Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 57



Celotehan bocah kecil dari balik pohon membuat George mengalihkan pandangannya. Terlihat gadis kecil dengan pipi chubby menutup telinganya seraya mendekat ke arahnya.


“Kenapa kakak marah-marah?” tanya gadis itu tanpa takut dengan orang yang pertama kali ia temui. Ia duduk di samping George tanpa meminta persetujuan.


“Anak kecil, gaboleh pengen tau urusan orang gede,” elak George. Meskipun ingin mengatakan ‘bukan urusanmu!’ tapi ia sadar jika yang ia ajak bicara adalah seorang anak kecil.


Bocah itu cemberut. “Enak aja anak kecil, aku udah besar, udah pinter. Meskipun ditinggal Mama pergi aku ga nangis. Tandanya aku pinter ga pernah nangis,” celotehnya. “Aku juga kuat loh setiap hari olahraga,” imbuhnya.


George menatap bocah itu dengan rasa penasarannya. “Memangnya kemana Mamamu?”


“Mamaku baru aja pergi,” jawabnya santai.


“Pergi kemana?” George masih saja penasaran. Bocah sekecil itu sungguh tak menampakkan kesedihannya meskipun ditinggal pergi Mamanya.


“Tuh di sana.” Bocah itu menunjuk sebuah area pemakaman di samping danau.


George mengikuti arah yang ditunjuk oleh Gabby. “Pemakaman?” Ia mengernyitkan keningnya. “Maksudmu, Mamamu sudah meninggal?”


Gabby mengangguk. “Ya, dan aku tak menangis loh. Hebat kan aku? Kata Mama, kita tidak boleh bersedih karena jika kita bersedih itu tandanya lemah dan Papaku tak suka anak lemah. Aku akan di hukum jika menjadi lemah,” ujarnya diakhiri dengan ulasan senyum hingga memperlihatkan deretan gigi depan yang ompong.


Melihat deretan gigi yang hilang membuat George ikut tertawa. Ia sedikit terenyuh dengan ketegaran bocah itu. Dibandingkan dengan dirinya yang masih bisa melihat kedua orang tuanya, bocah itu masih lebih kurang beruntung karena ditinggal pergi selama-lamanya oleh Mamanya.


“Nah, kakak tampan jika seperti itu. Daripada bersedih dan marah-marah, kakak lebih cocok tertawa,” celotehnya. “Aku tahu, pasti kakak memiliki masalah, kan? Pasti karena orang tua kakak?” tebaknya membuat George memicingkan matanya.


George mengangguk paham. Sesaat keduanya tak berbicara.


“Mau aku beritahu sesuatu, kak? Agar kakak tak merasa hidup kakaklah yang paling menderita di muka bumi ini,” tawarnya.


“Apa?”


“Tapi kakak diam saja, ya?”


George mengangguk.


“Mamaku meninggal karena sakit, Papaku jarang memberikan perhatian padanya, bahkan keduanya tak pernah bertegur sapa, aku tahu mereka hanya berpura-pura saling mencintai di depanku,” ujarnya menceritakan bagaimana ia mengetahui kondisi kedua orang tuanya.


“Darimana kau tahu?” George penasaran, pasalnya bocah sekecil itu sudah tahu permasalahan orang dewasa dan bisa menilai kondisi sekitarnya.


Bocah itu tersenyum. “Kak, aku ini masuk deretan orang jenius. Kakak tahu? IQ ku di atas rata-rata. Entah aku harus bangga, senang, atau sedih memiliki kelebihan itu, kak. Karena hal itu aku bisa mengetahui sesuatu hal dengan sendirinya.”


“Kau harus bangga dengan kelebihanmu itu,” saran George. Tangannya reflek mengelus rambut bocah itu dengan lembut.


George menatap wajah bocah itu lekat-lekat. Sungguh tak terlihat raut kesedihan sedikitpun di wajah itu, entah karena bocah itu pandai menutupi kesedihan atau memang tak merasa bersedih mengetahui permasalahan hidup orang tuanya.


George merasa tertampar, sebab ia yang sudah remaja menghadapi masalah orang tuanya saja langsung bersedih. Ia merasa nasibnya dengan bocah itu sama. Sama-sama dari keluarga yang tak harmonis, lebih tepatnya berpura-pura harmonis.