Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 171



Enam bulan kemudian, perut Gabby semakin membuncit. Meskipun sudah menggunakan toga yang kedodoran, tapi semua orang bisa melihat jika wanita itu sedang hamil. Usia kehamilannya sudah menginjak tujuh bulan.


Diusia kehamilannya yang menginjak tri semester tiga, Gabby harus menjalani prosesi wisuda. Akhirnya dia lulus juga dengan tugas akhirnya yang ia susun saat mendampingi Marvel berhenti dari narkoba.


Mengingat Marvel, Gabby belum bisa bertemu dengan suaminya itu. Marvel sungguh diasingkan dan tak boleh dijenguk sama sekali. Gabby selalu meminta pada George agar membantunya untuk bisa bertemu dengan suaminya. Namun belum mendapatkan jawaban sampai saat ini.


Lapangan yang berada di kawasan Helsinki University itu terlihat ramai dengan wisudawan dan wisudawati.


Gabby dan Diora lulus bersama. Mereka sudah berbaikan dan saling mengutarakan penyesalannya atas kejadian di masa lalu. Mereka berjalan menghampiri keluarga mereka.


Lord, David, anak-anak Diora beserta babysitternya, dan George. Mereka sudah menunggu dua wanita cantik itu untuk berfoto bersama.


“Hati-hati, kau sedang hamil,” omel George saat Gabby tak sengaja menyenggol wisudawan lainnya.


Gabby hanya menyengir menjawabnya. Dan meraih tangan George yang mencoba untuk menggandengnya. George semakin menjaga ketat Gabby saat usia kehamilan Gabby semakin tua.


“Selamat anak-anak Papa, kalian berdua hebat,” puji Lord pada Gabby dan Diora.


Gabby dan Diora lalu memeluk Papanya bersamaan. “Terima kasih, Pa,” ujar mereka bersamaan.


“Bisa kau fotokan aku dan anak-anakku? Aku ingin mengabadikan momen langka ini,” pinta Lord pada George ataupun Davis. Siapa saja yang mau memotretnya.


George dan Davis mengangguk bersamaan. “Berikan ponsel kalian, kami akan mengabadikan ini sebagus mungkin.” Mereka menengadahkan tangan meminta benda canggih itu.


Lord hendak memberikan ponselnya, namun sudah disalip oleh Diora. “Gunakan ponselku saja, nanti Papa bisa meminta langsung denganku,” ujarnya. Dijawab anggukan setuju oleh Lord.


Sedangkan Gabby, ia mendengus saat memberikan ponselnya pada George. “Bidik yang betul, ambil posisi yang paling bagus. Ambil sebanyak-banyaknya, jangan seperti saat pernikahan Davis dan Diora,” protesnya. Ia mengingat momen saat George memotretnya dihari penting Diora, tak ada yang bagus sama sekali dan hanya satu bidikan saja yang ada di galerinya.


George terkekeh saat mengingat hal itu. Ia mencubit gemas hidung Gabby. “Iya.”


Lord berada di tengah, ia diapit oleh Diora dan Gabby. Mereka bertiga berpose layaknya keluarga bahagia. Lord sebisa mungkin tak menunjukkan dirinya yang mulai melemah. Ia harus terlihat kuat dihari penting untuk anak-anaknya.


“Sekarang, aku ingin foto bersama dengan kalian semua,” pinta Lord mengajak semua anggota keluarganya, termasuk George. Meskipun George bukan anggota keluarganya, tapi mereka sangat dekat.


George meminta tolong pada babysitter anak-anak Diora agar mau memotret mereka. Keempat babysitter itu mendapatkan tugas yang sama.


Keempat anak Diora digendong satu persatu oleh Diora, Davis, Gabby, dan Lord. Sedangkan George, dia berpose di samping Gabby dengan memegang perut buncit wanita yang masih dia cintai sampai sekarang, meskipun bukan menjadi istrinya, tapi ia tetap merasa memiliki tanggung jawab karena menghamilinya.


“Bagaimana jika kita pesta barbeque lagi untuk merayakan hari ini?” ajak Davis setelah selesai berfoto dan mengembalikan anaknya ke babysitternya masing-masing.


“Bosan.” Keempat orang lainnya menjawab bersamaan.


“Oke, kalau begitu, bagaimana jika nanti malam kita makan enak di restoran? Aku akan mentraktir kalian.” Davis memberikan opsi lainnya.


“Setuju.” Semua serempak menjawab lagi.


Davis berdecak. “Kalian ini memang paling bisa menghabiskan uangku,” keluhnya.


“Kau kan kaya, hanya mentraktir kita tak akan membuatmu miskin,” ejek Diora.


Mereka pun kembali ke mobil masing-masing. Lord diantarkan oleh Diora dan Davis untuk pulang.


Sedangkan Gabby bersama dengan George di mobil George.


“Kau ingin bertemu dengan Marvel?” tanya George selepas memakaikan seatbelt Gabby.


Gabby mengangguk. “Apa dia sudah boleh ditemui, sekarang?”


George mengangguk. “Tapi, hanya sebentar. Tak bisa lama.”