Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 75



“Gunakan mobilku,” sela George menghentikan Gabby yang hendak menaiki motor gede. “Sudah, cepat! Tak ada waktu untukmu berpikir.” Ia langsung menarik paksa Gabby untuk memasuki mobilnya.


Dua puluh menit, akhirnya Gabby dan George sampai di penthouse. Dengan berlari, mereka langsung menuju unit milik Davis.


George segera membuka pintu dengan sidik jarinya. Karena sebelum Davis menikah, ia sering keluar masuk penthouse itu. Langsung masuk menuju sumber suara tangisan. Ia begitu terkejut melihat kondisi sahabatnya yang sudah tak sadarkan diri dengan busa yang keluar dari mulut.


“Apa yang kau lakukan!” bentak George pada Diora.


Belum sempat wanita itu menjawab, George langsung menyingkirkan Diora dan membopong Davis menuju mobilnya.


Tak mungkin ia menghubungi dokter pribadi Davis tengah malam seperti saat ini, pasti tak akan diangkat.


Diora dan Gabby mengikuti di belakang dengan langkah yang tergopoh-gopoh.


Diora masuk terlebih dahulu di bangku belakang. “Biarkan dia di sini bersamaku,” pintanya seraya menepuk pahanya untuk dijadikan bantalan suaminya.


George tak banyak bicara, ia langsung merebahkan tubuh Davis dipangkuan Diora.


“Masuk!” titah George pada Gabby yang masih diam mematung mengamatinya.


Gabby langsung masuk ke kursi depan.


“Bisa lebih cepat lagi?” pinta Diora begitu panik.


George hanya fokus menatap jalanan di depannya dan melajukan kendaraan roda empat itu begitu kencang.


Gabby menatap sekilas wajah George yang begitu tenang, tak panik sedikitpun. Namun ia bisa melihat seberapa pedulinya George dengan sahabat.


Apa dia akan melakukan hal yang sama, jika aku yang berada di posisi seperti itu? Apa dia akan perduli denganku seperti itu juga?


Entah mengapa Gabby sedikit terkesan dengan George yang perhatian seperti saat ini. Meskipun bukan dengannya, tapi ia bisa menilai jika George akan melakukan apa saja untuk melindungi orang-orang yang disayangi.


Huft ... aku iri dengan Davis yang memiliki sahabat seperti George.


...........


George langsung merebahkan tubuh Davis ke brankar, dibantu oleh perawat yang berjaga malam di rumah sakit. Menuju unit gawat darurat untuk segera dilakukan penanganan.


“Bagaimana ceritanya bisa terjadi seperti ini?” Pria dengan sorot mata yang begitu dingin itu mulai membuka suara.


Masih dalam rengkuhan Gabby, Diora mulai menceritakan semuanya yang terjadi ketika makan malam.


“Jadi kau memasak dengan kaldu seafood?” geram George berbicara dengan intonasi tinggi.


Diora menjawab dengan anggukan kecil.


“Arghhh ... pantas saja! Apa kau tak tau jika dia alergi seafood?”


Diora menggelengkan kepalanya.


“Shit! Bahkan dia bisa mati jika memakan seafood,” geramnya menonjok dengan kuat dinding yang begitu tebal hingga cairan berwarna merah merembes keluar dari kulitnya.


“Dia tak mengatakan apapun ketika aku menanyakan tentang alergi,” timpal Diora.


George membuang nafasnya kasar lalu menatap dengan sorot mata tajam. “Tentu saja dia tak mengatakan apapun, dia menghargai apapun yang kau masak! Dia rela mengabaikan keselamatannya demi menghargaimu!”


“Sudahlah, kau jangan memarahinya! Dia kan tak tahu.”


George mengacak-acak rambutnya.


Tak lama, Dokter keluar memberitahukan kondisi Davis yang selamat dan siap dipindahkan ke ruang perawatan.


Diora mengucapkan terima kasih, lalu menyuruh George dan Gabby untuk pulang saja karena tak enak sudah mengganggu waktu keduanya yang seharusnya digunakan untuk istirahat.


“Aku pulang dulu,” pamit Gabby.


George dan Gabby pun keluar.


Gabby membiarkan pria yang ia benci itu berjalan di depannya.


“Dimana Gabby?” gumam George bingung. Ketika ia sampai di tempat parkir, wanita yang berjalan di belakangnya sudah tak ada.