu.
Membuat Gabby dan George berbalik menatap Marvel.
Gabby begitu terkejut dengan kedatangan Marvel yang tiba-tiba. “Kenapa kau di sini?”
Marvel mengabaikan pertanyaan Gabby. Ia semakin mendekatkan diri. “Apa urusan pentingmu itu dengan pria ini? Sepenting apa hingga kau mengulur waktu untuk menemaniku?” Ia melirik George yang menatapnya datar.
“Kunci motorku hilang, dan dia hanya ingin membantuku mencarinya,” jelas Gabby.
“Dengan tidur di apartemennya?” selidik Marvel memicingkan matanya.
Gabby menghadap ke arah Marvel, keduanya saling berpandangan. Tatapan teduh namun penuh amarah terlihat jelas dari sorot pria itu. “Bagaimana kau tahu?”
Marvel menaikkan kedua alisnya hingga tercetak kerutan di dahinya. “Jika kunci motormu hilang, dan motormu ada di sana.” Ia menunjuk kendaraan yang masih dijaga oleh pria berpakaian serba hitam. “Artinya, kau tak bisa pulang dari tempat ini.” Ia mencoba mencari alasan.
Gabby tak percaya begitu saja, ia menaruh curiga dengan Marvel. “Kau memata-mataiku? Kau bisa tahu aku berada di sini, padahal aku tak memberitahumu,” tanyanya.
“Apa kalian sudah selesai berdebatnya? Aku tak ada waktu untuk mendengarkan kalian mengobrol, aku harus bekerja karena aku bukan pengangguran,” sela George yang sudah mulai jenuh.
“Kau mengataiku pengangguran?” Marvel merasa tersindir.
George menjawab dengan kedikan bahu.
“Pergilah jika kau sibuk, aku tak memintamu untuk membantuku!” usir Gabby.
George melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia harus segera menghadiri rapat di perusahaan. “Oke, aku pergi. Kau bisa meminta bantuan pria itu untuk membantumu.” Ia menunjuk Marvel dengan dagunya, lalu beranjak pergi ke mobilnya.
Gabby menatap kesal kepergian George, dan Marvel tak suka itu. Ia melihat tatapan kecewa di mata Gabby.
“Apa kau menyukainya? Menyukai pria seperti itu? Pria tak berperasaan?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Marvel.
Gabby beralih ke Marvel, ia ingin menjawab. Namun Marvel sudah memotongnya.
“Jangan kau jawab.” Telunjuk Marvel menyentuh bibir Gabby, memberikan isyarat agar diam. “Bukalah hatimu, bukalah pikiranmu. Aku tahu sebenarnya kau menolakku sedari dulu karena pria itu. Tapi, apa kau tak bisa melihat ke arahku sedikit saja? Apa yang kau lihat dari pria itu? Cinta? Tidak, kan? Pria itu tak terlihat mencintaimu, akulah yang mencintaimu. Tak bisakah kau melihat ketulusanku?” cecarnya. Bahkan matanya mengeluarkan cairan bening ketik mengucapkannya. Begitu tulus semua yang terlontar dari mulutnya.
Tangan Gabby terulur menyentuh wajah Marvel. Perlahan ia mengusap air mata yang keluar tanpa permisi itu. Ia merasa begitu jahat dengan Marvel. Ia terlalu menyukai seseorang dengan latar belakang keluarga yang sama-sama tak harmonis sepertinya.