Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 80



Dengan terpaksa, Gabby akhirnya menginap di apartemen George. Sebab, pria itu tak mau mengantarkan Gabby pulang. Ada yang harus diluruskan diantara keduanya. Bukan meluruskan sesuatu milik George yang berada di bawah sana, tapi meluruskan kesalahpahaman mengapa George waktu itu melarang Gabby agar tak jatuh cinta dengannya. Selain itu, waktu juga sudah menunjukkan pagi dini hari. Sudah saatnya mengistirahatkan tubuh.


“Masuk.” George membukakan pintu unit apartemennya, mempersilahkan Gabby untuk melangkah ke dalam terlebih dahulu.


Gabby memutar bola matanya dengan perlakuan George yang berubah seratus delapan puluh derajat kepadanya. Ia melewati George begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, apa lagi berterima kasih.


Gabby tak langsung duduk, ia masih berdiri dengan mengamati interior apartemen milik George. Ia seperti pernah melihat desain hunian itu.


“Kenapa kau tak duduk?” tanya George membuat Gabby menghentikan otaknya yang tengah mengingat desain apartemen George.


“Karena kau belum mempersilahkan aku duduk, tak sopan jika pemilik belum mengijinkan tamunya. Apa lagi, aku bukan kau yang selalu seenaknya,” jawab Gabby sedikit menengok ke arah pria yang ia juluki mulut sampah itu. Sunggingan penuh ejekan dilayangkan untuk George.


George berdecak, selalu saja Gabby mengingat hal buruk tentangnya. Apa tak ada hal yang baik untuk diingat oleh wanita itu? Seolah dirinya seperti buruk setiap saat saja. Tapi memang seperti itulah di mata Gabby saat ini.


“Duduklah.” George mempersilahkan Gabby setelah ia menghempaskan tubuhnya di sofa.


“Terima kasih, jika kau tak memberikanku izin, mungkin aku akan berdiri sepanjang hari,” selorohnya seraya mendaratkan pantatnya di benda mati yang empuk itu.


“Kau mau minum atau makan sesuatu?” tawar George. “Atau ingin langsung istirahat? Kau bisa tidur di kamarku, dan aku akan tidur di sofa,” imbuhnya.


Gabby tak ingin tidur di kamar George, otaknya yang memang tak polos itu mengantisipasi agar tak terjadi perbuatan yang sedang ada dalam pikirannya. Jika di dalam kamar, ia akan sulit keluar untuk melarikan diri. Namun, ketika di luar kamar, ia bisa dengan mudah menyelamatkan dirinya.


“Baiklah.” Daripada harus berdebat dengan Gabby, George lebih baik menurut. “Selamat istirahat,” imbuhnya. Ia pun beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya.


Namun, belum sampai pada tempat tujuannya, George berbalik karena teringat jika ia belum memberikan penjelasan pada Gabby. “Aku ingin bicara sebentar denganmu,” ujarnya.


Gabby yang sudah hampir setengah merebahkan tubuhnya di sofa, berdecak sebal. Ia sudah dalam posisi empat puluh lima derajat, harus kembali ke sembilan puluh derajat untuk mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh George.


“Apa? Jika tak penting, akan ku pecahkan telurmu, ku goreng hingga gosong,” decak Gabby mengancam.


Kini keduanya duduk berhadapan pada posisi seperti awal. Kedua mata itu saling beradu pandang, menyelami kedalaman perasaan aneh yang muncul tiba-tiba.


“Apa? Cepat katakan! Kau malah asik memandangiku. Aku memang cantik, tapi sudah ku katakan jika aku membencimu!” seru Gabby mengingatkan George.


“Apa kau tak bisa mengingat satupun kebaikanku? Kenapa yang kau ingat selalu keburukanku?” protes George.


“Kebaikan?” Gabby menaikkan sebelah alisnya. “Kebaikan mana yang kau maksud? Coba sebutkan kebaikan apa yang harus aku ingat?” tanyanya yang merasa jika George hanya ada kata buruk di matanya.