
George yang melihat Gabby kesal setelah melihat ponsel merasa penasaran. Ia melirik sekilas untuk melihat siapa yang menyebabkan mood wanita itu menjadi buruk. Dahinya mengkerut ketika melihat hanya nomor saja yang menelfon, tapi seakan Gabby tahu siapa dibalik penelfon itu.
“Siapa?” tanya George. Karena sangat penasaran, ia akhirnya bertanya.
“Bukan urusanmu! Bukankah kau sudah pernah mengatakan banyak bertanya akan membuat umurmu lebih pendek!” Kini Gabby mengembalikan kata-kata yang diucapkan George saat dirinya diculik paksa untuk ke Bali.
“Kau percaya dengan ucapanku itu?” George sedikit menggelengkan kepalanya, meremehkan Gabby.
“Untuk apa aku percaya pada ucapanmu? Tak ada yang bisa aku percaya dari setiap kata yang keluar dari mulutmu itu!” balas Gabby tak kalah meremehkan.
“Ada satu yang harus kau percaya.” George menatap lekat manik mata Gabby.
Gabby melipat kedua tangannya menunggu kalimat selanjutnya. “Apa?”
George tak menanggapinya, ia menengadahkan tangannya. “Berikan aku kunci motormu, kau akan tahu nanti.”
Gabby berdecak malas. “Turun saja dari motorku, aku sedang malas meladenimu. Tenagaku terlalu berharga!” Ia mengibaskan tangannya mengusir.
“Kejam sekali kau, setidaknya antarkan aku pulang. Apa kau tak lihat, jika aku sudah ditinggal oleh suami sahabatmu itu.” George mencoba mengiba.
Gabby memutar bola matanya malas. “Bukankah aku memang kejam? Apa kau lupa? Bagaimana aku mengusirmu dari apartemenku?” ujarnya menyombongkan diri. “Jika kau ingin pulang, naik taksi!” imbuhnya.
“Aku tak membawa dompet,” kilah George mencari alasan apapun.
Gabby memajukan tasnya, ia mengambil dompet dan mengeluarkan selembar uang. “Nih, tak perlu kau mengganti. Anggap saja aku sedang bersedekah.” Ia memberikan uang itu ke hadapan George.
Plak!
Pertemuan telapak tangan dengan pipi itu membuat semburat merah terpampang nyata di wajah tampan George.
“Kurang ajar, kau!” berang Gabby yang merasakan jari George sedikit menyenggol sesuatu di balik saku kemejanya.
“Aku hanya ingin mengembalikan uangmu, aku bukan pengemis,” elak George. Ingin ia mengelus pipinya yang terasa panas, namun ia urungkan. Ia harus terlihat lebih kuat dibandingkan Gabby. Untuk menakhlukkan wanita itu, George akan mencoba untuk menjadi pria pemaksa.
“Sudahlah, kau minggir! Aku sudah lelah.” Gabby ingin mendorong dengan tangannya, namun ia malas menggunakan kekerasan di tempat umum seperti saat ini.
George tak menanggapi, ia mengambil helm yang ada di tangki motor. Tanpa banyak kata, ia langsung memakaikan helm itu pada Gabby.
Membuat Gabby membulatkan matanya mendapatkan perlakuan seperti itu. Ini adalah kali pertama ada seseorang yang memakaikan helm untuknya. Harusnya romantis, tapi tidak dengan yang dirasakan Gabby. Wanita itu justru terkejut dan memundurkan kepalanya sehingga George yang hendak mengaitkan kancing helm itu hanya bisa memegang udara saja.
“Aku bisa sendiri,” tolak Gabby. Ia berusaha menetralisir detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak karuan. Ia pun mengaitkan helm fullfacenya sendiri.
“Naik,” pinta George menunjuk jok belakang yang kosong.
“Kau yang seharusnya turun,” tolak Gabby.
George turun dari motor, membuat Gabby tersenyum penuh kemenangan dari balik helm fullfacenya. Namun George tak beranjak pergi, ia justru mengangkat paksa tubuh Gabby dari depan. Ia kembali naik ke atas motor hingga posisi Gabby kini berada di atas tangki dan George berada di hadapannya. George tak mendudukkan Gabby di jok belakang, sebab ia tahu akal licik Gabby pasti akan langsung merosot ke depan sebelum George berhasil duduk.