
Debaran jantung Marvel masih sama saat bertemu pandang dengan istrinya. Matanya terfokus dengan bibir yang indah itu. Sudah sangat lama ia tak menyentuh yang menjadi haknya.
“Boleh aku menciummu?” izin Marvel.
Gabby terkekeh dengan suaminya, ia mencubit gemas hidung suaminya itu. “Tentu saja boleh, kau kan suamiku,” jawabnya.
Tangan Marvel mulai memegang tengkuk istrinya. Ia mulai mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak sedikitpun. Bibirnya mulai menyatu dan saling membalas. Lidah mereka saling beradu, saling menyapu langit-langit di rongga mulut satu sama lain.
Pagutan itu semakin dalam dan menuntut, rasa yang belum pernah Marvel rasakan. Ia tak pernah menyentuh wanita manapun. Dan, ini adalah kali pertamanya melakukan dengan istrinya.
Hasrat Marvel menggebu. Ia semakin menginginkan sesuatu yang lain, melebihi ciuman itu.
Tangannya mulai membuka kancing baju pasien istrinya. Bermain dengan benda kenyal di baliknya.
Bibir Marvel mulai turun ke leher, ia memberikan cap kepemilikan di sana. Terus turun hingga ia sampai di puncak gunung yang menantang itu. Menghisap benda itu dengan rakus tanpa menghentikan sebelah tangannya yang terus meremas satunya.
Marvel melupakan ucapan George yang memberinya saran dari Dokter untuk mengajak Gabby berjalan di dalam ruangan. Hasratnya menutupi otaknya untuk berpikir. Yang ada di dalamnya hanya ingin merasakan kenikmatan yang mungkin ini adalah pertama dan terakhir sepanjang hidupnya.
“Engh ....” Gabby melenguh saat suaminya semakin memberikan rasa yang menyengat di dalam tubuhnya. Meskipun perutnya terasa sakit dan tak nyaman, tapi sebisa mungkin ia melayani suaminya yang tak pernah bertemu dengannya.
Marvel mulai membaringkan tubuh istrinya di ranjang pasien. Ia menatap lekat wajah Gabby dengan tatapan penuh dambanya. “Boleh aku melakukannya?” izinnya. Ia takut jika melakukan hubungan suami istri akan membuat Gabby sakit nantinya.
Gabby mengangguk. “Pelan-pelan.” Tak ada penolakan, Marvel memang berhak mendapatkan hak atas dirinya seutuhnya.
Marvel menuju pintu untuk menguncinya, ia tak ingin kegiatan panasnya terganggu saat berada di puncak kenikmatan.
Pria itu kembali menghampiri istrinya. Ia mulai melucuti pakaian Gabby hingga tak ada kain yang menutupi. Matanya menatap dari atas hingga bawah tubuh polos itu. Ia menelan salivanya. “Ternyata kau sangat cantik dan sexy,” pujinya.
Gabby tak malu, untuk apa ia malu dengan suaminya. Memang sudah semestinya seperti itu. Ia justru mengulas senyum saat Marvel juga tersenyum.
“Kau tak malu?” tanya Marvel.
Gabby menggeleng. “Kita suami istri, untuk apa malu. Kecuali kau orang lain, baru aku malu.”
Marvel semakin melebarkan senyumannya. Ia mulai merangkak naik ke atas ranjang pasien. Ia mengkungkung tubuh polos istrinya.
Bibirnya kembali melahap milik istrinya. Mencecapinya dan menyelami kenikmatannya.
Tangannya bergerilya kemana-mana, satu berada di benda kenyal istrinya dan satunya lagi memberikan sentuhan di bagian sensitif yang lembut di bawah sana.
Gabby melenguh dengan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya. Tubuhnya menggelinjang menginginkan lebih. Tangannya bahkan ikut meremas pantat suaminya karena hasratnya juga sudah memuncak.
“Now!” Gabby sudah tak tahan lagi, ia ingin segera mendapatkan lebih. Bahkan rasa sakit di perutnya tak ia perdulikan. Ia ingin memberikan pelayanan untuk suaminya.
Marvel mengangguk, ia membuka lebar kedua kaki istrinya dan perlahan memasukkan miliknya yang tanpa tulang namun bisa tegak dengan kokohnya.
Marvel mulai bermain, memompa pinggulnya perlahan. Sebisa mungkin ia tak memberikan hentakan yang membuat istrinya tak nyaman.
Tangannya tak lupa bermain di atas benda kenyal istrinya. Matanya terus menatap wajah Gabby yang cantik. Ia terus mengulas senyum saat Gabby mengeluarkan suara-suara erotisnya. Ingin rasanya ia memompa semakin cepat, tapi ia takut menyakiti Gabby.
Gabby meremas punggung suaminya saat ia merasakan sakit di perutnya, tapi ia enggan mengatakannya. Tak ingin membuat suaminya kecewa.
Desahan, erangan, rintihan kenikmatan bercampur sakit keluar dari mulut Gabby.
Marvel juga demikian, namun pria itu hanya merasakan nikmatnya surga dunia. Hingga ia sampai di titik puncaknya, segera mencabut alat tempurnya dan meledakkan di atas perut sang istri. Ia tak tahu apakah boleh meledakkan di dalam saat hamil atau tidak. Ia memilih aman untuk mengeluarkannya di luar.