
Suasana ruang rawat Gabby menjadi mencekam saat Lord datang. Ia mengetahui dari George tentang kondisi Gabby.
George merasa Lord harus tahu. Sebagai seorang Papa, Lord harus tahu kondisi anaknya. Ia juga ingin melihat reaksi Lord saat mengetahui putrinya yang selalu dinilai kuat itu tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit.
“Bisa kalian tinggalkan aku berdua dengan anakku?” pinta Lord, mengusir secara halus dua manusia yang selama satu minggu selalu siaga di samping Gabby.
Marvel dan George meninggalkan ruang rawat itu. Mereka hanya di luar tanpa menutup pintu dengan rapat. Keduanya ingin mendengar pembicaraan antara anak dan orang tuanya itu, yang tengah telihat berseteru.
Lord duduk di kursi samping tempat tidur pasien. Ia memandang Gabby yang enggan menatap dirinya.
“Apa kau marah padaku karena malam itu?” tanya Lord. Ia tak mengungkit peristiwa yang membuat Gabby kecelakaan.
Gabby diam. Dia tak ingin menanggapi. Dia tak ingin bertengkar dengan Papanya.
Lord menghembuskan nafasnya kasar. “Maksudku baik malam itu, semua demi kebaikan kehidupanmu selanjutnya.” Ia tetap saja melanjutkan ucapannya.
Helaan nafas dari mulut Gabby terdengar sangat kuat. Ia sedang mengatur adrenalin perasaannya. Ia juga sedang menahan agar tak menangis. Masih mengatupkan bibirnya untuk tak menanggapi Papanya.
“Pikirkan baik-baik semua yang aku ucapkan malam itu. Kau juga melihat seberapa besar yang dia buktikan padamu, kan?” Lagi-lagi Lord memberikan keyakinan pada Gabby agar memilih George.
Gabby sudah tak tahan, dia sedang sakit. Kenapa yang dibahas justru masalah hidupnya? Lagi-lagi mengatur hidupnya.
“Cukup.” Bibirnya mulai bergetar saat menanggapi Papanya. Matanya sudah memupuk cairan bening yang siap meluap membasahi pipinya. “Aku sedang sakit. Apa Papa tak bisa menanyakan tentang keadaanku? Mengapa justru hal lain yang Papa tanyakan padaku?”
Gabby menggigit bibir bawahnya, ia tetap memalingkan wajahnya agar tak terlihat sedang menangis tanpa suara. Sedih ... rasanya sakit.
“Papa sudah tahu kondisimu, aku sudah bertanya langsung pada Dokter,” jelas Lord.
Gabby membasahi bibirnya yang terasa kering dengan lidahnya. Menghembuskan nafasnya hingga rambutnya yang menyentuh kening saling menari-nari.
“Apa aku tak terlihat khawatir? Aku justru sangat khawatir denganmu, dengan masa depanmu.”
Lagi-lagi Gabby menghembuskan nafasnya mendengar jawaban Lord. “Biarkan aku memilih masa depanku sendiri,” jawabnya lirih.
Brak!
Dua pria yang sedang menguping di luar itu terjatuh ke dalam dengan posisi saling bertumpukan.
Lord mengalihkan pandangan ke sumber suara. “Kalian menguping?” Nada kesal terdengar jelas keluar dari mulut pria tua itu.
Marvel dan George buru-buru berdiri. Mereka tak menanggapi dan menutup pintu lagi. Sorot mata Lord seolah ingin menerkam mereka.
Lord berdiri untuk memastikan pintu tertutup rapat. Ia juga mengunci dari dalam agar tak ada yang menguping pembicaraannya.
Lord kembali duduk. Ia hanya bisa bergeleng kepala saat melihat Gabby tetap tak mau melihatnya.
“Percayalah pada Papa, semua demi kebaikanmu. Papa sudah tua dan kau juga tahu sendiri jika aku mengidap penyakit yang mematikan dan tak ada obatnya.”
Gabby memilih diam dan tak menanggapi. Cairan bening semakin deras mengalir hingga membasahi bantal. Gabby sedih mendengarnya, sedih saat ia membayangkan Papanya kesakitan digerogoti penyakit HIV, sedih saat ia membayangkan Papanya akan meninggalkan dirinya selamanya. Meskipun ia selalu tersakiti, tapi rasa sayangnya pada Papanya tak pernah berubah. Masih sama.
“Papa ingin yang terbaik untukmu, saat aku tiada, aku ingin kau ada yang menjaga. Dan, George adalah pria yang tepat untukmu.”
“Jangan mengaturku lagi, biarkan kali ini aku menentukan pilihanku sendiri.”
Lord harus menghela kembali nafas frustasinya. “Kenapa kau keras kepala sekali?”
“Kenapa Papa egois sekali!” Gabby berucap lirih namun penuh penekanan.