Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 182



George memilih keluar dan mengambilkan kursi roda untuk membantu memindahkan Gabby ke ruang persalinan. Ia ingin menghindari adegan mesra yang membuat hatinya bergemuruh.


“Tolong bantu Gabby untuk duduk di sini,” pinta George pada Marvel.


Marvel mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada George. Ia segera menggendong Gabby dan mendudukkan dengan hati-hati di atas kursi roda itu.


George melepaskan tangannya yang memegangi kursi itu. Ia membiarkan Marvel yang melakukan tugas sebagai seorang suami.


Gabby bahkan sudah tak perduli lagi dengan keadaan sekitarnya, ia hanya terfokus dengan rasa sakitnya yang begitu hebat.


Kursi roda itu mulai didorong menuju ruang bersalin, George berjalan di belakang Marvel dan terus mengamati punggung wanita yang ia cintai. Ia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.


“Apakah aku harus membelikanmu lem yang kuat untuk menata kembali hatimu yang retak?” seloroh Davis. Ia memilih mensejajarkan langkahnya dengan sahabatnya dan membiarkan istrinya berjalan di samping Gabby.


Davis seolah tahu apa yang sedang sahabatnya rasakan. Ia pernah merasakan dulu saat mantan kekasihnya menikah dengan pria lain.


George mengedikkan bahunya, ia malas menanggapi candaan sahabatnya. Matanya terus fokus tak lepas dari Gabby. “Apa ini yang dinamakan sakit tapi tak berdarah?”


“Betul sekali.” Davis menepuk pundak sahabatnya itu.


Tak ada lagi obrolan antara keduanya hingga sampai di depan ruang bersalin.


George, Davis, dan Diora berhenti di depan ruangan itu. Sedangkan Dokter, Gabby, dan Marvel masuk ke dalam.


“Kenapa kau tak masuk?” tanya Davis.


“Ada yang lebih berhak berada di sampingnya, ada suaminya di sana. Aku bukan siapa-siapa,” jawab George tanpa memalingkan matanya dari pintu. Ia mengusap dagunya dengan jemari karena khawatir. Apakah Gabby akan kesakitan saat melahirkan anaknya? Uh ... ia sangat ingin berada di dalam sana.


“Kau juga berhak, dia akan melahirkan anakmu,” timpal Davis.


George mengacak-acak rambutnya. “Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini,” desahnya. “Jika saja malam itu kalian tak menjebakku, aku tak akan sesakit ini. Anakku akan lahir, tapi aku tak bisa melihatnya saat pertama kali dia menghirup udara di dunia,” imbuhnya.


“Maaf,” sesal Davis. Ia menepuk lagi punggung sahabatnya.


Klek!


Pintu ruangan itu terbuka, Marvel keluar dari sana.


“George, ayo masuk. Kita temani Gabby melahirkan, bersama,” ajak Marvel memberikan isyarat dengan tangannya agar George ikut ke dalam.


George sangat lega, ia senang bisa mendapatkan izin untuk mendampingi Gabby melahirkan anak pertamanya. Ia pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruang persalinan. Takdir ternyata masih baik kepadanya.


Sebelumnya, Marvel meminta izin kepada Dokter agar mengizinkan satu lagi orang untuk menemani persalinan Gabby. Ia merasa jika George juga harus melihat prosesi anaknya yang akan lahir di dunia. Ia tak ingin egois. George sudah membantu banyak untuknya, termasuk hari ini. Jika bukan karena George yang mengajukan keringanan kepada pengadilan, ia tak akan ada di rumah sakit ini menemani istrinya untuk melahirkan.


George berada di samping kanan Gabby, sedangkan Marvel berada di samping kiri istrinya. Keduanya sama-sama menggenggam erat tangan wanita yang mereka cintai. Membiarkan wanita itu menganiaya tubuh mereka saat berjuang untuk mengeluarkan bayi dari dalam kandungan Gabby yang sudah dikandung selama sembilan bulan.