Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 84



George memperhatikan Gabby yang memalingkan wajah enggan menatap dirinya. Ia mendengar hembusan nafas yang memburu dari wanita itu, seperti seseorang yang sedang menahan emosi.


“Kau marah?” tanya George mencoba mencondongkan wajahnya untuk melihat Gabby.


Pertanyaan macam apa itu? Mana ada wanita yang mau dibanding-bandingkan dengan wanita lain? Uh! Ingin sekali Gabby menyumpal mulut George agar diam.


Gabby menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga ia tak ingin menanggapi George. Ia tak ingin berdebat dan akan berakhir dengan sakit hati lagi jika berbicara dengan pria itu. Tangannya mencengkeram pinggiran sofa.


George memegang pundak Gabby, memalingkan pandangan wanita itu untuk menghadap ke arahnya.


Gabby tetap mencoba memalingkan pandangannya, matanya kini memerah. Ia tak ingin terlihat tengah menahan sesuatu yang cair di balik kelopak matanya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba menetralisir gejolak yang melanda hatinya.


Ketika Gabby sudah merasa lebih baik, ia memberanikan diri untuk menatap George.


“Kau punya otak, gunakanlah untuk berfikir terlebih dahulu sebelum berucap! Coba, jika kau menyukai seseorang, dan orang itu membandingkanmu dengan pria lain? Apa yang kau rasakan?” Gabby menampik kedua tangan George yang berada di pundaknya. Pandangannya kini serius menunggu jawaban.


George sedikit mengulum senyumnya, ia senang. Artinya, Gabby menyukainya jika diserap dari perkataan wanita itu yang baru saja dilontarkan untuknya.


“Aku tak masalah, asal dia menyukaiku. Mungkin, dia hanya ingin aku merubah sifat seperti orang yang dia bandingkan itu,” balas George. Ia tahu, pasti Gabby sedang mempermasalahkan ucapannya yang membandingkan Gabby dengan Catherine. Ia ingin Gabby paham dengan maksudnya.


Tangan Gabby mengepal erat, mengigit lagi bibir bawahnya. Ia sudah tahu jika berbicara dengan George, selalu akan berakhir dengan jawaban yang membuat hatinya tak enak.


Hatinya memang ada rasa untuk George, tapi ia tak akan kuat jika bersama pria itu. Belum ada hubungan dengannya saja sudah dibanding-bandingkan dan menginginkannya untuk menjadi seperti orang lain, bagaimana dia bisa bahagia jika tak menjadi diri sendiri.


“Diriku ya diriku, jangan kau bandingkan dengan orang lain. Tak ada satu wanita pun yang mau dibanding-bandingkan, apa lagi merubah sifat yang bukan kepribadiannya.” Gabby melirihkan ucapannya. Menggambarkan betapa dirinya sudah sangat malas untuk berbicara dengan George.


“Jadilah dirimu, kau tak perlu merubah apapun dalam dirimu hanya untuk mendekatiku. Cukup kau renungkan ucapanku ketika di Ravintola,” imbuh Gabby menepuk pundak George lembut. Ia hanya ingin George memikirkan di mana posisinya pada hati pria itu.


George terdiam, apa caranya mendekati Gabby salah? Ia merasa benar dengan apa yang dilakukannya selama ini.


“Kembalilah ke kamarmu, terima kasih obat tidurnya,” usir Gabby setelah menelan pil yang dibawa oleh George. Ia langsung membenamkan tubuhnya di sofa, menutupi kepala hingga kaki dengan selimut. Tak ingin berbicara dengan George lagi. Ia rasa sudah cukup memberitahu tentang perasaannya pada pria itu.


George hanya bisa memperhatikan Gabby yang nafasnya mulai teratur. Ia bingung, sungguh bingung dengan perasaannya. Ia tak tahu di mana letak Gabby pada hatinya. Semua sungguh membingungkan baginya. Ia hanya ingin berusaha menepati janjinya saja, karena janji harus ditepati.


Disaat George masih merenung, ponsel milik Gabby yang diletakkan di atas meja berdering. George melirik, melihat siapa yang menelfon seorang wanita pada dini hari. Keningnya mengkerut ketika membaca nama sang penelfon.


“Marvel?”


Ya, Gabby akhirnya menyimpan nomor Marvel, setelah Marvel mengutarakan niatnya untuk berhenti menjadi pemakai dan bisnis gelap.