
“Jangan hanya bisanya menyalahkan dan memberikan alibi, kau. Jika memang kau setia pada pernikahan ini, bagaimanapun keadaannya tak akan kau bermain di belakangku! Bahkan aku sebagai seorang artis saja menjaga nama baikku menghindari hal yang bisa mencoreng nama baikmu sebagai seorang pebisnis yang mungkin bisa berakibat pada bisnismu! Tapi kau dengan seenaknya bermain dengan wanita muda, bahkan hingga membuatnya hamil!”
Perdebatan terus berlangsung, dan George masih terus mematung di tempatnya untuk mendengarkan semuanya. Ternyata kehangatan yang ia dapatkan hanyalah kisah semu. Dibaliknya ada orang yang sedang terluka mencoba menutupi semua kenyataan yang ada. Senyum mengembangnya yang sejak dari Amerika selalu merekah, kini sirna sudah. Terganti dengan lelehan air mata yang lolos begitu saja tanpa seijinnya.
“Darimana kau tahu jika dia hamil?”
“Kenapa? Apa kau akan menghajar informanku hingga mati? Tak penting darimana aku tahu, yang pasti kau sudah menghamili wanita lain dan kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu itu! Aku memilih mundur dari kehidupanmu!”
“Tapi aku masih mencintaimu!”
“Persetan dengan cinta! Meskipun aku masih cinta denganmu, tapi penghianat tetaplah penghianat!”
“Semua ini juga ada campur tanganmu, kau juga salah! Kau tak pernah memberikanku kepuasan seorang pria!”
“Cih! Kau menyalahkan kesalahanmu itu padaku? Hei! Bahkan aku hanya melakukan syuting di Finlandia! Bukan di luar negeri! Sekalipun aku ke luar negeri, kau itu seorang pebisnis yang kekayaanmu tak akan habis hanya dengan pulang pergi menemuiku! Semua orang sudah tahu bahwa aku adalah istri dari seorang Giorgio, sekalipun kau datang ke lokasi syutingku dan hanya untuk meminta hal itu padaku pasti akan aku berikan! Dan tak akan ada orang lain yang mempermasalahkan! Tapi apa? Bahkan kau itu memilih tidur bersama cleaning servicemu itu! Aku pun tetap pulang meskipun sudah larut malam, tapi apa? Kau bahkan yang jarang di rumah ketika aku di rumah!”
“Pikirkan bagaimana perasaan George jika kita bercerai! Setidaknya kita harus bisa memberikan dia kehangatan seperti biasanya meskipun hanya berpura-pura.”
“George sudah besar, dia cukup pintar hanya untuk memahami situasi seperti ini! Aku akan membawanya setelah kita bercerai, setidaknya dia akan mendapatkan kasih sayangku. Bukan dari ibu tirinya nanti!”
“Tidak! Jika kau ingin bercerai denganku, maka hak asuh George tetaplah ditanganku! Jika kau masih ingin bersamanya, maka urungkan niatmu untuk bercerai denganku!”
“Tidak akan! Keputusanku sudah bulat, aku tak akan melanjutkan pernikahan kita! Aku akan menjelaskan semuanya pada George dan biarkan dia memilih ingin hidup bersama dengan aku atau kau!”
“Kau gila! Sama saja kau membunuh darah dagingmu sendiri!”
“Tapi aku tak mencintainya, dia hanyalah pelarianku saja!”
“Persetan dengan cinta! Kau seorang pria, sudah sepantasnya kau itu bertanggung jawab dengan perbuatanmu sendiri!”
“Lalu aku harus bagaimana? Bagaimana caraku untuk membuatmu yakin agar tetap tinggal dan kita memulai lembaran baru?”
“Tidak ada! Keputusanku sudah bulat!”
“Kenapa kau keras kepala sekali?”
“Ya! Memang aku keras kepala dan berambisi! Aku memang wanita seperti itu! Aku pergi! Aku akan mengurus semua berkas perceraian kita!”
Mama George beranjak dengan menyeret kopernya yang berisi pakaian diikuti dengan Papa George yang terus mempertahankan agar istrinya tak pergi meninggalkannya.
Pyar!
George tak sengaja menyenggol vas bunga. Membuat kedua orang tuanya berhenti dan melihat ke arahnya.
Orang tuanya mematung ketika melihat George di sana. Mereka diam dan saling berpandangan satu sama lainnya.