Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 24



“Ini, tuan.” Resepsionis mengembalikan blackcard dan dokumen sebagai penjamin kepada George.


George langsung mengambilnya tanpa mengucap terima kasih. “Nih!” Ia memberikan paspor dan kartu identitas milik Gabby kepada pemiliknya.


Gabby menerimanya dengan kasar. “Kamar baruku?” Ia meminta kunci.


George langsung membuka ponselnya menunjukkan bukti transaksi pemesanannya kepada resepsionis.


“Nih! Satu milikmu, satu milik Sophie.” George menyodorkan dua kunci kartu. “Selesai, kan?” Ia langsung berlalu pergi meninggalkan Gabby.


“Cih! Sombong sekali dia,” cibir Gabby. Ia pun ikut melenggang menuju kamar barunya.


“Sophie,” sapa Gabby ketika ia melihat psikiater itu baru saja memasuki lobby.


Sophie memberhentikan langkah kakinya. “Ya? Ada apa?”


“Ini.” Gabby memberikan kartu tadi. “Itu kamar barumu, kau langsung kembalikan kunci kamar sebelumnya ke resepsionis.”


“Baik, terima kasih. Kau sungguh baik sekali repot-repot mengurus keperluan kamarku, padahal bukan kau yang memintaku datang kesini.” Sophie menerima kuncinya.


Gabby hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja. Apa? Baik? Bercanda! Kebanyakan orang mengatainya arogan, kasar, dan tak memiliki hati.


“Aku pergi dulu,” pamit Gabby. Melenggangkan kakinya menuju kamar baru.


Gabby segera membersihkan dirinya yang sudah lengket. Berganti pakaian dengan style yang tak pernah berubah.


Suara pintu diketuk terdengar ketika Gabby hendak berbaring. “Mengganggu saja!” decaknya.


Namun ia tetap membukakan pintu. “Ada apa lagi?” ketusnya ketika melihat George ada di hadapannya.


“Kami mau pergi jalan-jalan, kau mau ikut atau tinggal disini?” tanya George begitu dingin terdengar seperti ucapan basa basi.


“Ikutlah, yakali udah jauh-jauh ke Bali cuma di kamar terus!” sembur Gabby.


“Bersiap sekarang juga, Davis dan Diora sudah menunggu.”


“Hm.” Gabby masuk kembali mengambil tasnya tanpa merubah pakaiannya.


Pintu kembali ditutup setelah wanita itu keluar. “Ayo.”


George mengamati dari atas hingga bawah. “Kau ingin jalan-jalan menggunakan pakaianmu itu?”


“Ya! Memangnya kenapa? Ada masalah?”


“Untuk apa berdandan modis? Aku bukan model.” Gabby memilih berlalu mendahului George sebelum mendapatkan penghinaan yang lebih parah lagi.


Gabby berlari ketika melihat dari kejauhan sahabatnya sudah siap untuk pergi.


“Tunggu ... kalian mau meninggalkanku?” gerutu Gabby dengan nafas yang enggos-enggosan. Diikuti dengan George yang berjalan biasa saja di belakangnya.


Diora nampak kaget dengan kedatangan Gabby karena sejak siuman, ia tak tahu jika sahabatnya itu menyusul. “Kau, kenapa bisa disini?”


“Aku diculik olehnya.” Menunjuk George yang diam saja dengan sorot matanya.


“Kau, satu-satunya pria yang berani dengannya.” Diora terkekeh membayangkan aksi penculikan yang dilakukan oleh George.


George yang dipuji nampak acuh tak perduli. Ia langsung naik ke motor vespa kuning yang ia kendarai kemarin.


“Apa kalian tak menyewakanku motor juga?” Gabby nampak mencari-cari satu motor lagi untuk dia pakai.


“Kau, tanya saja dengan George,” jawab Davis acuh.


Davis tak memperdulikan Gabby yang menggerutu. Ia langsung melajukan motornya.


“Motorku mana?” tanya Gabby setelah ia berjalan mendekati George yang sudah siap dengan helm di kepala.


“Tak ada.”


“What? Terus? Aku naik apa? Jalan kaki? Naik onta? Naik gajah?”


George menunjuk motor yang ia tumpangi. Memberikan pertanda bahwa ini kendaraan yang akan dinaiki oleh Gabby.


Gabby paham. “Oke, kau turun, aku akan mengendari sendiri,” usirnya mendorong tubuh George agar menyingkir.


“Enak saja, kau di belakang.”


“Maksudmu? Kita berboncengan?” Gabby memastikan.


George hanya menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban.


“Cepat! Jika tak mau ya sudah, kau membuang waktuku.”


Mau tak mau, suka tak suka, Gabby pun naik membonceng George.