
George pergi ke resepsionis, ia mencoba memesan ruangan untuk Gabby beristirahat. Jika wanita yang ia cintai itu tak mau diajak pulang, maka tak ada jalan lain kecuali beristirahat di rumah sakit.
Dengan kekuatan uang, semua teratasi. George mendapatkan satu kamar VVIP dengan fasilitas layaknya hotel suite room.
George kembali lagi menemui anggota keluarga Lord. Ia menghampiri Gabby. “Kita istirahat, ya? Aku sudah memesan ruangan untukmu istirahat,” ajaknya lembut.
Gabby menggeleng dalam pelukan Diora. “Aku mau di sini, menunggu Papaku.”
Lagi-lagi George dibuat menghela nafasnya. “Kau jangan keras kepala, jangan egois. Ada nyawa yang harus kau jaga di dalam perutmu,” tegasnya.
Gabby lalu terdiam, ia terlalu larut dalam kesedihannya. Ia mengurai pelukannya dengan Diora. Lalu menatap pria yang sedang mensejajarkan dirinya. Ia mengangguk memberikan jawaban.
George membantu Gabby untuk berdiri, ia merengkuh tubuh itu dan membantu berjalan menuju ruangan yang ada di lantai paling atas.
“Kalian juga bisa ikut denganku, kita istirahat bersama di sana,” ajak George pada Diora dan Davis sebelum ia meninggalkan ICU.
Keempatnya istirahat di satu ruangan yang sama. George membantu Gabby untuk berbaring di ranjang pasien. Sedangkan Davis membiarkan Diora berbaring di sofa yang luas dan bisa dijadikan sebagai tempat tidur yang nyaman.
George tak melepaskan sedikitpun tangannya dari Gabby. Ia terus menggenggam tangan itu. Tak lupa tangan satunya ia gunakan untuk mengusap perut buncit wanita yang terbaring miring ke hadapannya. George tertidur dengan posisi duduknya.
Sedangkan Davis, pria itu tentunya ikut tidur berbaring bersama istrinya. Sempit-sempitan tak masalah karena mereka terbiasa tidur berdesakan dan saling menyalurkan kehangatan.
...........
Sang surya mulai terbit dari ufuk timur. Gabby mengerjapkan matanya. Ia tak mendapati siapapun di sampingnya. Seingatnya, George tertidur di kursi sampingnya. Namun sekarang entah ke mana.
Gabby mengalihkan pandangannya, ia melihat Diora dan Davis masih tertidur dengan nyamannya.
“Kau sudah bangun?” tanya George. Ia mendekati Gabby dengan membawa nampan berisi makanan yang baru saja ia beli di rumah sakit itu.
Gabby mengangguk. “Kau dari mana?”
George tak menjawab, ia hanya menaikkan nampan yang ia bawa sebagai jawaban.
Menyeret meja yang biasa untuk makan pasien. George lalu menegakkan ranjang pasien itu untuk membantu Gabby melahap hidangan yang ia bawa.
Dengan telaten, pria gagah, tampan, dan rupawan itu menyuapi Gabby hingga habis.
Bersamaan dengan tandasnya makanan itu, Diora dan Davis bangun.
Hanya mencuci muka saja tanpa mandi membersihkan badan sedikitpun, mereka kembali menuju ruang ICU untuk menunggu kabar dari Dokter.
Jantung mereka masih berpacu, namun air mata seolah sudah mengering tak bisa keluar lagi. Hanya wajah yang terlihat cemas dari kedua anak Lord. Sedangkan dua pria lainnya memang tak mengeluarkan ekspresi dan cenderung tenang.
Dokter kembali menyembul keluar dari dalam ICU itu. “Keluarga pasien?”
Keempat orang itu mendekat. Mereka menajamkan indera pendengarannya untuk menerima berita dari pria berjas putih itu. “Kami.”
“Pasien ingin bertemu dengan keluarganya,” ujar Dokter yang bertugas untuk memantau perkembangan kesehatan Lord itu menyampaikan amanat sang pasien.
Dengan langkah kaki yang sedikit gemetar, Diora dan Gabby berpegangan untuk masuk ke ruang ICU itu. Davis dan George mengikuti di belakangnya.