Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 51



“Kau tahu ini dompetku dan kau masih tanya foto yang ada di dalamnya aku atau tidak?” Gabby menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum sinis. “Ku rasa aku tak perlu menjawabnya, seharusnya kau sudah tahu apa jawabannya! Kau tak terlalu bodoh untuk berfikir hal sepele seperti ini!”


“Jadi benar, itu kau?” George melihat punggung Gabby yang mulai berjalan ke sofa.


Gabby diam tak menjawab, pertanyaan yang seharusnya George sudah tahu jawabannya. Ia memilih menghempaskan tubuhnya di sofa dan duduk dengan angkuh.


George ikut duduk di hadapan Gabby. Tak memperdulikan Gabby yang meraung tak memberikan ijin untuk George duduk di sofanya.


“Apa kau lupa denganku? Apa kau tak mengingatku?” tanya George.


Semakin sinis saja wajah Gabby. “Aku bahkan mengingat betul siapa kau! Orang yang paling aku benci di dunia! Bukankah aku sudah mengatakannya padamu jika aku membencimu?”


Bukan, bukan itu jawaban yang diharapkan oleh George. “Empat belas tahun silam, kejadian saat di danau buatan itu. Apa kau tak mengingat?” Ia mencoba membuka kembali ingatan lampau itu.


Gabby mengedikkan bahunya acuh. Bahkan tak ada satupun yang tak aku ingat!


“Aku yakin kau pasti mengingatku,” ujar George percaya diri.


“Tentu, orang yang ku benci mana mungkin aku tak mengingatnya,” timpal Gabby.


George menggelengkan kepalanya. “Bukan itu maksudku, aku yakin kau masih mengingatku, pria remaja yang bertemu denganmu embat belas tahun silam. Bahkan kau masih menyimpan gelang pemberianku di dompetmu.”


George bergeming, ia tetap pada posisinya. “Janji itu, aku akan menepati janji itu, sekarang aku sudah menemukanmu, orang yang aku cari selama ini,” pintanya.


“Cih! Omong kosong! Kau fikir aku tak tahu kehidupanmu selama ini? Bahkan aku sudah tak memperdulikan janji busukmu itu, janji yang sudah kau ingkari sendiri!” tampik Gabby.


“Aku tak pernah mengingkari janjiku, selama ini aku mencarimu dan ternyata kau ada di dekatku.”


“Oh ya? Terus aku harus percaya dengan bualanmu itu? Mau kau taruh mana wanitamu yang sering kau ajak bergandengan mesra di mall dan yang kau belikan cincin tunangan itu?” Sorot mata Gabby tajam menatap George tanpa takut.


George diam sejenak, ia mengingat kembali kenangannya bersama mantan kekasihnya itu. “Catherine, aku sudah tak berhubungan dengannya, aku dan dia sudah lama berakhir,” sanggahnya.


“Oh ya?” Nada penuh tak percaya itu meluncur dari mulut Gabby.


“Ya, setelah ia menghianatiku di depan mata kepalaku sendiri aku melihat perselingkuhannya, tepat saat aku ingin melamarnya. Saat itu juga aku memutuskan hubunganku dengannya,” jelas George mencoba meyakinkan dengan kejujurannya.


Gabby tersenyum hambar. “Lalu, setelah itu kau baru mencari gadis kecil yang kau janjikan akan menikahinya?” tebaknya.


George menangguk.


Gabby tertawa terbahak-bahak. “Kau lucu sekali, setelah kau patah hati, baru kau ingat dengan janjimu? Memang benar apa yang aku katakan jika kau itu pria ingkar janji! Setelah keadaan mendesak baru kau mencari! Dari dulu kemana saja, kau? Tertelan bumi? Atau kau sibuk menetaskan dua telurmu hingga kau tak mengingat janji itu? Bahkan setiap detik aku mengingat janji kita,” ujarnya panjang lebar mengatakan semua yang ia rasakan. “Tapi itu dulu, sebelum aku mengetahui bahwa kau melupakan semua yang telah berlalu itu! Sekarang hanya ada kebencian dalam diriku untukmu!” ralatnya.