
Gabby terlihat santai dan mencoba biasa saja. Ia sudah mengubur rasa kecewanya pada semua orang, setelah mengetahui bahwa mereka masih mencarinya.
“Kenapa semua orang menanyakan kemana perginya aku? Aku masih di Finlandia, aku tak pergi kemanapun.” Ada rasa haru yang ia rasakan karena mereka perduli dengan kepergiannya.
“Pergi kemana? Kenapa kau sulit ditemukan jika di Finlandia?” Diora masih belum puas dengan jawaban sahabatnya.
“Sudahlah, untuk apa membahas itu. Lagi pula aku berada di sini.” Gabby tak ingin dirinya dibahas terus menerus tentang kepergiannya.
“Maaf, maaf karena aku melupakan hari pentingmu saat itu.” Diora hendak beranjak dan memeluk Gabby, namun tak diizinkan oleh Davis. Sehingga dia hanya bisa memandang Gabby dengan berurai air mata.
“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Tak perlu diungkit lagi, kita hidup untuk kedepannya bukan untuk masa lalu.”
Gabby tak ingin membahas perihal masa lalu, ia memilih menghampiri inkubator bayi. Mereka semua akhirnya bermain dengan bayi-bayi mungil yang baru lahir itu. Gabby terlihat senang saat melihat bayi mungil itu menggeliat.
“Apa kau juga ingin memilikinya?”
Pertanyaan George membuat Gabby mengalihkan pandangan untuk menatap pria kaku itu.
“Tentu saja, wanita mana yang tak ingin memiliki anak? Ku rasa tak ada.” Setelah menjawabnya, Gabby kembali bermain dengan pipi bayi mungil yang ada di gendongannya.
“Berarti, apa kau sudah mau untuk menikah?”
“Hm ... aku memang ingin menikah.”
Ada secercah harapan untuk George mendapatkan hati Gabby. Ia mengulas senyum samarnya yang bahkan tak ada orang bisa melihatnya.
Bayi Diora digendong masing-masing oleh Gabby, Lord, Natalie, dan Davis. Sedangkan George, dia hanya ikut bermain dengan bayi yang digendong oleh Gabby.
Saat mereka asik dan bersuka cita dengan bocah-bocah mungil itu, pintu ruangan terbuka. Menyembulkan pria jangkung dengan bulu halus di sekitar rahangnya. Brewoknya baru tadi pagi dipangkas oleh Gabby.
“Maaf, aku baru saja dari toilet,” ujar Marvel. Ia langsung menghampiri Gabby. Melayangkan tatapan tak suka pada George yang terlalu dekat dengan calon istrinya itu.
George cuek dan biasa saja. Ia seolah tak terusik dengan tatapan Marvel. Ia tetap melanjutkan bermain dengan bayi di gendongan Gabby.
Marvel mendengus, ia merangkul Gabby untuk memperlihatkan bahwa wanita ini adalah miliknya.
Lagi-lagi, George hanya biasa saja. Ia tak terusik dengan hal itu. Dia sadar bahwa mereka sedang berlomba untuk memenangkan hati Gabby. Ia ingin bersaing secara sehat.
Lord berdehem melihat tingkah dua pria yang mengapit anaknya. “Marvel,” panggilnya.
Pria yang dipanggil pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara. “Ya, Lord?”
“Kau datang ke sini dengan siapa?” Lord yang tak mengetahui bahwa Gabby dan Marvel sudah sangat dekat pun penasaran. Sebab, dia tahu jika Marvel tak terlalu dekat dengan Diora ataupun Davis. Tadinya, ia ingin menanyakan ‘kenapa kau ke sini juga?’ tapi, sepertinya terlalu menyakitkan, seolah kehadiran Marvel tak diinginkan. Sehingga ia mengganti pertanyaan yang lebih lembut.
Marvel mengalihkan matanya untuk menatap Gabby. Ia tersenyum saat pandangannya bertemu dengan wanita itu. “Aku ke sini dengan Gabby.”
“Kalian janjian?” celetuk George yang juga sama penasarannya.
“Tidak, kami memang mau ke sini. Ada hal penting yang ingin kami sampaikan.”
Seluruh pandangan menjadi terfokus pada Marvel dan Gabby. “Apa?” Mereka kompak menanyakan hal yang sama.
Marvel kembali mengulas senyumnya untuk Gabby. Wanita itu pun membalasnya. Membuat gemuruh di hati George meletup-letup melihat senyuman yang tak pernah diberikan untuknya.
“Aku akan menikah dengan Marvel.”