
Langkah George terhenti ketika tubuhnya sudah dihadang oleh Davis.
“Minggir kau, aku tak ada urusan denganmu!” usirnya dengan sorot mata tajam menatap Davis.
Davis bergeming. “Mau pergi kemana kau?” Ia memilih bertanya pada George hingga istrinya sampai dengan nafas yang terengah-enggah.
“Bukan urusanmu, ada hal penting yang harus aku lakukan dengan wanita ini,” timpal George. Terdengar jelas bahwa pria itu tak ingin orang lain ikut campur dengan apa yang akan dia lakukan.
“Gabby, wanita itu namanya Gabby.” Diora yang baru sampai itu memberitahukan nama sahabatnya, tak suka jika George menyebut Gabby dengan wanita ini.
“Ya, terserah siapapun namanya, aku tak perduli.” George sudah tahu namanya, namun mulutnya enggan menyebut nama Gabby.
Gabby menghela nafasnya, ia tak ingin dikasihani jika Diora melihat lukanya. “Aku mau kembali ke penginapan, perutku melilit,” pamitnya disertai dengan alasan yang tak jujur.
Gabby segera menyentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman George yang sedang mengendur. “Kalian lanjutkan saja bulan madunya, selamat bersenang-senang.” Dia tepuk bahu Diora sebagai salam perpisahan di tempat itu. Lalu berlalu pergi sebelum lukanya dilihat oleh sahabatnya.
George tak berpamitan, tak ada alasan juga mengapa dia harus berpamitan dengan Davis ataupun Diora. Ia langsung menyusul Gabby yang sudah berjalan menuju tempat parkir.
George mencekal tangan Gabby lagi setelah ia berhasil menyusul. Menyeret paksa wanita itu lagi untuk menuju tempat dimana motor sewaannya berada.
“Naik!” titah George menunjuk vespa kuning.
Gabby langsung naik, dia sedang malas berdebat dengan George yang akan berujung dengan pemaksaan jika dirinya tak menurut. Bukan di jok belakang ia duduk, tapi di depan.
“Mundur!”
“Tidak, berikan kuncinya, aku yang akan mengemudi.” Gabby menengadahkan tangannya ke hadapan George.
Sial! Kalah lagi!
George langsung duduk di depan sebelum Gabby berhasil merosot maju. Segera merogoh saku celananya untuk mengambil kunci, lalu memasukkan benda itu ke lubang kecil yang berada di motor.
Sebelum melajukan motornya, George nampak berselancar dengan ponselnya mencari jalan yang harus ia lalui untuk sampai ke tempat tujuannya.
Setelah menghafal rutenya, George menarik gas pertamanya dengan hati-hati agar tak menyendat dan menyebabkan seseorang di belakangnya terjatuh lagi.
“Ini bukan jalan kembali ke penginapan!” sentak Gabby ketika ia menyadari jalan yang kini dilalui berbeda dengan jalan ketika berangkat tadi.
“Siapa yang mengatakan kita akan ke penginapan?” timpal George.
“Turunkan aku! Aku ingin kembali ke penginapan!” protes Gabby.
“Tidak!” Nada suara George terdengar tegas tak ingin ada bantahan.
“Aku akan melompat dari sini jika kau tak memberhentikan motornya!” ancam Gabby.
George tak menanggapi ancaman itu, ia malah semakin kencang melajukan motornya hingga kecepatan seratus kilometer perjam. “Lompatlah jika kau berani,” tantangnya.
Gabby menimbang-nimbang untuk mengambil keputusan. Dengan kecepatan motor setinggi ini, kondisi jalanan yang kebetulan sedang sangat ramai, mobil box melaju sangat kencang. Jika dia melompat saat motor berada di tengah jalan seperti ini, maka kemungkinan ia akan tertabrak dan terseret kendaraan lain hingga akhirnya ia mati.
Tidak tidak, sesulit-sulitnya hidupku, aku bukanlah orang yang mudah menyerah dengan membunuh diriku sendiri.
Akhirnya Gabby memilih tetap diam di belakang. Entah mengapa ada sedikit rasa lega di hati George ketika ia berhasil mengurungkan niat Gabby yang ingin turun.