Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 35



Gabby segera naik ke atas motor diikuti oleh George yang duduk di belakangnya. Pria itu cukup tenang mengetahui apa yang akan dilakukan Gabby padanya. Entah apa yang ada di fikiran George saat ini.


Gabby menghidupkan motornya seraya bibirnya menyeringai siap membalas apa yang sudah George lakukan padanya kemarin.


Motor vespa berwarna kuning itu mulai melesat ke jalan raya dengan kecepatan lambat mengikuti motor yang dikendari oleh Davis dan Diora.


“Mundur!” teriak Gabby yang merasakan tak ada jarak diantara dirinya dan George.


George mundur perlahan, Gabby langsung menaikkan kecepatan motornya hingga sejajar dengan Diora.


“Kemana tujuan kita?” Gabby bertanya dengan Diora.


“Desa Adat Panglipuran,” teriak Diora memberitahu.


“Oke.” Gabby menganggukkan kepalanya. “Aku duluan, kita bertemu disana,” imbuhnya.


Laju motor itu semakin cepat, lebih cepat dari kemarin George membawanya.


“Kenapa dia tenang sekali?” gumam Gabby yang sekilas melihat wajah George dari spion motornya. Pria itu seperti biasanya datar dan tak terbaca. “Saatnya membalas perbuatannya.”


Gabby menyeringai, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam jalan yang lumayan sepi tak terlalu ramai kendaraan agar ketika George terjatuh tak akan tersambar oleh kendaraan lain.


Ketika motor itu sudah melaju sangat kencang, Gabby menurunkan lajunya lalu menyendat gasnya secara sengaja seperti apa yang dilakukan oleh George kemarin.


Greb!


Deg!


Gabby mendadak membeku, jarak wajah keduanya benar-benar tipis. Hembusan mint dari nafas George tercium jelas di indera penciumannya. Wangi tubuh pria itu pun menyeruak. Jantung Gabby tak karuan. Sentuhan dadakan itu mampu membuat gejolak yang tak biasa dirasakan oleh Gabby muncul secara tiba-tiba.


Cit ...


Buru-buru Gabby menepikan motornya mendadak agar tak terjadi kecelakaan akibat fokusnya yang hilang seketika.


Gabby membuka rengkuhan tangan George, menghempaskannya kasar. Ia langsung turun dari motor dan menatap tajam George. “Kenapa kau kurang ajar sekali memelukku tanpa ijin?” semburnya.


“Aku hanya melindungi diriku dari seseorang yang sengaja ingin mencelakaiku,” jawab George enteng. Ia mencoba tenang meskipun jantungnya kini sama dengan Gabby sedang berpacu setelah memeluk wanita itu.


“Kau menuduhku ingin mencelakaimu? Memangnya aku seburuk itu dimatamu sampai kau berfikir hal seperti itu denganku?” tampik Gabby mendorong pundak George tak terima.


George melipat kedua tangannya di dada. Masih pada posisinya duduk di atas motor dengan tenang. “Memangnya aku mengatakan jika kau yang ingin mencelakai diriku? Atau kau memang sedang mengakui jika kau seperti yang aku katakan tadi?”


“Heh pria bermulut sampah! Hati-hati jika bicara kau! Yang memiliki niat jahat itu kau, kau kemarin dengan sengaja mencelakaiku, sekarang aku hanya ingin membalas perbuatanmu agar kita satu sama!” seru Gabby panjang lebar.


“Oke, sudah cukup pengakuanmu, sudah ku maafkan perbuatanmu,” ucap George.


Gabby membulatkan matanya, George benar-benar membuatnya kesal dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seharusnya kemarin pria itu yang meminta maaf dengannya. Dan apa? Memaafkan Gabby? Bahkan wanita itu tak mengucapkan kata maaf sedikitpun. Ia hanya ingin membalas pria sombong, dingin, kasar, bermulut sampah, dan ringan tangan itu. Karena tak meminta maaf atas perbuatannya kemarin.