Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 137



“Karena aku ingin, memangnya harus ada alasan jika mengkhawatirkan seseorang?” jawab George menatap punggung Gabby yang terlihat tenang.


Padahal, ada pipi yang basah di baliknya. “Ya, kau benar. Memang tak harus ada alasan bagimu. Sama halnya dengan kau yang rela mencariku demi menolong Diora yang butuh pendonor darah. Kau juga pasti mengkhawatirkannya.” Hatinya seolah berdenyut nyeri, semua orang sangat perhatian dengan Diora.


“Dia istri sahabatku, sudah semestinya aku membantunya.”


“Lalu aku?”


“Kau gadis kecilku yang aku janjikan padamu, sudah semestinya aku menepati janjiku.”


Menghirup perlahan oksigen disekitarnya, sebisa mungkin agar punggungnya tak terlihat bergerak. Lalu mengeluarkannya perlahan seiring cairan bening yang keluar dari matanya.


Karena janji lagi. Apa tak ada alasan lain selain itu? Gabby hanya bisa berdialog dalam hatinya.


“Lupakan saja janji itu, aku sudah tak perduli lagi. Tak ada gunanya juga kau mengingatnya. Aku pergi dulu.”


Gabby mulai mengangkat kakinya, dan mengayunkannya meninggalkan George. Bahkan coklat panas yang sudah menjadi dingin itu pun tak ia sentuh sama sekali. Masih utuh. Setelah dirasa jauh, ia menyeka air matanya.


George menatap kepergian Gabby hingga punggung wanita itu tak terlihat lagi.


“Apa aku salah jika ingin menepati janjiku? Bukankah janji memang harus ditepati? Mengapa dia justru seolah tak suka? Bukankah harusnya ia senang karena aku sudah tak melupakan janjiku lagi?” gumam George sendirian.


George merasakan kebingungan yang luar biasa menghadapi Gabby. “Bahkan Catherine tak pernah membingungkan seperti ini. Hanya membuatku kecewa saja karena penghianatannya.”


Jelas saja mantan kekasih George tak pernah membingungkan. Yang dicari bukan kata cinta ataupun pembuktian cinta seperti Gabby, namun harta. Saat mendapatkan yang lebih dari George, maka hempas dan lepaskan. Hidup bersama seorang asisten yang selalu siaga di samping bosnya? Oh tidak! Mau dikata apa oleh teman-teman sosialitanya. Bahkan tak pernah menghangatkan ranjangnya. Catherine wanita dewasa yang membutuhkan penyaluran hasrat. Sedangkan George, ia bukan pria yang senang menjamah, meskipun itu kekasihnya.


Cangkir di hadapan George pecah dan berserakan, mengingat penghianatan mantan kekasihnya membuatnya sangat geram. Meskipun sudah satu tahun mereka berpisah, tapi saat mengingat malam panas yang ia lihat malam itu, tetap membuatnya memuncak emosinya. Tangannya terkepal erat dengan rahangnya yang mengeras.


“Kenapa harus dengan pria itu!” geram George mengingat betul wajah pria penghangat ranjang Catherine.


...........


Marvel tak tenang membiarkan Gabby pergi sendirian. Ia diam-diam membuntuti Gabby, tanpa wanita itu ketahui. Bahkan Marvel juga melihat saat Gabby duduk berhadapan di cafe. Ia tak tahu apa yang dibicarakan keduanya. Ia hanya memantau dari jauh.


Semenjak memutuskan berhenti dari obat terlarang, Marvel menjadi pribadi yang tak percaya diri, tak seperti dulu.


Ada rasa takut yang mendalam menyelimuti Marvel. Takut jika George akan merebut Gabby.


Marvel buru-buru melajukan mobilnya saat Gabby terlihat pergi meninggalkan George. Ia ingin Gabby melihatnya saat sampai ke apartemen.


Tanpa mengganti bajunya, ia masih menggunakan pakaian rapi berkemeja. Marvel berkutat di dapur untuk memasak seadanya. Ia ingin menyambut Gabby saat pulang dengan masakannya. Marvel tahu betul jika Gabby tak bisa memasak. Bahkan memasak air pun belum pernah.


Marvel tahu jika Gabby selalu saja hidupnya di depan MacBook untuk mendesain. Ia sangat tahu banyak tentang Gabby.


“Semoga kau tak akan meninggalkanku,” harap Marvel.


Marvel akan berusaha sebaik mungkin memberikan kenyamanan untuk Gabby. Mengucapkan dan memberikan limpahan cinta yang tak terhingga.