
Mobil itu terlihat sedikit bergoyang dari luar. Dua insan yang melakukannya di dalam sana. Melakukan apa? Entah, hanya mereka berdua yang tahu.
Dari jarak yang tak terlalu dekat, orang yang mengikuti George terlihat kebingungan. Apakah dia harus melaporkan pada tuannya jika ada sesuatu yang tak beres dengan mobil goyang itu?
“Tidak, aku akan babak belur nantinya. Jika di dalam mobil goyang itu sedang terjadi gencatan senjata laras panjang. Aku akan menjadi sasaran kemarahan tuan nantinya,” gumam salah satu pria berpakaian serba hitam. Ia menggelengkan kepalanya lalu kembali berfikir.
Apakah harus mendekat ke mobil dan menghentikan aksi panas yang sedang dibayangkan dalam pikirannya?
Pria itu menggelengkan kepalanya lagi. “Tidak, bahkan kami hampir ketahuan tadi, jika tak ada petugas kebersihan yang baru selesai lembur, sudah tertangkap basah oleh pria yang aku mata-matai.” Ia kembali memutar otaknya untuk memberikan laporan kepada tuannya.
“Aha! Aku manipulasi saja laporannya. Lagi pula, Tuan Marvel pasti tak akan tahu cerita yang sesungguhnya. Aku tak perlu mengatakan kejadian saat ini.” Senyum puas terbit di sudut bibir pria itu. Ia puas dengan pemikirannya yang sedikit berbohong demi keselamatan dirinya.
“Jack!” Pria itu memanggil temannya yang berada satu langkah di belakangnya.
“Hm?” sahut pria bernama Jack. Suaranya terdengar sangat pelan.
Pria bernama Mark itu memutar tubuhnya untuk melihat kawannya. Matanya membulat saat ia melihat Jack tengah fokus memegang ponsel dan mengarahkan pada mobil yang sekarang sudah tak goyang lagi itu.
“Apa yang kau lakukan Jack?” tanya Mark. Ia langsung mengambil paksa ponsel dari genggaman Jack.
“Video call dengan Tuan Marvel, tadi Tuan Marvel menanyakan apakah Nona Gabby bertemu dengan pria bernama George itu atau tidak, lalu aku menceritakan semua. Dan Tuan Marvel langsung menghubungiku ingin melihat secara langsung,” jelas Jack polos.
Mark ingin memaki Jack saat ini juga, namun diurungkan ketika namanya dipanggil.
Mark beralih melihat ke arah layar berukuran lima inch itu. Ia menelan salivanya ketika wajah Tuan Marvel sudah merah padam. Sepertinya sedang sangat emosi. “Ya, Tuan?” Ia menghela nafasnya sejenak untuk menutupi kegugupannya.
“Kenapa kau tak langsung melaporkan padaku? Kenapa harus menunggu aku bertanya terlebih dahulu? Apa kau ingin menutupi kejadian ini dariku?” sentak Marvel. Matanya sudah melotot seolah ingin keluar dari tempatnya.
“Tidak, Tuan,” elak Mark.
“Kemari sekarang juga!” titah Marvel tak ingin dibantah.
Mark mencoba berfikir secara cepat untuk menghindari amukan tuannya. “Tuan, jika kami ke sana, lalu siapa yang akan memantau pria itu?”
“Kalian, kemari! Dan fikirkan keselamatan serta nyawa kalian sendiri! Aku akan mengirim orang lain yang menggantikan kalian berdua!”
Tenggorokan Mark semakin kering, ia harus berkali-kali membasahinya dengan salivanya sendiri. Sedangkan Jack yang merasa dirinya tak salah, santai saja.
“Baik, Tuan.” Mark tak bisa mengelak lagi.
Panggilan itu pun sudah di putus sepihak oleh Marvel.
“Kau! Kenapa kau itu bodoh sekali! Apa kau tak berfikir terlebih dahulu sebelum memberikan laporan kepada Tuan Marvel? Kita akan habis pasti, hari ini,” berang Mark pada Jack. Ia menendang betis temannya itu karena kesal.
Jack mengaduh sakit, lalu berdecak sebentar. “Kita? Kau saja mungkin. Aku kan tak memiliki kesalahan pada Tuan Marvel. Lagi pula, aku juga memberikan laporan yang jujur dan tepat waktu,” sanggahnya.