
George tak kembali ke rumah sakit saat mengetahui bahwa Diora sudah mendapatkan pendonor darah. Ia juga mengatakan pada Davis jika tak akan kembali lagi. Ia mengajak Gabby pergi ke cafe yang berada di dekat sana.
Kepulan asap putih dari dua cangkir berisi hot cappuccino dan hot chocolate yang baru saja diantar oleh pelayan itu, menemani kebisuan di meja paling ujung cafe.
Gabby terus membuang pandangannya ke luar kaca transparan yang memperlihatkan jalanan kota. Ia tak kuasa untuk menatap ke pria gagah, tampan, rupawan, dan penguasa hatinya itu. Ia tak ingin membuat keputusannya goyah, mengingat pria kaku di hadapannya sudah melakukan banyak hal padanya. Tapi, dia juga tak bisa mengabaikan perasaan Marvel lagi.
Lalu, bagaimana dengan hatinya? Entahlah, ia akan menjalaninya saja. Seiring berjalannya waktu, pasti perasaan dengan George akan mulai terkikis. Tapi kapan? Bahkan sudah dikecewakan pun tetap saja masih utuh rasa di hatinya.
Ah sudahlah, cinta memang membingungkan. Tak bisakah tak ada cinta di dunia ini? Kenapa juga harus ada dua pria yang membingungkannya. Apa tak bisa satu saja agar tak pusing memilih? Agar tak ada hati yang tersakiti juga.
George, pria itu terus memandang Gabby. Tak ada bosannya ia menatap wajah cantik yang ternyata selalu ia pikirkan. Mungkin dia rindu. Bahkan ia sangat ingin memeluk ketika pertama kali melihat Gabby lagi, namun gengsinya terlalu tinggi.
Dua minuman panas yang tadi mengepulkan asap itu sudah menjadi dingin. Satu jam lamanya, mereka hanya diam tak ada suara yang menemaninya. Selama itu juga, George tak bosan memandang Gabby.
Gabby mulai jengah, ia mulai bosan. Jarum jam di tangannya ia lihat. Ia berdehem sejenak. “Apa kita hanya akan berdiam seperti ini? Ada orang yang menungguku di rumah. Jika tak ada yang ingin kau sampaikan, aku pergi dulu.” Gabby memecah kesunyian, namun tak mengalihkan pandangannya.
Wanita itu sudah tak galak lagi dengan George, rasanya tak enak jika membentak pria itu. Karena sudah rela menyelam mengambilkan barang yang ia sayangi, dan juga mengingat hari ulang tahunnya. Sesungguhnya ia sadar jika George mulai perduli dengannya. Tapi ia tak tahu perasaan George, apakah masih karena janjinya, atau karena mencintainya.
Namun sayang, tetap tak ada kata cinta yang keluar. Padahal ia sangat menantikan kata itu. Tapi, apa gunanya jika diucapkan sekarang? Tak ada, sudah terlambat. Gabby sudah menentukan pilihan.
“Aku ingin tahu, kau pergi ke mana selama ini? Bagaimana kehidupanmu?” Lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar, seolah tak puas dengan jawaban Gabby.
“Sudah ku katakan, aku ada di suatu tempat yang nyaman. Tentunya aku senang. Apa lagi jawaban yang ingin kau dengar?”
“Bukan urusanmu. Mulai sekarang, urus saja urusan masing-masing. Jangan mencampuri urusanku,” tegas Gabby.
Jika George terus ikut campur dengannya, ia takut goyah. Ia takut menyakiti Marvel. Ia sudah merasakan betapa pedihnya tersakiti, ia tak ingin membuat orang lain merasakan kepedihan karenanya juga.
Aku tak boleh goyah!
“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”
“Kau sudah melihat aku baik-baik saja, kan?”
Diam, George memang lega sudah melihat Gabby lagi tanpa cacat sedikitpun. Bahkan terlihat lebih segar dan cantik.
Gabby berdiri dari duduknya. Ia melihat jam lagi di tangannya. Menyempatkan sejenak untuk menunduk melihat George. Jantungnya masih merespon sama, tetap berdegup tak karuan saat manik matanya bertemu dengan George.
Gabby mengangkat kepalanya untuk menatap lurus ke depan, membuang perlahan nafasnya. “Aku pergi dulu,” pamitnya. Ia berbalik dan hendak mengayunkan kakinya.
“Aku mengkhawatirkanmu selama sembilan bulan ini.”
Suara itu membuat Gabby mematung di tempatnya.
Tanpa berbalik, dia bertanya lirih namun masih terdengar oleh George. “Kenapa?” Selalu pertanyaan itu keluar dari mulut Gabby untuk George. Entah sudah keberapa kalinya Gabby selalu bertanya ‘kenapa’ pada pria kaku itu. Namun jawabannya selalu saja tak memuaskan.