
Mark mengusap wajahnya kasar. Mengapa ia harus memiliki partner kerja yang polos dan sedikit lemot berfikir, ditambah terlalu jujur. “Argh ....”
“Kenapa? Apa kau takut dan gugup untuk menghadapi Tuan Marvel?” Jack mencoba menenangkan Mark yang terlihat panik. “Tenang saja, pasti akan baik-baik saja. Kita tak melakukan kesalahan pada Tuan Marvel.”
Mark menggertakkan giginya, tatapan matanya marah. Ia ingin menelan hidup-hidup manusia di hadapannya. “Kau orang baru, kau tak tahu bagaimana Tuan Marvel!” Rambutnya menjadi tak beraturan setelah sepuluh jarinya mengacak-acaknya. “Entah mengapa Tuan Marvel memberikanmu pekerjaan!” Ia menghela nafasnya untuk menahan amarahnya agar tak melukai Jack yang belum pernah terjun untuk berkelahi. “Ayo, kita harus menemui Tuan Marvel,” ajaknya kemudian.
Jack bergeming, ia masih bingung. “Kita? Bukankah kau saja yang dipanggil?”
“Jack! Apa kau tak mendengar perkataan Tuan Marvel? Dia mengatakan kalian! Artinya kita berdua!” Mark berucap dengan penuh penekanan. Ia ingin Jack langsung paham dengan apa yang ia ucapkan, sehingga tak membuatnya naik darah. Meskipun sekarang ia sudah dibuat naik darah oleh Jack.
Jack dan Mark kembali ke mobil. Setelah orang suruhan Tuan Marvel datang menggantikan mereka. Mobil yang sempat dicurigai oleh George itu mulai meluncur ke kediaman sang tuan.
“Siapkan mentalmu!” nasihat Mark pada Jack.
“Untuk apa?” Jack masih bingung. Ia tak tahu mental seperti apa yang dimaksud.
“Kau orang baru, kau akan tahu nanti! Lain kali, diskusikan terlebih dahulu pada partner kerjamu yang sudah bekerja lama dengan Tuan Marvel. Jangan mengambil keputusan sepihak seperti tadi!” omel Mark.
...........
“Semua gara-gara, kau! Jika aku tak pernah bertemu dan berurusan denganmu, pasti hidupku tak akan sesial ini!” marah Gabby pada George.
“Apa kau masih belum puas menghajar wajah tampanku, sehingga kau mengomel dan menyalahkanku terus sedari tadi?” tanya George. Ini sudah satu jam sedari mereka masuk ke dalam mobil, mereka hanya mencari kunci yang memang tak ada di dalam sana. Sisanya, hanya berisi omelan, makian, dan serangan dari Gabby. George tak membalas semuanya, ia membiarkan Gabby menumpahkan rasa kesal yang dirasakan pada dirinya.
“Tentu saja, bahkan aku ingin sekali mengutukmu jadi batu agar aku bisa membuangmu ke dasar danau dan tak akan pernah melihatmu lagi!” kutuk Gabby. Bibirnya mengerucut yang terlihat menggemaskan di mata George.
George terkekeh. “Jika kau tak melihatku, aku yakin seratus persen. Pasti kau akan sangat merindukanku,” godanya. Lalu mendapatkan cubitan kecil di lengan.
“Cih! Mana sudi aku merindukanmu! Lagi pula untuk apa aku merindukan manusia yang paling aku benci di dunia ini,” elak Gabby.
“Benci? Benar-benar cinta maksudmu?” goda George menaik turunkan alisnya.
Pletak!
Sentilan keras dari jari Gabby melayang di kening George. “Kurasa, kau itu harus mengingat ucapanmu sendiri ketika di Bali. Bahwa kau tak ingin sampai aku jatuh cinta padamu! Aku ingat betul kau mengatakan itu ketika di pantai. Dan kau juga harus mengingat ucapanku saat itu, jika aku sangat membencimu!”
George melupakan hal itu, ia sungguh tak ingat pernah melarang Gabby untuk mencintainya. “Aku akan mencarikan kuncimu, menginaplah di apartemenku terlebih dahulu. Besok kita cari lagi,” ajaknya. Ia ingin menjelaskan kepada Gabby, mengapa dirinya mengatakan hal itu saat di Bali.