Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 40



“Apa maksudmu dengan pria yang ingkar janji?” tanya George, matanya menatap Gabby dengan rasa penasarannya.


“Kau fikirkan saja sendiri, aku yakin kau itu tidak bodoh, atau mungkin hanya berpura-pura bodoh,” jawab Gabby. Ia tak mau mengatakan yang sebenarnya, biarkan George memikirkan dan mencaritahu sendiri. “Tolong jangan mengusik hidupku lagi, aku ingin hidupku tenang mulai sekarang!” tegasnya.


Gabby pun mengayunkan kakinya menjauhi George, membiarkan pria itu menerka-nerka dengan apa yang dikatakan olehnya.


George akhirnya ikut berjalan di belakang Gabby. Ia hanya bisa diam tak mengajak bicara Gabby lagi. Ia masih terus berfikir dengan otaknya. Matanya tertuju pada punggung Gabby yang mengusik fikiran kotornya.


“Kalian darimana?” tanya Diora ketika Gabby dan George sudah ikut bergabung bersamanya. Ia sedari tadi ingin mencari keberadaan sahabatnya yang terpisah dengannya, namun dicegah oleh suaminya.


“Sana.” Gabby menjawab dengan malas, ia menunjuk dengan dagu jalan yang tadi dilalui olehnya.


“Oh ....” Diora mengangguk mengerti. “Kita berfoto, yuk? Sebagai kenang-kenangan pernah ke sini dan memakai pakaian adat dari pulau ini?” ajaknya pada Gabby.


Gabby mengangguk. “Gunakan ponselmu dan minta tolong saja pada suamimu,” pintanya. Ia sudah tak mau meminta pertolongan pada George untuk memotret, karena belajar dari pengalaman yang lalu. Tak akan memuaskan hasilnya jika George yang mengambil gambar.


“Oke.” Diora mengangguk setuju. “Tolong, kau fotokan aku dengan Gabby.” Ia memberikan ponsel kepada Davis.


Tangannya mengambil benda pipih dari tangan istrinya. “Dasar wanita, kerjaannya hanya foto terus sedari tadi,” gerutu Davis sangat pelan hingga Diora ataupun Gabby yang berada di dekatnya tak mendengarnya.


Davis pun menjauh dari sepasang sahabat wanita itu dan mendekati George yang matanya tak pernah lepas dari Gabby.


Gabby dan Diora sudah siap untuk berpose layaknya perempuan yang anggun.


Davis pun mulai memberikan arahan dan membidik kamera pada objeknya. Terlihat sangat cantik keduanya dan juga anggun.


George, entah mengapa pria itu tak ingin melewatkan kesempatan untuk ikut mengambil foto Gabby. Ia mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura mengangkat telefon. Kali ini ia sudah mematikan lampu flash dan menggunakan mode diam. Ia bergaya seolah tengah berbiaca dengan seseorang di sambungan telefon. Namun kenyataannya, ia mengaktifkan kamera yang sudah ia perhitungkan akan tepat membidik objek yang ingin ia potret.


George menyudahi akting telefonnya untuk melihat hasil fotonya. Ia menyunggingkan senyumnya. “Kau memang handal George,” pujinya untuk diri sendiri. Membanggakan salah satu keahlian paparazinya. Hasil foto yang didapatkan benar-benar bagus.


Sepuluh menit dihabiskan untuk berfoto Gabby dan Diora. Davis pun mendekati mereka untuk memberikan ponsel.


Diora dan Gabby langsung melihat hasil bidikan Davis yang memang tak mengecewakan.


“Bagaimana jika kita berfoto berempat?” saran Diora. “Aku dan Gabby kan bersahabat, suamiku dan asistennya juga bersahabat, jadi tak ada salahnya jika kita mengabadikan moment liburan dua pasang sahabat ini,” imbuhnya.


Davis mengangguk setuju. “Tapi setelah itu kita berfoto berdua.” Ia mengajukan syarat pada istrinya.


“Oke, kau bagaimana Gab?”


“Tak perlu, aku cukup berfoto denganmu saja. Kalian berdua saja yang berpose, aku akan memotret kalian,” tolak Gabby, ia menengadahkan tangannya untuk meminta ponsel Diora.


“Ayolah, aku hanya ingin mengabadikan moment bersama kita saja,” rengek Diora menggenggam tangan Gabby untuk memohon.


Gabby menghela nafasnya, matanya melirik sekilas George yang terlihat biasa saja tak begitu antusias untuk berfoto. “Aku mau jika dia juga mau.” Ia mengajukan persyaratan dengan menunjuk George. Ia berfikir pria seperti George tak akan mau dengan hal seperti itu.