Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 113



Marvel terus melihat jarum jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi, satu menit dari George menenggelamkan diri ke dalam air laut.


Marvel menggigit bibir bawahnya khawatir sekaligus cemas. Jika dalam waktu yang diberikan oleh George habis, ia tak tahu bagaimana caranya menggunakan motor boat untuk menuju ke dermaga mencari pertolongan. Tangan dan kakinya bahkan sedari tadi gemetaran karena berada di atas laut. Meskipun sudah menggunakan pelampung, ia tetap takut.


“Tuhan, tolong selamatkan Gabby dan juga George, meskipun dia saingainku. Ku mohon Tuhan, kabulkanlah secepat mungkin, aku tak pernah lagi berdoa padamu selama ini, tapi untuk kali ini, aku ingin mencoba lagi berdoa padamu. Tolong, kali ini selamatkanlah mereka. Jangan kau ambil mereka sebagaimana kau mengambil orang tuaku.” Marvel mencoba memanjatkan doa setulus mungkin.


Semenjak kedua orang tuanya meninggal karena kapal karam tujuh tahun yang lalu, Marvel tak pernah lagi berdoa. Ia menganggap berdoa itu hanyalah sia-sia. Sebab, saat itu ia memohon kepada Tuhannya untuk menghidupkan kembali orang tuanya, namun tetap saja orang tuanya tiada. Mulai saat itu jugalah dia menjadi liar dan belajar menggeluti bisnis narkoba hingga ke jual beli organ manusia secara ilegal diusia yang sangat muda, lima belas tahun. Kini, umurnya dua puluh dua tahun. Tujuh tahun sudah Marvel berada di jalan yang salah.


Helaan nafas penuh kefrustasian keluar dari mulut pria bertatto jangkar itu. Pria yang tak percaya akan keagungan Tuhan itu semakin gelisah.


Bah ...


Bunyi seseorang yang membuang kasar nafasnya dari mulut terdengar dari samping speed boat. Marvel langsung melihat ke arah suara itu.


Dilihatnya dua orang yang baru saja ia doakan itu sudah muncul ke permukaan.


George membantu Gabby untuk naik ke speed boat dan ia pun ikut ke atas kendaraan air itu juga.


“Terima kasih Tuhan, sekarang aku percaya bahwa Engkau itu ada,” gumam Marvel lega.


Speed boat dan motor boat itu bersebelahan, sehingga Marvel dapat melihat tubuh yang basah itu dengan jelas.


“Kau tak apa?” tanya Marvel pada Gabby.


Gabby melihat ke arah Marvel dan mengangguk untuk menjawabnya.


Sedangkan George, ia justru kesal dengan Gabby yang berpikiran pendek. Hanya karena hidup dalam ketidakadilan Papanya, membuatnya menenggelamkan diri ke dasar laut.


“Apa kau sudah gila! Apa kau bodoh! Apa kau sungguh sudah lelah hidup! Kenapa kau mencoba bunuh diri? Ha!” seru George yang tak bisa menahan rasa khawatirnya. Jika saja ia terlambat menyelamatkan Gabby. Ia tak tahu bagaimana nasib wanita itu.


“Kau!”


“Sembarangan, untuk apa aku bunuh diri?” Gabby membela dirinya.


“Lalu, kenapa kau menceburkan dirimu dan ingin ke dasar laut?” George begitu marah, entah kenapa ia tak suka jika Gabby berpikiran pendek.


“Karena aku ingin mengambil ponselku yang tak sengaja terjatuh di sana!” sentak Gabby membalas sebagaimana George yang berbicara dengannya menggunakan nada tinggi.


“Hanya karena ponsel, kau sampai berenang ke dasar? Kau pikir, kau itu ikan yang bisa berenang lama tanpa bantuan oksigen?”


“Kau tak tahu, ponsel itu sangat penting bagiku!”


“Aku akan membelikanmu yang sama dengan milikmu itu!”


“Kau pikir aku tak mampu membelinya lagi? Ha! Sepuluh unit pun aku bisa membelinya! Masalahnya, bukan terletak pada ponselku, tapi gantungannya! Aku menaruh cincin peninggalan Mamaku untuk gantungan ponsel, karena aku tak bisa memakai perhiasan!” jelas Gabby meluruskan mengapa ia sampai nekat berenang ke dasar laut.


“Cincin itu sangat berharga untukku, karena hanya itu yang ditinggalkan Mamaku untukku.” Gabby menekuk kedua kakinya di atas kursi speed boat itu. Ia menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangannya yang menyilang di atas lutut.


Perasaan George sungguh campur aduk melihat punggung Gabby yang bergerak naik turun seirama dengan tangisan yang selalu tanpa suara itu.


George menepuk-nepuk punggung itu untuk memberikan ketenangan.


“Em ... pria pelit, tak bisakah kita kembali ke dermaga? Tubuhku sedari tadi tak bisa berhenti bergetar. Jujur saja, aku takut dengan air,” celetuk Marvel. Ia sudah tak tahan lagi berlama-lama di sana. Selain tak tahan dengan air, ia juga tak tahan melihat perlakuan George dengan Gabby. Ia tak berkutik untuk memisahkan dua orang di atas speed boat itu.


George berdecak, “jika tahu kau takut air, kenapa kau memaksa untuk ikut! Menyusahkan saja.” Ia sungguh kesal dengan Marvel.