Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 43



Semenjak kejadian di Desa Adat Penglipuran, Gabby selalu saja menghindari George yang masih penasaran dengan perkataan Gabby tentang ‘pria ingkar janji’ yang sempat dilontarkan oleh Gabby pada George.


Seperti saat ini, hari ini adalah hari terakhir mereka di Pulau Bali. Sebelum berangkat ke bandara, mereka melakukan sarapan bersama terlebih dahulu, termasuk Sophie yang dengan seenaknya mereka tinggalkan.


Diora, Davis, George, dan Sophie sudah duduk di meja makan restoran di dalam villa tempat mereka menginap. Tanpa Gabby, sebab wanita itu enggan keluar kamar yang pastinya akan bertemu dengan George.


Mereka sudah siap untuk menyantap hidangan laut yang begitu lezat tersaji di meja makan berukuran cukup besar itu.


“Tunggu.” Diora menghentikan tangan ketiga orang yang sudah melayang di udara siap mengambil makanan. “Gabby belum kesini, kita seharusnya makan bersama sebelum pulang,” imbuhnya.


Ketiganya pun bersamaan menarik tangan mereka dengan raut wajah masam.


“Aku akan memanggilnya.” George menawarkan dirinya sendiri.


Ketiganya mengangguk setuju.


George pun beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Gabby.


Tok ... tok ... tok ...


George mengetuk pintu menunggu sahutan dari dalam, namun yang ditunggu tak kunjung merespon. Ia pun mengetuk pintunya kembali. Tetap tak ada respon.


“Ku hitung sampai tiga, jika kau tak keluar juga, akan ku dobrak pintunya!” ancam George tak main-main.


“Satu ....”


“Dua ....”


“Tiga ....”


Brug!


Kedua mata mereka saling bertemu, sesaat tubuh mereka membeku dengan detak jantung yang memompa darah lebih cepat dari biasanya.


“Berat! Minggir!” Gabby mendorong tubuh George. Hingga pria itu berguling di samping Gabby.


Gabby langsung berdiri dan mengikat kembali tali bathrobe yang mengendur. “Sudah ku katakan untuk enyah dari kehidupanku, kau masih saja mengangguku!”


George berusaha menetralisir aliran aneh dalam tubuhnya sebelum ia menanggapi ucapan Gabby. “Aku hanya ingin memberitahu bahwa kau sudah ditunggu untuk sarapan,” ujarnya lalu langsung berdiri.


“Hanya masalah sepele seperti itu? Kau sampai berniat mendobrak pintu?” Gabby bergeleng kepala. “Tak waras!” hinanya. “Pergilah!” usirnya mengibaskan tangan.


George tetap diam tak bergerak. “Aku akan tetap disini sampai kau ikut denganku untuk makan bersama dengan yang lainnya.”


Gabby yang tengah mencari-cari pakaian gantinya menatap ke arah George. “Apa kau mau tetap di situ untuk melihatku berganti pakaian dan akan mengataiku wanita penggoda lagi jika milikmu menegang kembali?”


Gabby, wanita itu memang selalu mengingat hal buruk maupun ucapan buruk yang pernah dialami olehnya. Maka seluruh ucapan George yang menghinanya tak pernah satupun ia lupakan.


George baru sadar jika Gabby masih menggunakan bathrobe yang berarti wanita itu baru saja selesai mandi. Itulah sebabnya Gabby tidak merespon ketukan pintunya. Wanita di hadapannya memang sangat menggoda untuk disentuh, apa lagi ketika tubuh sintal itu tak tertutup pakaian tomboi.


George berdehem untuk menepis fikiran kotornya. “Segera ke resto, semua sudah menunggu.” Ia pun keluar kamar sebelum miliknya menegang.


Selepas kepergian George, Gabby langsung bersiap sekaligus merapikan kopernya.


Lima belas menit, akhirnya Gabby datang menghampiri rombongannya yang menatap tajam ke arahnya. Bukan semuanya yang menatap seperti itu, namun Davis dan George yang memberikan tatapan tajam untuk wanita yang sudah membuat mereka menunggu.


“Lebih dari tiga detik kalian menatapku, aku tak menanggung jika kalian akan jatuh cinta denganku!” kelakar Gabby ketika ia sudah sampai di meja nomor dua puluh enam.


Davis langsung membuang wajahnya menatap istrinya. “Cih! Lebih baik aku menatap istriku dan jatuh cinta dengannya.”


Sedangkan George, tanpa sadar masih menatap Gabby lebih dari tiga detik.