
George meninggalkan Gabby dan Marvel di parkiran. Ia tak mengantarkan Gabby, karena ada hal yang lebih penting dari itu. Untuk masalah menjaga dan mengantar wanita itu, ia bisa percayakan pada Marvel. Namun tidak untuk urusan yang satu ini.
George menuju kantor pelapuhan Helsinki. Ia bertanya sebuah barang yang penting di sana. Untungnya, di sana ada. Ia pun meminjam itu. Tabung oksigen beserta peralatan untuk menyelam di perairan dalam. Ia juga memberitahukan maksud tujuannya kepada petugas di sana, meninggalkan identitasnya. Agar, jika terjadi sesuatu hal yang buruk, petugas dapat dengan mudah mencarinya.
George meminjam speed boat lagi, ia menuju ke titik di mana ponsel Gabby terjatuh. Ia bisa yakin tempatnya, sebab pelacak yang ia pasang di dalam pelindung ponsel Gabby masih terdeteksi.
George sudah tak memakai jasnya lagi, sedari tadi ia melepaskan kain yang tak membuatnya leluasa untuk berenang. Ia mulai memasang seluruh peralatan menyelam.
Setelah siap, George menenggelamkan kembali tubuhnya ke air laut yang jika dilihat dari atas, tak terlihat dasarnya.
George berenang menuju dasar yang dalamnya seratus meter. Semakin ke dasar, hewan-hewan laut yang ia lihat pun mulai aneh. Biota laut itu mengeluarkan cahaya, biasanya disebut dengan bioluminescence.
George tak terfokus pada hewan-hewan itu, tujuannya adalah mencari ponsel Gabby. Ia berusaha menghindari hewan laut yang sekiranya membahayakannya.
Matanya menajam, mencari benda yang sepertinya sangat disayangi oleh Gabby. Beruntungnya, ia memakai headlamp yang biasa digunakan untuk penyelam, sehingga dapat menerangi dasar laut di mana saat ini ia berada.
George mengamati setiap karang di sana, mungkin ponsel itu terjatuh dan terselip di karang itu. Matanya perlahan menyapu titik demi titik, hingga ia melihat sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang. Ia yakin jika itu adalah yang ia cari, sebab ada gantungan cincin yang menghiasi ponsel itu.
George berenang ke arahnya. Namun ia terhenti saat mengetahui, bahwa lokasi ponsel itu berada di bawah kumpulan ubur-ubur laut yang memiliki racun.
Semakin ke dasar, George memilih berenang mendekat semakin ke dasar. Ia semakin dekat ke gerombolan ubur-ubur, semakin dekat pula dengan ponsel Gabby. Tangannya mulai terulur untuk mengambil benda yang ia cari itu.
Hap!
Dapat, George mendapatkannya. Hatinya sangat senang, entah mengapa yang ada di pikirannya adalah wajah Gabby yang bahagia jika melihat barang yang disayangi itu.
George tak ingin berlama-lama di dalam sana, jujur saja tubuhnya lelah menyelam hingga ke dasar. Ia mulai berenang ke atas. Namun, tak sengaja ia tersengat ubur-ubur di kakinya.
Sebelum sengatan itu menimbulkan reaksi, George sekuat tenaga berenang ke atas. Ia harus segera mengobatinya, untuk mencegah hal buruk yang mungkin akan terjadi akibat racun dari biota laut perairan dalam itu.
George sampai di speed boatnya. Ia naik ke sana, melepaskan peralatan menyelamnya, dan melajukan dengan kecepatan tinggi untuk segera mencari pertolongan. Sebab, ia bukan ahlinya dalam menangani sengatan ubur-ubur.
Sesampainya di dermaga, ia mencari petugas. Siapapun itu yang bisa menolongnya untuk mengobati sengatan ubur-ubur yang kini sudah membuat kakinya mulai terasa seperti terbakar.
“Tolong, aku terkena sengatan ubur-ubur,” ujar George pada salah satu petugas yang pertama kali ia temui.