
Lord dan Natalie yang tengah bermesraan menikmati masa tua tanpa beban pikiran itu pun menoleh ke sumber suara.
“Sekali lagi aku katakan padamu, bisa kau tinggalkan aku dengan Lord?” tegas George yang mendapati Natalie justru bingung akan kehadirannya.
Lord yang melihat ekspresi George yang tak baik-baik saja itu pun membisikkan pada Natalie agar kembali ke kamar dan menunggunya di sana.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat marah?” tanya Lord menegakkan duduknya.
George melebarkan langkahnya mendekati Lord. Ia mencengkeram kerah baju polo yang dikenakan oleh Lord. “Berdiri kau!” Ia menarik tubuh tua namun masih gagah itu.
“Ada apa? Kenapa kau marah padaku?” tanya Lord yang tahu jika pria di hadapannya kini tengah emosi.
George menghempaskan tangannya. Ia tak menanggapi Lord. Namun tangannya yang sudah mengepal mulai memainkan perannya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Pukulan bertubi-tubi tiada hentinya George layangkan pada Lord. Sesuai jumlah Gabby bersedih. Satu pukulan di pipi kanan untuk tangisan Gabby ketika di rumah sakit yang pertama kali ia lihat, satu pukulan di pipi kiri untuk tangisan Gabby saat ia menemukan wanita itu di laut, satu pukulan di perut untuk tangisan Gabby kemarin malam karena melupakan ulang tahunnya serta membela Diora untuk mau mencium Geroge, dan satu tendangan penuh tenaga di perut untuk kepergian Gabby yang ia ketahui hari ini.
Uhuk ... uhuk ...
Lord tehuyung ke belakang dan terjatuh di lantai semen. Ia terbatuk-batuk mengeluarkan darah segar dari mulutnya karena pukulan dan tendangan George yang membabi buta tanpa ampun.
Lord tak paham apa kesalahannya sehingga George menghajarnya. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit sekali.
“Kenapa kau menghajarku? Memangnya apa kesalahanku?” tanya Lord.
George masih berdiri dengan tatapan tajamnya menghunus Lord. Ia bahkan tak membantu Lord untuk berdiri.
George memilih menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di sana, tanpa memalingkan pandangannya sedikitpun.
Perlahan, Lord bangkit dengan tangan yang masih menahan perutnya. Ia duduk di hadapan George. Ia tak membalas pukulan George. Sebab, pasti ada alasan yang mendasari. Seperti biasanya saat ia menghajar Davis atau George ketika dua orang itu membuat anaknya kecewa atau sedih.
“Apa maksudmu? Apa karena ciumanmu dengannya semalam?” Lord mencoba menebaknya.
“Kau masih saja tak sadar! Apa kau ingat, kemarin hari apa?”
“Minggu.”
George berdecak mendengar jawaban itu. “Ada hari penting apa kemarin? Apa kau ingat?”
“Pernikahanku.”
Semakin geram saja George mendengarnya. “Maksudku, apa kau ingat hari penting apa kemarin untuk Gabby?” Ia mulai meninggikan suaranya dan menekan setiap ucapannya.
Lord mulai berpikir, ia memutar bola matanya untuk mengingat. Tapi tak ada yang dia ingat. “Memangnya apa selain yang aku sebutkan tadi?”
“Ulang tahun anakmu, Gabby! Apa kau melupakannya?”
“Ulang tahunnya? Astaga ... memangnya kenapa kau sampai menghajarku hanya karena ulang tahunnya?”
George berdiri lagi, ia tanpa sopan santun menendang wajah Lord hingga kembali terjatuh ke belakang.
“Orang tua macam apa kau itu! Kau sungguh tak mengenali anakmu? Bahkan kau tak mengucapkan atau memberikan doa untuknya?” Rasa kesal George sungguh tak bisa diartikan lagi, sudah level dewa mungkin.
“Aku bahkan lebih mengenalnya daripada kau! Dia tak pernah membutuhkan ucapan seperti itu, bahkan dia tak pernah mempermasalahkan hal itu. Setiap tahun aku tak pernah mengucapkannya. Untuk apa memberikan selamat pada umur yang bertambah dan justru semakin mendekati kematian?” Lord, ia mulai berdiri dan mau membalas George. Karena menurutnya ia tak memiliki kesalahan.
“Kau mau membalasku? Sadar diri dulu jika kau ingin membalasku! Kau salah, dan kau pantas mendapatkan apa yang aku berikan hari ini!” George menghempaskan tangan Lord yang ia tangkis saat hendak memukulnya.