Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 116



Dua hari berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Lordeus dan Natalie. Entah harus bahagia atau tidak, Gabby tak tahu. Ia masih meratapi kesedihannya kehilangan cincin peninggalan Mamanya.


Gabby sudah mencoba ingin kembali ke laut untuk menyelam dan mencari ponselnya yang tenggelam ke dasar laut, namun tak bisa. Ia dijaga ketat oleh anak buah Marvel.


Demi keselamatan Gabby, Marvel dengan terang-terangan memberikan penjagaan agar wanita itu tak berbuat nekat lagi. Meskipun Gabby tak suka pun Marvel tak perduli.


Marvel sudah memperingatkan pada anak buahnya agar bekerja dengan benar tanpa ada kesalahan sedikitpun.


Sudah dua hari ini Gabby tak memiliki ponsel, ia berencana ingin keluar untuk membeli benda canggih itu. Sekaligus membeli hadiah untuk pernikahan Papanya.


Gabby menghembuskan nafasnya ketika ingatan tentang Papanya yang terlihat bahagia bersama Natalie dan Diora saat di rumah sakit, terlintas dalam benaknya. Masih sesak dadanya.


Klek!


Pintu apartemen Gabby terbuka, wanita itu menyembul keluar dengan pakaian tomboi seperti biasa. Celana jeans berwarna hitam yang sangat ketat, kaos hitam yang kedodoran dibalut dengan kemeja hitam yang tak di kancing dengan lengan digulung hingga menjadi lengan tiga perempat, sneakers hitam, rambut di gulung dan ditutup dengan topi hitam, tak lupa kaca mata hitam bertengger menutupi mata sembabnya. Tas hitam yang selalu menjadi andalannya pun sudah berada di balik punggungnya.


Hari ini Gabby seolah tengah berkabung, hatinya tentunya yang semakin hari semakin tersakiti.


“Anda mau ke mana, nona?” tanya pria berpakaian hitam dengan postur tubuh seperti tukang pukul, ditambah brewok yang begitu lebat menambah kesangaran orang itu.


“Apa matamu buta? Kau tak lihat aku keluar? Ya jelas saja aku mau pergi!” sentak Gabby yang kesal dengan pria itu. Orang yang selalu menggagalkannya untuk mencari ponselnya yang hilang.


“Maaf, nona. Saya hanya menjalankan tugas untuk menjaga anda.” Pria itu menghalangi jalan Gabby agar tak bisa lewat.


“Menjaga, kan? Bukan mengurungku? Kau bisa ikut denganku jika mau!” cetus Gabby dengan angkuh melipat kedua tangannya di dada.


“Nona, Tuan Marvel tak mengizinkan anda mengendarai sepeda motor,” cegah pria berbrewok lebat itu saat Gabby menghampiri sebuah motor gede yang terparkir di samping mobil macho berwarna hitam.


Gabby memutar tubuhnya untuk menatap anak buah Marvel itu. “Siapa yang ingin mengendarai sepeda motor?” Tangannya memencet tombol kunci.


Bip ... bip ...


Mobil hitam yang gagah itu berbunyi. Tanpa dijelaskan pun mereka sudah tahu jika mobil itu yang ingin dikendarai.


Gabby mengayunkan kakinya lagi, lalu masuk ke dalam mobil Hummer H1 berwarna hitam yang sangat gagah itu. Sayang sekali jika mobilnya tak pernah dipakai.


Blam!


Gabby membanting pintunya sangat kencang. Ia menurunkan kaca mobil di sebelahnya. “Kalian mau ikut atau tidak?” Ia bertanya dengan anak buah Marvel yang masih diam menghalangi jalannya.


Dua pria berpakaian serba hitam itu pun ikut naik ke dalam mobil, keduanya duduk di bangku belakang atas perintah Gabby.


Gabby memacu mobil yang tak pernah ia pakai itu, hanya memanasi mesinnya saja setiap hari agar tak rusak.


“Nona, bisakah anda memelankan lajunya? Atau, biarkan saya yang menyetir,” ujar pria brewok itu. Ia bukan takut akan keselamatan dirinya, namun keselamatan Gabby.


Gabby mengendarai mobilnya ugal-ugalan, menyalip kendaraan lain, bahkan putar balik sembarangan di atas rel dimana kereta listrik akan lewat beberapa saat lagi.


“Tenang saja, mobilku ini biasa digunakan sebagai mobil perang orang Amerika. Jika ku tabrakkan dengan mobil yang sedang melaju ke sini pun tak akan rusak. Apa kalian ingin membuktikannya?” tantang Gabby menunjuk sebuah mobil yang melintas berlawanan arah dengannya.