Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 158



Satu minggu setelah kejadian malam itu, Gabby mengurung dirinya di kamar yang berada di kartel Lord. Ia menjauhi dunia luar, bahkan ia tak keluar sedikitpun dari sana. Satu langkah pun tidak. Untuk makan pun dia tak berselera.


Gabby seperti raga tanpa jiwa. Ia hanya melamun di dalam kamarnya, sesekali ia melihat ke arah luar melalui jendela kaca di ruangannya. Lelehan air mata selalu menemaninya.


Gabby tak mengizinkan siapapun masuk, ia mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Wanita itu terus mengingat ucapan George malam itu yang mengatakan bahwa George mencintainya.


“Kenapa harus sekarang kau mengatakannya?” lirihnya.


Gabby tak ingin menyakiti siapapun, dia tak ingin menyakiti Marvel yang sudah berjuang untuknya. Mencintainya dengan tulus. Untuk itu, dia mengurung dirinya di dalam kamar agar tak bertemu dengan siapapun.


Sesekali Gabby mengamuk dengan membanting benda-benda di dalam kamarnya. Ia histeris saat mengingat George dan Marvel bersamaan.


“Aku tak ingin menyakiti orang lain, aku tak ingin seperti Papaku yang menyakiti Mamaku!” teriaknya.


“Tapi, aku sudah hina, sudah kotor, sudah tak terhormat lagi,” lirihnya kemudian. Ia kembali meringkuk di sudut kamar itu.


Gedoran pintu dari luar tak diperdulikan oleh Gabby. Ia tahu siapa yang mengetuknya. Papanya dan George yang setiap hari mencoba bertemu dengannya. Tapi Gabby tak mau bertemu dengan mereka, setelah tahu perbuatan malam itu adalah ulah Papanya.


Di luar ruangan, George dan Lord panik saat mendengar Gabby berteriak dan membanting barang-barang di dalam sana. Ini sudah tak bisa didiamkan lagi, satu minggu Gabby mengurung diri tanpa makan dan hanya minum dari air galon yang ada di dalam kamar.


George mulai berinisiatif mendobrak pintu kayu yang kokoh itu. Percuma jika dibuka dengan kunci cadangan, tak akan bisa karena masih ada kunci yang menggantung di dalam sana.


“Sial! Kenapa kau membuat pintumu begitu kuat hingga sulit ku dobrak,” keluh George saat tubuhnya sudah terasa remuk membentur pintu kayu itu, namun tak juga terbuka.


Mereka pun mengambil alat yang bisa digunakan untuk mencongkel. Dengan sekuat tenaga, Lord dan George bersama-sama membuka paksa pintu itu.


Brak!


Mereka berhasil merusaknya. Keduanya mematung saat melihat wanita yang tadinya terlihat kuat, sekarang sedang sangat lemah. Rasanya begitu nyeri melihat Gabby yang seperti itu. Perasaan bersalah mulai menyelimuti keduanya.


Hentakan pantofel terdengar mulai mendekat ke arah Gabby.


“Pergi ...!” Teriak Gabby mengusir dua orang itu. Ia tak menatap sedikitpun.


Keduanya bergeming, mereka hanya mematung di tempat.


“G2, mau sampai kapan kau mengurung dirimu seperti ini?” tanya Lord. Ia sakit melihat anaknya yang kacau.


“Pergi! Aku bilang pergi, ya pergi! Aku tak ingin melihat kalian!” raung Gabby. Ia berdiri untuk menggapai apapun barang di sana untuk ia lemparkan pada Lord dan George. Dia sangat membenci dua orang itu, terutama Papanya sendiri.


George tak mengucapkan sepatah kata pun. Dia tak perduli Gabby melemparinya. Ia terus mendekat dan merengkuh tubuh yang semakin kurus itu. Tak perduli dengan Gabby yang terus meronta.


George mengambil sesuatu di dalam saku celananya tanpa melepaskan tangan kirinya yang memeluk Gabby.


Suntikan. Dia membuka tutup suntikan itu, lalu menyuntikkan obat penenang pada Gabby. Ia sudah berjaga-jaga, setiap hari mendengar Gabby yang berteriak histeris, membuatnya takut jika wanita itu akan berbuat nekat menyakiti diri sendiri.