
Desahan, erangan, rintihan kenikmatan keluar dari mulut Gabby dan George. Penyatuan untuk kesekian kalinya mereka lakukan, seolah hasrat itu tak hilang dari dalam tubuh mereka.
Hentakan yang dilakukan oleh pria gagah itu membuai Gabby ke atas nirwana kenikmatan. Meskipun awalnya terasa menyakitkan karena baru pertama kali ini ia lakukan.
Seiring kenikmatan yang ia dapatkan, perlahan rasa sakit itu berubah menjadi desahan.
Tangan kekar itu begitu lihai bermain di atas sesuatu yang kembar, mulutnya bahkan mencecapi pucuknya. Namun tetap kejantanannya beraksi di bawah sana.
Mata Gabby terpejam menikmati semua sensasi yang baru ia rasakan itu. Tangannya menyentuh kepala sang pria, menahan agar tak menyudahi bermain di atas benda kenyalnya. Sensasi menggelikan namun terasa nikmat.
Ritme hentakan di bawah sana kian cepat hingga membuat dua benda kenyal itu ikut naik turun seirama dengan hentakannya.
“Ah ....” Keduanya mengerang bersamaan saat mencapai titik klimaksnya.
George menjatuhkan tubuhnya di samping Gabby setelah hasrat panasnya sudah tak bersarang lagi.
Gabby menitihkan air matanya saat kesadarannya telah kembali, ia sadar dengan kesalahan yang baru saja ia perbuat. Dan itu dilihat oleh George.
“Maaf.” George menyeka air mata Gabby dengan lembut. “Seseorang menjebak kita, mereka menaruh obat perangsang di dalamnya. Satu-satunya untuk menghentikan rasa panas itu hanya dengan melakukan aktivitas yang baru saja kita lakukan,” ujarnya menjelaskan.
Gabby menitikan air matanya semakin deras, ia memiringkan tubuhnya membelakangi George. Ia meringkuk, mencoba menutupi tubuhnya yang polos. “Kenapa? Kenapa mereka melakukan itu?”
George menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos. “Tidurlah, kita bicarakan ini besok.” Memberikan usapan lembut pada rambut yang lepek karena peluh itu.
...........
Sinar matahari mencoba menerobos masuk melalui celah kaca jendela kamar hotel itu. Dua manusia yang masih polos di balik selimut belum juga membuka matanya.
George yang mendengar teriakan itu langsung bangun dan mencekal pergelangan tangan Gabby agar tak menyakiti diri sendiri. “Tenanglah.” Ia merengkuh tubuh itu untuk menyalurkan kenyamanan.
Gabby meronta, dia memukuli George dengan kasar.
Pria itu diam saja menerima semua kekesalan Gabby. Hingga lelah sendiri Gabby memukuli dirinya.
Setelah dirasa tenang, George turun dari ranjang. Ia mengambil bathrobe untuk menutupi tubuh polosnya. Ia juga mengambil satu untuk diberikan pada Gabby.
“Pakailah, bajumu masih basah karena semalam berendam di bathup.” George memberikan bathrobe itu.
Gabby hanya menatap kosong. Ia menitikan air matanya terus tanpa berucap sepatah katapun. Ia merasa hidupnya sudah hancur.
George menghembuskan nafasnya, ia memakaikan bathrobe itu pada Gabby. Lalu duduk di samping wanita itu. Ia memegang pundak yang jiwanya seperti kosong. Gabby terus melamun, entah apa yang dia pikirkan.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku, aku akan menikahimu,” ujar George.
Gabby mengalihkan pandangannya yang kosong untuk menatap pria di hadapannya itu. “Jika kau ingin menikah denganku hanya karena ingin bertanggung jawab atas kejadian ini atau ingin memenuhi janjimu dulu. Maka lupakan, aku tak membutuhkannya,” lirihnya memberikan jawaban.
George menggeleng, ia teringat dengan ucapan Davis. Jika cinta katakan cinta, jika tidak katakan tidak. “Memang aku harus bertanggung jawab akan hal itu, tapi bukan hanya karena itu saja aku ingin menikahimu.”
“Lalu apa?” Kedua manik mata itu saling bertemu memberikan debaran hebat pada sang pemilik raga.
“Karena aku juga mencintaimu.”