
Delapan bulan kemudian, sudah sembilan bulan lamanya Marvel menjalani rehabilitas. Marvel sudah bisa menjalani aktivias normal, namun masih harus dalam pemantauan. Karena namanya pecandu, bisa saja tergiur lagi untuk memakainya. Terapis pun sudah menyampaikan hal itu pada Gabby. Penyembuhan Marvel tergolong cepat, karena diperkirakan sampai satu tahun baru bisa menjalani kehidupan normal, tapi ternyata tekad Marvel begitu kuat.
“Terima kasih atas bantuannya,” ujar Marvel pada seluruh orang yang membantu penyembuhannya.
“Sama-sama. Ingat, perjuangan anda untuk putus obat bagaimana. Jangan sampai terjerumus lagi ke dalamnya,” ujar sang terapis.
Marvel mengangguk, ia tak akan mendekati barang itu lagi. Rasa sakit yang sudah ia lewati membuatnya berpikir dua kali jika akan menggunakan obat-obatan terlarang lagi. Lagi pula, ia sudah menemukan orang yang mau mendampinginya, yang mau menemaninya. Ia tak akan merasa kesepian lagi.
Marvel dan Gabby berpamitan, mereka mengendarai mobil Marvel yang digunakan untuk transportasi mereka setelah menyeberangi sungai.
Marvel terus menggenggam erat tangan Gabby. Ia sangat bahagia. Sesekali ia menengok ke arah wanita cantik di sampingnya yang semakin cantik ia lihat. Ia menebar senyumnya terus menerus.
“Perhatikan jalannya.” Gabby menunjuk ke depan. Ia begitu malu dilihat oleh Marvel seperti itu.
Marvel mengecup punggung tangan Gabby. “Aku sangat bahagia, akhirnya cintaku terbalaskan.”
Gabby menarik tangannya agar terlepas, dia tak biasa dengan perlakuan manis seperti itu.
“Kenapa di lepas? Apa kau tak suka ku genggam tangannya?” Ada perasaan kecewa yang menyelimuti hati Marvel.
“Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya tak terbiasa dengan suasana yang romantis dan manis.” Gabby mencoba meyakinkan Marvel.
Tangan Marvel terulur menyentuh pipi Gabby saat mobilnya berhenti di lampu merah. “Kau harus terbiasa, aku akan menghujanimu dengan perlakuan romantis dan manisku setiap hari. Kau tak bisa menarik ucapanmu lagi. Kau mengatakan akan menikah denganku setelah aku sembuh.”
Sepanjang perjalanan, Marvel tak pernah memudarkan senyumannya. Gabby pun demikian, ia juga ikut senang melihat Marvel. Ia akan terus mencoba membangun cintanya untuk Marvel. Meskipun di dalam hatinya masih ada rasa untuk George. Tapi ia lebih memilih mengikuti pikirannya—logikanya daripada hatinya.
Sesampainya di Helsinki, Marvel langsung mengantarkan Gabby ke apartemen. Mereka melihat pintu unit Gabby yang terlihat tak seperti ketika ditinggalkan.
“Sepertinya ada yang mendobrak apartemenku.” Gabby melihat ke arah Marvel meminta pembenaran.
“Ku rasa begitu.”
Takut ada benda berharga yang hilang, Gabby pun membuka pintu itu. Ia segera melihat seluruh ruangan. Sebelumnya, ia meminta Marvel untuk menunggunya di ruang tamu. Ia masuk ke dalam kamarnya. Mengedarkan pandangannya hingga ia melihat kotak ponsel yang belum sempat ia buka terakhir kali.
“Kenapa itu di luar? Perasaan, aku belum mengeluarkannya,” gumam Gabby.
Gabby pun mendekat ke meja dan mengambil kotak itu. Ia akhirnya membukanya. Pertama kali yang ia lihat adalah selembar kertas. Ia membacanya.
“Selamat ulang tahun, aku tak tahu apa yang kau inginkan. Maafkan aku baru mengembalikan ponsel dengan gantungan cincin yang membuatmu menyelam tanpa memikirkan keselamatanmu, aku sengaja memberimu sekarang sebagai hadiah ulang tahunmu. Sekaligus aku menepati janjiku yang akan membelikanmu ponsel. Semoga kau suka. George.”
Gabby mematung setelah membacanya. Perasaan apa ini? Baru saja ia menentukan pilihannya untuk hidup bersama dengan Marvel. Dibuat bingung lagi sekarang.
“Ku kira, kau tak mengetahui ulang tahunku. Dan aku baru membukanya sekarang, setelah aku memutuskan untuk menikah dengan Marvel,” gumamnya.
“Apa ada yang hilang?” Marvel masuk begitu saja ke dalam kamar Gabby.