Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 95



“Cobalah kau dekati dia, kau beri dia perhatian, kau ajak dia jalan-jalan romantis. Lembutlah dalam bertutur kata, atau lebih baik diam daripada bersuara yang bisa menyakiti hatinya. Dia akan semakin sulit kau gapai jika kau selalu melukai hatinya.” Lord memberikan saran pada George.


“Atau, kau bisa belajar hal-hal untuk menakhlukkan wanita dengan google. Apapun yang kau tanyakan pasti akan dijawab olehnya.” Kini giliran Davis yang memberikan saran.


“Aku sudah pernah mencoba lembut dengannya, tapi aku begitu gatal dengan balasannya padaku. Hingga aku membalasnya dengan ketus juga. Bahkan aku sudah sempat melamarnya,” celetuk George.


Lord dan Davis membulatkan matanya mendengar pernyataan itu. “Kau melamarnya? Lalu apa jawabannya?” tanya mereka bersamaan.


“Dia tak memberikanku jawaban. Dia ingin aku memikirkan dimana posisinya pada hatiku,” jelas George seraya mendesahkan nafasnya.


“Lalu, apa jawabanmu? Dimana posisinya dalam hatimu?” Lord begitu penasaran dan antusias menanyakannya.


George mengedikkan bahunya. “Aku tak tahu, aku bingung.”


Lord dan Davis memutar bola mata mereka bersamaan. Tadinya mereka kira, George akan menjawab jika ia mencintai Gabby. Namun, pria itu malah bingung.


“Ku kira, kau itu pintar dalam segala hal. Ternyata kau bodoh juga masalah cinta,” hina Lord. “Kau harus ingat, sainganmu adalah Marvel. Dia sudah mengejar Gabby sangat lama. Sainganmu sangat berat, karena Marvel rela berkorban banyak untuk Gabby. Jujur saja, aku sangat menginginkanmu menjadi menantuku daripada Marvel. Ada banyak pertimbangan untuk hal itu. Meskipun Marvel mengatakan ingin berubah seperti apa yang diminta oleh Gabby, tapi ada suatu pertimbangan lain dariku tentangnya. Jadi, ku harap kau bisa memenangkan hati Gabby,” imbuhnya.


“Aku akan mencobanya,” balas George.


“Atau, jika tak juga kau dapatkan, pakai saja cara licik sepertiku,” kelakar Davis membanggakan dirinya yang berhasil mendapatkan Diora dengan cara tak benar.


“Cih!” George dan Lord berakting meludah bersamaan. “Licik saja kau bangga!”


“Hei ... kalian harus tahu, licik itu adalah sebuah strategi,” ujar Davis menyombongkan diri.


George dan Lord membuang mukanya malas dengan kepercayaandiri Davis.


“Bicara sajalah kau dengan kaca,” kelakar George.


Davis sungguh mempraktekkan itu. Ia menghadap ke arah kaca yang bisa memperlihatkan dirinya. Ia berbicara sendiri membanggakan dirinya yang sudah berhasil mendapatkan semua yang ia mau.


Lord bergeleng kepala dengan kelakuan menantunya.


Plak!


Lord melayangkan tabokan pada kepala belakang Davis hingga pria itu mengaduh kesakitan.


“Ck! Kau itu mertua penyiksa menantu.” Davis mengusap tempurung belakangnya.


“Kau itu membuatku malu saja, wajah tampan, badan kekar, penuh otot, rahang tegas, tapi kelakuan seperti orang gila!” cibir Lord. “Lihat.” Ia menunjuk para pengunjung sekitar dengan matanya yang mengedar dari ujung kiri ke ujung kanan. “Mereka menertawakan kelakuan anehmu.”


“Biarkan saja, karena aku sedang bahagia akan memiliki anak. Jadi, aku membagi kebahagiaan itu pada mereka. Buktinya, mereka semua senang melihatku, kan?” Davis tersenyum dengan menaik turunkan alisnya.


Lord dan George menepuk jidat mereka bersamaan.


“Sulit berbicara dengannya jika sudah seperti ini,” ujar George.


Mereka memilih tak menanggapi Davis yang tengah berbunga-bunga di atas kegundahan hati George itu.


“Lord, apa kau sudah memberitahu pada Gabby jika sudah menemukan wanita yang kau cintai dan memintaizin padanya bahwa kau akan menikah lagi dengan Natalie?” George memilih bertanya dengan Lord. Ia rasa itu sesuatu yang penting untuk ditanyakan daripada menanggapi Davis.


“Belum,” jawab Lord singkat.


“Apa kau tak waras? Tiga hari lagi pernikahanmu akan berlangsung, tapi kau belum mengatakannya pada Gabby? Apa kau tak menganggapnya sebagai putrimu lagi setelah kau menemukan putri dari wanita yang kau cintai?” Entah mengapa George merasa kesal. Ia merasa Gabby disisihkan dari kehidupan Lord.


“Kenapa kau marah? Gabby pasti akan mengizinkanku. Mana mungkin dia menolak? Dia juga tahu jika aku mencintai Mama Diora,” jelas Lord merasa aneh dengan respon George.


“Tetap saja, kau harus meminta persetujuan Gabby. Dia juga anakmu!” tegas George.


“Kau tenang saja, aku akan segera mengatakan padanya,” balas Lord.