
Diora tak henti-hentinya menangis membaca surat dari Gabby. Ia melihat kalender yang ada di meja kerjanya, melihat tanggal. Ia semakin histeris tangisannya hingga Lyana langsung masuk tanpa permisi karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada bosnya.
“Nona, anda kenapa?” Lyana mendekati Diora yang sudah bersimpuh di lantai dengan tubuh bersandar di meja.
Diora tak menjawab Lyana, ia meraung sejadi-jadinya. “Kenapa aku bisa lupa jika kemarin adalah hari ulang tahunnya!” Ia memukuli kepalanya sendiri, merutuki dirinya yang terlalu senang karena telah bertemu dengan orang tua kandungnya, terlalu senang dengan kabar kehamilannya, dan terlalu senang dengan suaminya yang begitu mencintainya.
Lyana mencekal tangan Diora agar tak menyakiti tubuhnya sendiri. “Nona, tenanglah.”
Diora tak bisa tenang, ia semakin menangis. “Sahabat macam apa aku! Bahkan Gabby tak pernah sekalipun lupa denganku!”
Lyana bingung harus berbuat apa, ia memilih keluar untuk menghubungi sekretaris Davis, meminta tolong agar menyampaikan pada Davis dan menceritakan apa yang terjadi pada Diora. Ia kembali lagi ke dalam untuk menemani Diora yang masih histeris menyalahkan dirinya.
...........
Hentakan pantofel dengan lantai di gedung itu terdengar memburu. Tak hanya satu suara langkah kaki saja yang menggema di sana. Namun dua.
Pintu ruangan Diora terbuka lebar. Menampakkan dua pria dengan tatapan yang tajam. Davis dan George. Keduanya menghentikan rapat setelah mendapatkan kabar tengang Diora yang histeris dan meneriakkan nama Gabby.
Davis segera memeluk istrinya untuk menenangkan. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada wanita yang ia cintai itu.
Sedangkan George, ia masih berdiri dengan kokohnya. “Apa yang terjadi? Coba jelaskan padaku.” Ia memilih bertanya pada Lyana.
“Saya kurang tahu, tuan. Nona Diora langsung menangis histeris setelah saya memberikan surat pengunduran diri nona Gabby,” jelas Lyana.
Lyana pun menceritakan kronologi dirinya yang mendapatkan titipan surat dan memberikannya pada Nona Diora. Ia juga mengatakan jika tak tahu isi surat yang satunya.
“Berikan padaku suratnya,” perintah George pada Davis, agar Davis mengambil surat yang masih terus dipegang erat oleh Diora.
Davis pun mengurai jemari istrinya yang mencengkeram erat kertas putih dengan goresan tinta merah itu. Memberikannya pada George.
George membaca setiap katanya. Ia meremas kertas itu hingga tak berbentuk setelah selesai membaca. Entah kenapa, ia yang membaca surat itu pun ikut merasakan betapa sakitnya terlupakan. Ia paham jika Gabby memberikan kalimat sindirian pada Diora dengan mengatakan terima kasih untuk pesta semalam.
George melemparkan kertas itu hingga terjatuh di hadapan Diora. “Bertahun-tahun Gabby menjadi sahabat dan pelindungmu. Tak pernah sekalipun dia melukapakanmu. Dia selalu ada saat kau senang atau pun akan menjadi orang pertama yang menghiburmu saat kau sedih. Tapi, hal sekecil itu? Hanya tanggal ulang tahunnya saja kau lupa. Kau tahu kan jika dia menyindirmu dalam surat itu?”
Diora mengangguk, ia memang sadar hal itu. “Aku benar-benar lupa, aku tak mengecek tanggal karena terlalu senang dengan yang aku dapatkan beberapa hari ini.”
Tangan George mengepal erat, mendengar jawaban Diora, ia malah semakin kesal. “Kau tahu? Dia berkorban banyak hal untukmu, dia mengesampingkan dirinya hanya demi dirimu! Ada luka yang dia kubur sendirian tanpa kalian tahu itu!”
Uh! Mulut George Sangat gatal, bahkan ia tak sengaja mengatakan sesuatu yang sudah dilarang oleh Gabby agar tak dikatakan pada siapapun, tentang kerapuhannya.
Diora, ia semakin histeris saat George terus menyalahkannya. Ia terus memukuli kepalanya, merutuki otaknya yang melupakan sahabat terbaiknya.
“Sudahlah, kau jangan menyalahkan istriku terus!” sentak Davis pada George.
“Bela saja terus istrimu itu! Teman macam apa yang bisa melupakan sahabatnya sendiri! Sekarang, dia pergi. Apa artinya itu? Artinya dia kecewa denganmu!”