
Setelah menerima telefon, Marvel langsung berpamitan pulang. Dengan langkah yang terburu-buru, ia turun ke basement dimana Jo sudah menunggunya.
Jo membungkukkan sedikit badannya ketika Marvel sudah berada di dekat mobil. Ia langsung membukakan pintu mobil untuk Tuannya.
“Ke kartel Lord!” titah Marvel sebelum pintu ditutup oleh Jo.
“Baik, Tuan.” Jo memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Ia langsung menghidupkan mesin mobil dan lekas menuju tempat yang diminta Marvel.
“Cepat!” Marvel mulai gusar karena Jo sangat lama mengendarai mobilnya. Ia yang baru saja menerima laporan dari anak buahnya yang ia tugaskan untuk memantau pergerakan George, bahwa George datang ke kartel Lord dan belum juga keluar. Ia sudah berfikiran jika George ingin meminta dukungan dari Lord langsung untuk mendapatkan Gabby. Hal itu tak boleh terjadi. Gabby hanya miliknya!
Jo mempercepat laju kendaraannya, berlenggak lenggok menyalip kendaraan demi kendaraan yang menghalangi jalannya.
...........
George yang baru saja melakukan pembicaraan penting dengan Davis dan Lord mengenai permasalahan Lord dan juga Davis, hendak meninggalkan kartel yang terlihat megah itu. Namun sebelum beranjak, Lord mencegah terlebih dahulu.
“Davis, bisakah kau meninggalkanku dengan George terlebih dahulu? Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padanya,” pinta Lord pada menantunya—Davis.
Davis mengangguk, “aku pulang dulu, Diora pasti sudah menungguku. Kau bisa meminjam mobil Lord jika ingin kembali.” Ia menepuk pundak George sebelum meninggalkan dua pria beda generasi itu.
Lord dan George duduk di rooftop ditemani dengan hembusan angin yang begitu segar, pemandangan penuh pohon-pohon besar yang mengitari kartel milik Lord, dan dua gelas wine.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” George langsung bertanya pada inti pembicaraan mereka. Hari sudah malam, dan selama satu hari ia kurang tidur memikirkan ucapan Gabby terakhir kali 'tanyakan pada hatimu, dimana letakku berada' kalimat itu selalu berputar di pikiran George. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya yang lelah itu.
“Apa kau menyukai Gabby, putriku?” Setelah mengamati, menimbang, dan memutuskan ketika Lord bertanya tentang tujuannya ingin menjadikan Gabby sebagai penggantinya memimpin Cosa Nostra, George selalu tidak setuju. Ditambah George mengatakan bahwa dia juga bisa menjadi menantu Lord ketika Lord memberikan pujian pada ide George yang cerdas dan Lord menginginkan menantu yang cerdas seperti George. Dari hal itu, Lord menilai George memiliki perasaan pada Gabby.
“Bisa dikatakan seperti itu,” jawab George.
George nampak menimbang apa yang harus ia jawab. Apakah dia harus menjawab jika sudah melamar Gabby tapi tak mendapatkan jawaban? Ah tidak, itu akan menginjak-injak harga dirinya di depan calon mertuanya.
“Aku sedang memikirkannya.” Hanya itu yang bisa George jawab.
Perbincangan keduanya terhenti ketika anak buah Cosa Nostra datang. “Maaf, Tuan. Ada Tuan Marvel datang mencari Anda,” ujarnya.
Lord mengangguk, “antar dia ke sini,” titahnya.
“Baik, Tuan.” Perintah Lord langsung dilaksanakan.
Tak berselang lama, Marvel pun datang. Sorot matanya tajam mengamati George dan Lord yang sepertinya telah melakukan perbincangan serius. Ah sial! Kenapa ia tak meletakkan mata-mata di kartel Lord untuk mencaritahu.
“Hi, Paman. Lama tak bertemu,” sapa Marvel. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Lord. Lord pun membalasnya. Mereka memang sudah dekat sedari dulu.
Awalnya ia ingin menjodohkan Gabby dengan Marvel, namun diurungkan. Karena Marvel terjun ke bisnis gelap.
“Duduk.” Lord mempersilahkan Marvel yang terlihat tak ramah dengan George. “Ada apa kau kemari?” tanyanya kemudian.
“Aku hanya ingin memberitahu, bahwa aku sudah memutuskan untuk berhenti dari duniaku, sesuai permintaan Gabby. Dan putrimu menyetujuinya akan mendampingiku,” ujar Marvel.
George melihat Marvel yang terlihat jujur. Sial! Apa artinya dia kalah? Selama nama mereka belum tercatat di Kantor Catatan Sipil, ia tak akan menyerah.
Lord sudah menduga jika Marvel memang menyukai putrinya. Tapi ia tak pernah menyangka jika seorang Marvel mau berhenti dari dunia gelapnya hanya demi cinta. Oh! semakin dibuat pusing dirinya, mana yang harus dia pilih menjadi menantu.