
Sorot mata kedua orang tua George seolah mengatakan ‘apa kau mendengar semuanya?’ dan itu dimengerti oleh George.
Tak ada senyuman di wajah tampan anak muda itu. “Aku sudah mendengar semuanya, berpisahlah jika memang sudah tak ada kebahagiaan diantara kalian berdua. Tak perlu berpura-pura lagi, karena aku tahu berpura-pura bahagia itu menyakitkan. Aku akan mencoba memahami situasi kalian.”
Mama George mendekat, ia merengkuh tubuh yang sudah gagah sejak remaja itu. Menumpahkan segala isak tangisnya pada putranya.
“Maafkan kami, maafkan keegoisan kami,” sesal Genny—Mama George. Ia merasa bersalah membuat anaknya harus mengetahui pertengkarannya.
George mengelus punggung Mamanya. “Kejarlah apa yang ingin Mama gapai,” bisiknya.
Giorgio—Papa George hanya bisa memandang keduanya. Ingin rasanya ia ikut memeluk putranya dan memberikan kehangatan seperti biasanya, namun ia urungkan ketika mengingat dirinya juga bersalah atas hancurnya rumah tangganya.
Genny melepaskan pelukannya dan mengusap lelehan air matanya. “Berhubung kau disini, kami ingin menanyakan hal penting padamu,” ujarnya.
George mengangguk, ia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Mamanya. Pastilah tentang hak asuh dan memang benar itu yang ditanyakan oleh Genny pada George.
“Aku tidak akan memilih kalian berdua, aku akan berdiri di atas kakiku sendiri! Percumah saja aku memilih satu diantara kalian, tapi tetap aku tak mendapatkan kehangatan layaknya keluarga utuh lagi,” jawab George penuh keyakinan.
Ucapan George seperti tamparan bagi Genny dan Giorgio. Mereka sudah membuat putranya sendiri tak ingin tinggal bersama mereka.
“Kami tidak akan bercerai,” ujar Genny dan Giorgio bersamaan.
George menggeleng. “Jangan mengorbankan perasaan kalian berdua hanya demi aku. Papa harus bertanggung jawab dengan wanita yang kau hamili, dan aku tahu tak akan mudah bagi Mama untuk menerima semua ini jika masih bersama. Aku pergi, biarkan keluarga ini hancur sehancur-hancurnya sekalian, tak ada alasan lagi bagiku untuk pulang. Biarkan kita hidup penuh rasa sesal seumur hidup. Dan jangan ada satupun diantara kalian memberiku uang, aku akan hidup mandiri di atas kakiku sendiri dengan jerih payahku sendiri! Aku tak akan menjadi ahli waris siapapun!” tegasnya.
George langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya, mengambil kunci motornya untuk pergi menenangkan fikirannya sejenak sebelum ia akan kembali ke Amerika lagi.
“Kau mau kemana?” tanya kedua orang tuanya bersamaan ketika George keluar menuju garasi.
“Tak perlu perdulikan aku, sekarang kita hidup masing-masing,” sahut George tanpa menoleh sedikitpun.
George menghidupkan motor gedenya, menancap gas dengan kecepatan kencang. Ia tak memiliki tujuan jelas. Sepanjang jalan ia tak henti-hentinya berteriak mengumpati takdirnya yang begitu buruk. Hingga ia lelah dan memilih menjernihkan fikirannya di danau buatan yang ada di kota itu.
George duduk seorang diri menatapi air yang terlihat jernih. Menghela nafasnya sejenak dan berteriak sekencang-kencangnya. “Argh ... brengsek! Orang tua brengsek! Aku membenci kalian! Kenapa kalian harus melahirkanku jika hanya memberikan luka!”
“Astaga ... kak, kau ini membuat telingaku sakit mendengar teriakanmu itu,” celoteh seorang bocah dari balik pohon rindang yang ada di dekat danau.