Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 26



Selepas kepergian George yang entah kemana Gabby juga tak perduli. Kini wanita itu hanya bisa berjalan sendirian.


Jika biasanya ia berjalan berdua bersama Diora, tapi sekarang sudah beda kondisinya. Diora berjalan bersama suaminya.


Gabby melepas sepatu yang ia pakai. Wanita itu memilih berjalan tanpa alas kaki. Ia tenteng sepatu cats berwarna putih dengan kedua tangannya.


Kaki jenjang Gabby terus nyusuri bibir pantai seraya memainkan pasir pantai di sana, menikmati angin hangat dari arah laut yang memeluk dirinya.


Puas bermain dengan pasir, ia berjalan semakin mendekati air. Berjalan menyusuri air yang pasang surut karena ombak menggulungnya.


Luka kecilnya serasa perih terkena hembusan angin yang bercampur dengan percikan-percikan ombak. Namun tak dirasakan oleh Gabby. Ingat, wanita itu kuat. Lebih tepatnya terpaksa harus menjadi wanita kuat karena keadaan.


Telapak kakinya sakit tergores karang, namun lebih sakit hatinya. Tak ada binar kebahagiaan layaknya orang berlibur pada umumnya. Hanya senyuman getir yang menghiasi wajah cantik wanita itu.


Gabby berhenti ketika berada di balik batu karang besar yang menutupinya. Batu karang yang berada di bawah tebing yang berada di pojok pantai itu menjadi tempat persembunyiannya saat ini.


Wanita itu duduk di sana, di atas batu karang kecil yang kering. Kakinya di tekuk sebagai tumpuan kedua tangannya.


Matanya melihat ke arah para wisatawan yang berada lumayan jauh dari posisinya saat ini. Ada sepasang suami istri yang terlihat begitu mesra, keluarga yang jalan-jalan bersama, sekelompok orang yang terlihat seperti berteman, dan masih banyak lagi. Semua terlihat saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi.


Enak ya jadi mereka, bahagia.


Tersenyum getir wanita itu menertawakan hidupnya yang merasa tak dicintai, dikasihi, dan disayangi. Papa, satu-satunya keluarga yang ia miliki tak pernah memberikannya semua itu. Hanya didikan keras dan menuntut yang selalu diberikan.


Apa lagi ketika papanya mengetahui memiliki anak lain dari wanita yang sangat dicintainya. Semakin merasa tersisih Gabby. Setiap saat hanya Diora dan Diora yang selalu dikhawatirkan oleh papanya. Tak pernah sekalipun papanya itu menghawatirkan dirinya. Apa karena Gabby terlahir dari wanita yang dijodohkan dan tak dicintai oleh papanya? Entah, Gabby hanya bisa menerima nasibnya, protespun tak akan merubah keadaan. Hanya akan memperkeruh suasana.


Gabby sudah tahu akan berujung apa jika ia melakukan protes kepada papanya.


‘Sedari kecil, kau sudah hidup denganku, ku didik menjadi wanita tangguh dan kuat, kau harus menjaga kakakmu. Dia hanya wanita biasa yang lemah dan butuh dilindungi, kau sebagai adiknya harus melindunginya bagaimanapun caranya.’ Teringat jelas kata-kata papanya itu. Perkataan yang sesungguhnya melukai hatinya, karena semenjak itu, papanya begitu terlihat jelas selalu menghawatirkan Diora dan mengesampingkan dirinya.


Sahabat? Satu-satunya orang yang dia anggap sebagai sahabat hanya Diora, kini sudah memiliki suami yang menjaga dan terlihat sangat mencintai Diora.


Kekasih? Gabby hanya bisa menghela nafasnya. Tak ada satu pria pun yang mencintainya dengan tulus.


“Miris ya hidupku? Orang melihatku begitu kuat, namun di sini.” Gabby menunjuk dadanya. “Begitu rapuh.”


Bulir bening lolos begitu saja dari ekor matanya. Sekuat apapun dia menahannya, lolos juga ke permukaan kulitnya.


Salahkah wanita itu merasa bahwa dirinya tak pantas dicintai? Dikasihi? Disayangi? Mungkin orang menilai salah, tapi Gabby? Dia menilai dirinya seperti itu. Buktinya, ia tak pernah merasa diperlakukan seperti itu oleh orang lain.


Diora? Mungkin hanya sahabatnya itu yang memberikan perhatian padanya. Namun setelah menikah? Ia tak yakin sahabatnya bisa melakukannya seperti dulu lagi atau tidak.