Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 181



Marvel membersihkan benihnya yang terbuang sia-sia dengan tisu. Ia membantu istrinya memakaikan pakaian pasiennya kembali.


“Aku ingin merasakan tidur memelukmu,” ujar Marvel saat ia juga sudah memakai pakaian lengkapnya.


Gabby lalu menepuk ranjang pasien di sisinya yang kosong. “Naiklah,” ajaknya.


Lagi-lagi Marvel mengulas senyumnya. Ia tak ingin terlihat bersedih di depan istrinya. Mungkin tak akan ada lagi momen seperti ini.


Marvel mulai naik ke atas ranjang, ia tidur di samping istrinya yang tidur dengan posisi miring. Ia berada di balik punggung Gabby. Tangannya melingkar untuk memberikan usapan di perut istrinya.


Gabby ikut memegang tangan Marvel yang terus bergerak. Tangannya menumpuk di tangan suaminya. Mengikuti irama yang menenangkan.


“Terima kasih istriku, kau adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan padaku,” ujar Marvel.


Disisa umurku yang tinggal menghitung bulan. Ia melanjutkan ucapannya yang belum selesai di dalam hatinya.


Marvel mencium puncak kepala istrinya. Ia begitu nyaman dengan perannya sebagai seorang suami. Ia pasti akan merindukannya disisa umurnya yang harus ia habiskan di dalam tahanan.


Marvel tertidur setelah kegiatan panasnya.


Namun tidak dengan Gabby. Ia sedang menahan rasa sakit yang semakin hebat. Melebihi sebelumnya. Ia meringis, sudah sangat tak tahan sekali rasanya.


“Em ... Marvel.” Gabby mencoba membangunkan suaminya, ia mengusap tangan yang melingkar di perutnya.


“Hm?” Marvel mulai mengerjapkan mata saat mendengar istrinya memanggilnya.


Marvel langsung duduk, ia memencet tombol untuk memanggil Dokter. “Tunggu sebentar, Dokter akan segera datang.” Sesungguhnya ia panik, ia belum pernah menghadapi ibu hamil. Tapi sebisa mungkin ia harus tenang.


Ketukan pintu terdengar nyaring di telinga sepasang suami istri itu. Tak lupa suara dari luar yang saling bersahutan memanggil untuk membukakan pintu.


Marvel menepuk jidatnya sendiri. “Aku lupa jika ku kunci.” Ia segera membukanya. Dan kembali duduk di samping istrinya memberikan usapan di punggung yang masih tertidur miring itu.


George justru yang pertama kali masuk ke dalam setelah pintu dibuka, bukan Dokter. Ia yang paling khawatir saat Dokter datang menuju ruangan Gabby dan mengatakan ada panggilan dari ruangan itu.


Namun George langsung menghentikan langkahnya saat ia tersadar jika ada suami Gabby yang lebih berhak. Ia tak jadi menghampiri wanita yang ia cintai itu.


Ternyata sakit rasanya tak bisa berada di samping orang yang ku cintai saat seperti ini. George menghela nafasnya. Hatinya hancur namun ia sebisa mungkin menutupinya.


“Bagaimana keadaannya?” George memilih untuk bertanya saja kepada Dokter yang memeriksa.


Sesak sekali rasanya, hati George sangat tak bisa lagi diutarakan betapa hancurnya saat melihat leher wanita yang ia cintai memiliki tanda merah keunguan. Ia tahu tanda apa itu. Namun ia tetap mengulas senyum saat menatap Gabby.


Gabby memang istrinya, untuk apa aku sakit hati dengan orang yang memang seharusnya melakukan hal itu. Bahkan dia tetap menerima wanita yang sudah ku hamili. George bergumam di dalam hatinya untuk menghilangkan gemuruh di dadanya.


“Bisa jelaskan sekali lagi dok?” George meminta Dokter untuk mengulangi penjelasan terkait kondisi wanita yang ia hamili. Ia tadi sempat tak fokus karena melihat tanda kepemilikan di leher Gabby yang berhasil membuatnya melamun.


“Sudah saatnya melahirkan, Tuan,” jelas Dokter itu.