Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 159



Davis, Diora, dan keempat anaknya yang digendong oleh babysitter masing-masing, datang ke kartel Lord setelah mendapatkan kabar jika Gabby mengurung dirinya selama satu minggu penuh.


Mereka melihat kondisi Gabby yang sudah tak berdaya dengan tali yang mengikat tangan dan kakinya menyatu dengan tiang kamar tidur Gabby.


“Kenapa dia bisa sampai seperti itu?” Diora bertanya dengan siapa saja yang bisa menjawabnya. Hatinya begitu sakit melihat sahabatnya itu. Sahabat yang selalu menjaganya.


George, Davis, dan Lord hanya saling melempar pandangan mereka. Tak ada yang mau menjawabnya.


Diora mendekat, air matanya terus mengalir melihat tubuh lemah tak berdaya itu. Ia duduk di samping Gabby. Mengusap wajah yang kumal dan tirus. “Apa yang membuatmu sampai seperti ini? Kenapa kau tak bilang denganku jika kau menderita? Kau seharusnya mengatakan padaku. Aku seperti sahabat dan kakak yang tak berguna untukmu.” Isakannya semakin kencang. Ia sangat sedih dan menyesal tak bisa melindungi adiknya.


Davis mencoba menenangkan Diora, namun wanita itu semakin histeris menangis dan meronta menepis tangan suaminya. Ia tak ingin beranjak meninggalkan Gabby. Ia ingin berada di samping Gabby sampai wanita itu terbangun.


Natalie tak ada di sana. Tubuh penyakitan itu sudah terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang.


George menarik tangan Lord dan Davis untuk mengikutinya. Ia membawa kedua tersangka itu ke atas rooftop.


Bugh!


Bugh!


George langsung melayangkan pukulannya pada Davis dan Lord. Ini adalah pukulan yang kesekian kalinya dari George. Seolah dia belum puas membalas rencana licik yang diperbuat oleh menantu dan mertua itu.


“Kalian lihat? Gara-gara rencana kalian! Gabby menjadi seperti itu,” raung George dengan wajah yang memerah emosi. “Apa kalian tak pikir panjang saat menjebakku dengannya? Apa kalian tak berpikir sampai sana? Sudah ku katakan, aku akan membantu dengan caraku! Kenapa kalian seenaknya sendiri melakukan sesuatu tanpa persetujuanku!” kesalnya.


Davis dan Lord tak membalas pukulan George. Aturan yang mereka buat, jika memang salah, tak boleh membalas.


“Kau juga menikmatinya, kan? Buktinya, kau justru melakukannya,” sahut Davis.


George melayangkan tatapan tak suka pada sahabatnya itu. “Diam kau! Kalian mau membunuhku dan dia? Jika aku tak melakukannya, entah apa yang akan terjadi denganku dan Gabby malam itu!” sentaknya.


“Kenapa kau tak memanggil dokter? Kenapa kau justru melakukannya? Pasti karena kau juga menginginkan itu,” balas Davis.


George terdiam, ada benarnya juga. Kenapa dia tak memanggil dokter malam itu.


Lord mendesah frustasi. “Aku tak tahu jika dia akan menjadi seperti ini, ku kira dia akan baik-baik saja.”


Bugh!


Lagi-lagi George melayangkan tinjuannya. “Orang tua brengsek!”


...........


Satu minggu tak melihat wajah wanita yang ia cintai, membuat Marvel sangat merindukan wajah Gabby. Terakhir kali mereka bertemu, saat Lord menjemput paksa Gabby untuk pulang ke kartel milik Lord.


Rindunya sudah tak terbendung lagi, pesan dan telefon pun tak dibalas sekalipun oleh wanita pujaan hatinya.


Marvel meraih kunci mobilnya, ia segera menuju basement. Menghidupkan mesin mobilnya dan melesatkan kendaraan roda empat itu ke jalanan Kota Helsinki.


Sudut bibir Marvel terus terangkat saat membayangkan akan bertemu dengan Gabby. Ia sudah membayangkan akan memeluk wanita yang selalu menghantui tidurnya. Wanita yang sudah sangat ingin ia miliki.


Segera turun dari mobilnya dan mulai mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam kartel milik Lord.


Anak buah Cosa Nostra yang berjaga di sana, mengantarkan Marvel untuk bertemu dengan Lord di rooftop.


Marvel mengernyitkan keningnya saat ia melihat ada George dan Davis sedang duduk bersama dengan Lord.


“Lord, aku ingin bertemu dengan Gabby.” Marvel langsung mengutarakan maksudnya. Ia tak ingin ditikung oleh George.


Lord dan George saling berpandangan. Mereka pikir, Marvel harus tahu tentang kejadian Gabby malam itu.


“Duduk dulu.” Lord menunjuk kursi di samping George.


Marvel mengikuti perintah itu.


“Ada yang ingin George sampaikan padamu,” ujar Lord.