
George tak ingin membalas perkataan Gabby. Sebab, ia tak memiliki alasan untuk mengelak.
Pria itu memilih untuk bangkit dan berdiri ke samping Gabby. Ia tarik tubuh wanita itu dengan kasar hingga hampir terjatuh karena Gabby belum siap.
“Pelan, dong! Sakit, tau!”
Tak perduli, George membawa tubuh Gabby ke ambang pintu. Segera membuka kayu di hadapannya dengan kasar.
“Keluar, kau!” Ia dorong Gabby hingga hampir tersungkur.
Brak!
Pintu langsung ditutup kembali dengan membantingnya oleh George.
Di luar ruangan, Gabby berteriak. “Jika ingin menyuruh keluar, tanpa menggunakan kekerasan juga bisa kali! Tinggal bilang pakai mulut! Dasar pria dingin, ringan tangan, bermulut sampah!” umpatnya menendang pintu.
Pintu kembali dibuka dari dalam. “Tasmu.” George melemparkan benda itu tepat mengenai wajah Gabby.
“Brengsek, kau!”
George tak mendengarnya, sebab pintu langsung ditutup kembali olehnya.
Gabby berjalan menuju kamar yang ia sewa dengan mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun, matanya mendelik kesal. Hentakan kakinya begitu memperlihatkan dirinya yang emosi.
Tangan wanita itu merogoh tasnya mencari kartu sakti yang bisa membuka pintu di hadapannya. Segera menempelkannya dan masuk ke dalam kamar.
Baru juga dirinya ingin membersihkan diri, sudah ada yang mengetuk pintu saja.
“Apa?” Dengan kesal Gabby menyapa setelah membuka pintunya.
Ternyata pegawai villa yang datang. “Nona, saya ingin mengingatkan bahwa waktu sewa anda sudah habis. Anda harus segera meninggalkan kamar ini, karena sudah ada orang lain yang menyewanya lagi.”
“Ya.”
Sungguh sial nasibnya, sepertinya ucapannya sungguh-sungguh langsung terkabul. Buktinya ia tak diberikan toleransi waktu. Dengan terpaksa, ia harus keluar kamar itu.
Gabby menyeret kopernya. Kondisinya masih acak-acakan seperti saat bangun tidur. Sudah seperti gembel saja dia.
Gabby mengetuk pintu dengan kencang. Menunggu si empunya membukanya.
Klek!
Pintu dibuka, memperlihatkan sesosok yang begitu tampan nan mempesona.
Tanpa basa basi, Gabby langsung mencekal pergelangan tangan orang itu yang tak lain adalah George. “Ikut aku ke resepsionis!” Ia seret paksa untuk mengikutinya.
“Lepas!” George menyentakkan tangannya hingga keduanya berhenti berjalan dan cekalan itu terlepas. “Tanpa kau lakukan itu, aku bisa berjalan sendiri.”
“Oh bagus! Jadi aku tak perlu mengotori tanganku dengan memegangmu!” Gabby menepukkan kedua telapak tangannya seolah sedang menghilangkan kotoran.
“Lagi pula untuk apa kau membawaku ke resepsionis?”
“Apa kau tak lihat?” Gabby menunjuk kopernya. “Aku diusir dari kamarku karena sewaku habis, gara-gara kau kemarin tak meninggalkan bukti pembayaran padaku, jadi aku harus memesan sendiri! Kau harus membayar sewanya, karena aku belum membayarnya!” terangnya panjang lebar. “Kau tak lupa memesankan kamar untukku, kan?”
“Oh, masalah sepele.” Meremehkan sekali George.
Gabby mendelik, sepele katanya? “Ayo cepat, selesaikan masalahnya sekarang kalau begitu!”
Masih dengan menyeret kopernya. Gabby dan George menuju lobby tempat resepsionis berada.
“Check-out atas nama Gabby Gabriella.” Gabby langsung mengutarakan maksudnya kepada resepsionis.
“Baik, tunggu sebentar.” Resepsionis itu terlihat bermain di depan komputer kerjanya. “Atas nama Gabby Gabriella, dua kamar belum dibayar, totalnya sepuluh juta rupiah.”
Gabby menyenggol tangan George dan memberi isyarat agar segera membayarnya.
Bukannya mengeluarkan lembaran uang rupiah, George malah menyodorkan kartu hitam. Executive blackcard, kartu yang bisa digunakan untuk transaksi apa saja di negara manapun.
Resepsionis itu menerimanya dan segera melakukan pembayaran.
“Loh, kok bisa bayar pakai kartu? Katanya cuma menerima uang rupiah,” kesal Gabby yang merasa dibohongi.
Resepsionis itu tersenyum ramah dan mencoba menjelaskan. “Kemarin, nona bertanya apakah bisa membayar menggunakan uang Euro? Bukan bertanya apakah bisa membayar menggunakan kartu debit atau kredit.”